Tag Archives: expat info

Hidup di kelipatan 3 bulan

Pepatah lama sering sekali kita dengar terlebih lagi hal ini sering dikumandangkan oleh orang orang MLM kalo bekerja di kantor adalah suatu kenyamanan dan menjadi pebisnis adalah kudu berani keluar dari kenyamanan. Hal itu mungkin benar adanya tapi tidak sepenuhnya, mungkin orang yang mengkumandangkan pertama kalinya suka membandingkannya antara pebisnis/ pengusaha dengan pegawai negeri hee…

Read more »

Mengalah untuk menang (biar meneng?)

Pasti udah pernah denger pepatah ini khan? saya suka denger juga lirik lirik lagu cengeng yang mirip dengan pepatah diatas. Kalo dunia bisnis terus terang saya nggak tau apakah ini bagus, sedangkan di dunia pekerja agaknya ini malah bahaya menurut saya lho.

Saya ada cerita, sewaktu masih kuliah kami berempat berangkat ke singapura untuk melakukan management training. Satu wanita dan tiga laki laki. Sampai disana lumayan kaget juga dengan para senior yang galak galak dan bekerja dengan ritme yang cepat. Kayak di kejer hantu. Gak lagi rame tamu, sepi tamu pokoknya ritmenya cepet, kadang saya heran ini emang beneran sibuk atau sekedar jaim biar dikira sibuk.

Suatu ketika teman yang wanita ini melakukan kesalahan bersama teman barunya yang orang singapura dalam mengurus bill tamu. Seketika itu juga mereka berdua mendapat dampratan dari si supervisor, tapi respon yang didapat berbeda antara kedua wanita ini. Yang orang Singapura memberikan  argumen menyalahkan si teman kita ini sedangkan teman kita ini hanya tertunduk meneng (diam). Sewaktu curhat saya tanya kenapa nggak ngasi penjelasan waktu itu, dasar temen saya ini (maaf) jawa banget dia bilang “wes meneng waelah, ntar buntutnya malah tambah ribut, males aku.”

Setelah aksi meneng karena mengalah ini akhirnya bidang tugasnya jadi sedikit lebih ringan, dia ditugaskan dibelakang, mengurusi kebutuhan alat alat rstaurant. kayaknya emang lebih enak tapi kalo dilihat dari kacamata kompetensi, si wanita ini kelihatan sudah tidak kompeten, tersingkir dari persaingan.

Dua bulan berlalu, suatu ketika kami semua dihebohkan oleh berita bahwa teman kami itu diinterogasi oleh security hotel kami bekerja karena dituduh mencuri uang yang nilainya nggak masuk akal. 50 cent singapura saja! Yang melapor teman satu kamarnya yang orang Malaysia. Si cewek Malaysia ini emang terkenal belagu dan galak karena merupakan karyawan dan bukan trainee.

Teman kami tentunya tak mau mengakuinya, tapi setelah beberapa jam di tahan di kantor HR, akhirnya dia dibebaskan. kami pun menghampirinya dan menanyakan duduk permasalahannya. Lagi lagi dia tak tahan diinterogasi lama lama dan akhirnya mengakui yang bukan kesalahannya. Dia berujar “wes, males aku pada ribut ribut semua, biar cepet aja deh, aku iyain, lagian khan ilangnya cuman duit segitu.”

Gubrak! meneng – ngalah – meneng – ngalah, udah bisa diduga, akhirnya teman kami pun dipulangkan ke kampus dengan gelar tukang nyolong tak kurang dari  36 jam setelah kejadian itu. Para dosen sudah mengetahuinya dan menurut aturan yang berlaku setelah itu,  teman kita ini kudu dikeluarkan dari kampus karena memalukan nama  universitas.

Tapi dengan masukan dari kita sebagai teman temannya dalam menyelamatkan si teman cewek ini kepada dosen kami, akhirnya kampus mau membantu mencarikan tempat untuk training di dalam negeri dengan kompensasi waktu training yang telah terlewati harus di sambi dengan jam kuliah yang sebentar lagi akan dilaksanakan. Pagi kuliah, sore dari jam 3 sampai jam 11 malam training.

