Protected by Copyscape

Tag Archives: profesionalisme

Hidup di kelipatan 3 bulan

Pepatah lama sering sekali kita dengar terlebih lagi hal ini sering dikumandangkan oleh orang orang MLM kalo bekerja di kantor adalah suatu kenyamanan dan menjadi pebisnis adalah kudu berani keluar dari kenyamanan. Hal itu mungkin benar adanya tapi tidak sepenuhnya, mungkin orang yang mengkumandangkan pertama kalinya suka membandingkannya antara pebisnis/ pengusaha dengan pegawai negeri hee…

Read more »

Life is not fair, get used to it

Itu salah satu kata kata om bill gates yang terkenal. Kalo saya sih secara surgawi gak percaya, karena hidup ini selalu menjaga balancenya/ keseimbangannya, buktinya abis malam ada siang, habis kenyang lapar lagi, dan berbagai macam contoh dualisme kehidupan yang lainnya.

Tapi kalo secara duniawi, kenyataannya memang yang kita lihat banyak terjadi secara terang terangan, dan ini pula yang saya dapatkan dari cerita teman. Teman ini mengeluh karena dia baru tahu kalo anak buahnya yang notabene orang baru yang masih dibawah depatemennya, gaji si anak ini lebih besar dari gajinya…., waahhh saya cukup kaget mendengarnya, lha kok bisa didunia expat yang menjunjung profesionalisme kok bisa bisanya kejadian kayak gitu? batin saya.

“lucu banget neh, gue yang ngawasin kerjanya die, dan beberapa departemen lain, eh ini anak bisa dapet segitu!”ujarnya. Pertama kali yang saya tanyakan adalah, darimana dia mendapat informasi valid seperti ini, dan ternyata memang informasi ini kemungkinan besar bisa dipercaya.

Akhirnya saya hanya menyarankan bahwa dia harus mulai mencari pekerjaan yang lain selain di perusahaan ini, karena bau bau politik sudah terasa, alias sebentar lagi dirinya akan kena korban PHK setelah kontrak abis, sambil menceritakan beberapa kejadian kejadian lain yang pernah terjadi sewaktu kita pernah bekerja di waktu sebelumnya, dan teman ini mengangguk mengerti. Cara dan trik politik kantor sudah pernah saya bahas sebelumnya disini.

Ditengah perjalanan cerita, sang teman banyak sekali mengeluhkan tentang kehidupan yang tidak adil seperti ini, semua bisa didasarkan oleh warna kulit, asal negara, kemampuan berbahasa lain selain inggris, dan banyak faktor lainnya. Ditengah tengah curhatnya yang cukup melelahkan untuk didengar akhirnya saya menyela dengan mengatakan kata seperti judul diatas “Hidup emang tidak adil, jadi biasakanlah” sang teman terhenti sejenak mendengar kata kata saya dan tetep aja ngelanjutin curhatnya (wadooohh).

Andaikata sang teman ini tidak larut dalam emosinya dan mendominaasi percakapan, saya ingin sekali menyadarkannya bahwa banyak sekali rekan seprofesi yang bekerja dalam posisi yang sama di tanah air harus rela bermacet macet ria, menghadapi kerasnya hidup di ibu kota, dipalak, kerja kudu berangkat 3 jam sebelumnya dan nyampai rumah 3 jam sesudahnya ditambah lagi kudu mendapatkan kurang dari setengah gajinya sekarang. Ditambah lagi masalah hidup yang lain seperti listrik mati, genteng bocor, mobil rusak kerendem banjir, ditelponin debt collector dan masih banyak yang lainnya.

Intinya kudu bersyukurlah. Kalo dia bisa berkata life is not fair, lha yang di tanah air juga bisa berkata seperti itu pula khan?