Meneng (diam) memang kadang mempercepat berhentinya masalah, tapi tidak dengan akibat kedepannya.

Berangkat Bojog mulih Lutung

lutungBeberapa bulan ini saya cukup heran jika melihat stat yang masuk banyak bermunculan keyword baru yang mengetik “tips suami ke luar negeri”, “jika suami ke luar negeri”, “kalo suami kerja ke luar negeri” dan alhasil semuanya nyasar ke blog saya.

Bisa dipastikan, ini pasti ulah para istri yang ingin mengantisipasi suami mereka jika mendapatkan kerja di luar negeri. Saya sangat bersyukur kalo banyak istri mendapat faedah dari tips pribadi yang pernah saya jalankan. Tapi mohon maaf pula jika pada akhirnya malah pertengkaranlah yang terjadi gara gara baca tips dari blog ini. Ya maap..heee

Kebetulan juga hari ini saya lagi berbincang dengan sesama teman seperantauan (sama sama dari Indonesia gitu) , sang teman ini mengeluh kan waktu gajian yang dirasa lama…heee..padahal dalam 1 bulan itu selalu berkisar antara 30 atau 31 hari. Gak pernah saya alami 1 bulan itu 40 hari misalnya.

Kenapa bokek? begitulah kira kira pertanyaan yang saya lontarkan waktu itu. Sang teman ini berkisah banyak pengeluaran yang harus di keluarkan, ke bar lah, cari wanitalah, dan lain lain

Oalaa gitu toh ceritanya, saya males komentar, cuman geleng geleng dan manggut manggut aja (habis geleng geleng trus manggut manggut gitu bukan geleng geleng sambil manggut). Ternyata bukan cuman 1 orang aja, tetapi teman Indonesia yang lain juga mengeluhkan hal yang sama. Ini hampir sama dengan cerita saya mengenai gaya hidup disini.

Secara teori, setiap orang yang bekerja di Luar Negeri pasti mendapatkan gaji yang lebih banyak, bisa bervariasi antara 1.5 – 3 kali (artinya 50% – 300% lebih tinggi) dari di dalam negeri dengan posisi yang sama, Kalo nggak ya mana mau pindah donk. Jika rata rata kalo di Indo gaji itu kurang dan harus pinjam ama credit card, misalnya nombokin 20% dari gaji setiap bulan untuk keperluan lainnya, berarti anda masih punya 30 sampai 270% yang bisa ditabung.

Itu teori bagaimana dengan kenyataannya? kenyataannya anda bisa nabung lebih dari itu. Kok bisa? ya jelas bisa, wong kalo anda menjadi expat anda gak pernah pusing bayar listrik walaupun tiap hari di kamar pake AC, bayar air, tidak ada bayar laundry, transport (tempat kerja – tempat akomodasi anda), makan, bahkan untuk sekelas manager biaya telpon aja di bayarin. Jadi boro boro mikirin genteng bocor, rumah dimakan rayap, mobil ditabrak bajaj, dll wong yang fundamental aja pada gratisan.

Jadi yang gak beres pasti pada teman saya ini, mengapa mendadak jadi menaikkan gaya hidup? biasanya nongkrong di monas bawa nasi rantang bersama keluarga biar gratisan sekarang nge bar atau ke karaoke lengkap dengan pendamping jam jam an, biasa ngopi tubruk di pojokan kantin perusahaan, sekarang nyetok wine mahal taruh di kulkas, dan segala kegiatan rancangan “kreatif” lainnya.

Saya teringat dengan teman seperjuangan dulu di Amrik waktu bujang, setelah 1 kontrak kami pulang ke Indo, sang teman ini gak bawa apa apa, bahkan sekedar oleh olehpun tidak. Semuanya uang habis untuk wanita dan maen judi.

Terbayang kata kata bapaknya sewaktu saya antar ke rumahnya, beliau melihat sang anak tak berubah sedikitpun. Jins tetap sama, baju sampai kacamata yang menggantung di kepala pun masih sama. Sang bapak berkata (dalam bahasa Bali) ” mimi…Berangkat Bojog mulih Lutung”. Saya pun ikut tertawa terbahak bahak.

Artinya adalah “oala…berangkat monyet pulang masih monyet juga” (lebih kurus malah)

Memperbaiki taraf hidup tanpa meninggalkan kebersamaan

Semakin lama kehidupan para pekerja semakin sulit. Tidak hanya di Indonesia tapi juga dibelahan dunia manapun. Jika pada mulanya kita sebagai pekerja profesional bisa memilih tempat pekerjaan yang kita inginkan, sekarang agaknya harus sedikit mengurangi atau memilih bekerja di manapun tanpa syarat.

Mendapatkan pekerjaan karena koneksi atau mempunyai kenalan yang bisa membantu dalam menentukan keputusan adalah sebuah berkah, tapi nyatanya kalo tidak punya juga bukan akhir sebuah dunia, seperti halnya saya yang rata rata harus melewati lebih dari 60 kali mengirim lamaran dan hanya 2 atau 3 yang merespon dan akhirnya satu yang nembus.

Jaman dulu dengan jaman sekarang namanya mencari pekerjaan tetap sama sama sulit, hanya saja saya perhatikan peluang itu untuk tahun tahun ini semakin sedikit. yang biasanya bisa 3-4 lowongan perhari sekarang mungkin hanya 1-2 per 3 hari. Itu saja sudah tidak dibatasi di daerah tertentu apalagi dibatasi daerah tertentu..walaah.contohnya begini kalo seandainya anda mencari lowongan sebagai chief accountant misalnya, anda buka job postingan malaysia,singapura atau kawasan asia dan hari itu anda mendapatkan 3 lowongan untuk di lamar, bisa di bayangkan kalo target daerahnya anda batasi misalnya hanya jakarta saja.Mungkin bisa saja hanya ada 1 lowongan per 3 harinya dan itupun yang melamar lebih dari 100 orang…heeee

Nah, banyak rekan rekan saya akhirnya yang bertanya,”Lah kalo gak dibatasi daerah lamarannya, trus umpamanya dapet kerja di China misalnya,trus keluarga mau dibawa kemana ?, apalagi keluarga tidak ditanggung, aku cuma dibayar perusahaan dengan single status.”

“Tapi khan,dapatnya 2 sampai 3 kali di Indo,masak mau nganggur terus. sayangkan.”kata saya waktu itu.

Ini sebenarnya dilema klasik dan banyak banget yang mempertanyakannya, sayangnya hanya sedikit yang menganalisisnya lebih dalam. Kendala yang banyak dikemukakan dari kedua belah pihak (pasutri) biasanya anak yang sedang sekolah, istri gak mau hidup pisah, godaan di negeri seberang (selingkuh), mertua gak beri ijin, orang tua yang lagi sakit sakitan, salah satu anggota keluarga yang malas ikut karena tempat tugas sang ayah didaerah terpencil, dan masih banyak lagi.

Sebenarnya pembahasan ini diperuntukkan oleh kalangan pekerja yang sudah berkeluarga karena memang masalah yang cukup kompleks diatas. Sebenarnya kalo mau jujur tanpa pake survey survey an, para pekerja kita saat ini banyak yang hidup berdampingan dengan hutang.Kalo ngomongin hutang KPR, itu sih sangat wajar, tapi kalo udah masuk wilayah hutang kartu kredit misalnya yang sampai punya 8 kartu dan bayarnya selalu minimum payment mulu. Nah itu tuh,mirip negara Amerika nantinya. Tinggal nunggu kata kata gini ke istri “Oh honey,I’m broke.”

Nah,jika kesempatan untuk bekerja di LN terbuka ada baiknya kalo menurut pendapat saya pribadi diambil saja dan jangan lupa usahakan keluarga di ajak juga,minimal anda dulu yang hijrah kesana.Jika 3 bulan sudah lulus probation,sambil cari cari info sewa rumah, sekolah atau kendaraan, nah boleh tuh keluarga diajak.

Banyak sekali yang karena keluarga tidak ditanggung perusahaan, hanya pekerja itu saja yang bekerja di negeri lain sedangkan istri dan anak anak ditinggal.alasannya,uang yang tidak cukup,tabungan nggak bisa lebih banyak,dan lainnya.

Saya mempunyai banyak sekali teman yang bekerja sendiri tanpa mengajak keluarga dan kalo mau tau kenyataannya 60% dari mereka menikmati kesendiriannya yang tidak sendiri. Loh? ya kalo itu saya gak usah jelaskan,yang baca pasti mengerti maksud saya. 40%nya benar benar merasa sendiri dan selalu mencari teman curhat sesama laki laki yang mengatakan tidak betah,kangen banget keluarga dan lain sebagainya.

Saran saya,coba kaji lagi berapa penghasilan yang didapat dan ongkos kalo harus membawa dan menyekolahkan anak di negeri seberang ini. Kebanyakan mereka sebenarnya mampu, hanya saja tiba tiba jadi kemaruk untuk menabung lebih banyak dan akhirnya melupakan pentingnya sebuah kebersamaan.Biar bagaimanapaun juga istri dan anak akan lebih memilih bersama daripada hidup terpisah.Disini saya menemui hampir 100% keluarga yang hijrah bersama menghabisakan rata rata tinggal lebih dari 5 tahun. Jauh lebih sedikit dari rata rata pekerja “single status” yang bekerja di luar negeri. Mereka rata rata menghabiskan waktu 1 sampai 2 tahun. Walau mereka sebenarnya “menikmati”, tapi orang rumah yang ada di Indo biasanya merasakan sebaliknya…heee.

Bahasa kita bisa di pakai dimana?

Senin pagi ini saya kedatangan staff baru yang akan membantu kelancaran operasional di hotel kami. Staff itu didatangkan dari jerman sebagai public relation untuk tamu tamu yang kebetulan memang kebanyakan berasal dari jerman tersebut.

Menjelang tutup tahun dan awal tahun baru untuk hotel yang tipikal resort memang selalu ramai walaupun dampak krisis global memang berimbas dari banyaknya cancellation dari negara asal. Tapi bagaimanapun juga jika demand lebih besar dari supply alias permintaan akan wisatawan lebih besar daripada banyaknya kamar hotel di tourism area  tersebut, maka dapat di pastikan krisis global sama sekali tidak mempengaruhi.

Read more »

TKI, tenaga kerja Indonesia. Expat, apaan donk?

Sebenarnya semua warga negara Indonesia yang bekerja di luar negeri bisa di kategorikan TKI ato tenaga kerja Indonesia la wong secara arti harafiahnya aja udah jelas kok, yang ngerti bahasa Indonesia ya sudah pasti jelas banget apa artinya.

Tapi yang bikin status jadi lebih keren dengan sebutan expat itu siapa sih?

Read more »

Expat life. Mau?

Industry pariwisata di belahan dunia ini terus berkembang pesat. Kalo kita masih menggunakan kaca mata di Indonesia aja tentunya akan stress sendiri melihat kok munculnya hotel hotel baru kayaknya tidak seperti yang diharapkan. Baru satu hotel buka, 1 posisi aja, bisa yang nglamar ratusan CV di meja HRD belum yang dari email.

Kita seringkali bersaing terlalu keras di dalam negeri padahal banyak negara lain yang sangat membutuhkan tenaga tenaga manajer profesional dari Indonesia yang dimana mereka bisa menghargai kita lebih dari di dalam negeri tentunya (kalo nggak ya mana mau pindah). Tapi terlepas dari disadari ato tidak oleh hotelier  hotelier kita, mari kita pikir apakah proses hijrahnya seorang pekerja dari negara asal ke negara lain adalah proses alamiah dari sesaknya persaingan dan kurangnya lahan di dalam negeri mereka sendiri?

Read more »