<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Boyindra&#039;s Weblog &#187; education</title>
	<atom:link href="http://boyindra.com/tag/education/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://boyindra.com</link>
	<description>Altruistic</description>
	<lastBuildDate>Wed, 16 May 2012 02:28:41 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Encouragement</title>
		<link>http://boyindra.com/2011/01/19/encouragement/</link>
		<comments>http://boyindra.com/2011/01/19/encouragement/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Jan 2011 02:18:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Boyin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Human Resources]]></category>
		<category><![CDATA[internet]]></category>
		<category><![CDATA[education]]></category>
		<category><![CDATA[encouragement]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://boyindra.com/?p=1038</guid>
		<description><![CDATA[<a href="http://boyindra.com/2011/01/19/encouragement/" title="Encouragement"></a>Saking sukanya sama tulisan ini di internet, sampai ingin menyebarkannya juga, sapa tau yang punya anak akan mendapat pelajaran dari pak Renald ini. Selamat membaca. Encouragement (Artikel inspiritaif ini ditulis oleh Rhenald Kasali*. Semoga bermanfaat) LIMA belas tahun lalu saya &#8230;<p class="read-more"><a href="http://boyindra.com/2011/01/19/encouragement/">Read more &#187;</a></p>
No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<a href="http://boyindra.com/2011/01/19/encouragement/" title="Encouragement"></a><p><img src="file:///C:/DOCUME%7E1/INDRAJ%7E1.NAG/LOCALS%7E1/Temp/moz-screenshot.png" alt="" /><img src="file:///C:/DOCUME%7E1/INDRAJ%7E1.NAG/LOCALS%7E1/Temp/moz-screenshot-1.png" alt="" /><a href="http://boyindra.com/wp-content/uploads/2011/01/encourage1.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-1055" title="encourage1" src="http://boyindra.com/wp-content/uploads/2011/01/encourage1-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a>Saking sukanya sama tulisan ini di internet, sampai ingin menyebarkannya juga, sapa tau yang punya anak akan mendapat pelajaran dari pak Renald ini. Selamat membaca.</p>
<p><strong>Encouragement</strong></p>
<p>(Artikel inspiritaif ini ditulis oleh Rhenald Kasali*. Semoga bermanfaat)</p>
<p>LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat.</p>
<p>Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa. Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana.</p>
<p>Saya memintanya memperbaiki kembali,sampai dia menyerah.Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberi nilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri. Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?” “Dari Indonesia,” jawab saya. Dia pun tersenyum.</p>
<p><span id="more-1038"></span></p>
<p><strong>Budaya Menghukum</strong></p>
<p>Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat. “Saya mengerti,” jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu.<br />
“Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anakanaknya dididik di sini,” lanjutnya. “Di negeri Anda, guru sangat sulit memberi nilai. Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement!” Dia pun melanjutkan argumentasinya.</p>
<p>“Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbedabeda. Namun untuk anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya.</p>
<p>Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita.Saya teringat betapa mudahnya saya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai “A”, dari program master hingga doktor.</p>
<p>Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam. Saat ujian program doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah.</p>
<p>Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap. Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat. Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya.</p>
<p>Mereka menunjukkan grafikgrafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti. Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan. Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut “menelan” mahasiswanya yang duduk di bangku ujian.</p>
<p>Ketika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakanakan kebaikan itu ada udang di balik batunya. Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi. Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement. Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan.Ada semacam balas dendam dan kecurigaan.</p>
<p>Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak. Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya.</p>
<p>“Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan. Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.</p>
<p>Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut. “Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti.</p>
<p>Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif. Dia pernah protes saat menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna), tetapi saya mengatakan “gurunya salah”. Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda.</p>
<p><strong>Melahirkan Kehebatan</strong></p>
<p>Bisakah kita mencetak orang-orang hebat dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut?</p>
<p>Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru,sundutan rokok, dan seterusnya. Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas&#8230;; Kalau,&#8230;; Nanti,&#8230;; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.</p>
<p>Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun di lain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat. Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya,dapat tumbuh.Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya. Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh.</p>
<p>Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh. Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan.<br />
Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti.</p>
<p><strong>*) Rhenald Kasali, Ketua Program MM UI</strong></p>
<p>*Image dari istock photo<strong><br />
</strong></p>
<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://boyindra.com/2011/01/19/encouragement/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>33</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Budaya melayani dan menghormati</title>
		<link>http://boyindra.com/2009/05/05/budaya-melayani-dan-menghormati/</link>
		<comments>http://boyindra.com/2009/05/05/budaya-melayani-dan-menghormati/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 May 2009 01:25:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Boyin</dc:creator>
				<category><![CDATA[chit chat]]></category>
		<category><![CDATA[kamboja]]></category>
		<category><![CDATA[marketing]]></category>
		<category><![CDATA[education]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://boyindra.com/?p=519</guid>
		<description><![CDATA[<a href="http://boyindra.com/2009/05/05/budaya-melayani-dan-menghormati/" title="Budaya melayani dan menghormati"></a>Setiap pagi biasanya saya selalu bangun pukul 6, karena hanya di pagi hari lah saya bisa menghirup udara yang segar terutama karena kebetulan kami menyewa rumah di pinggir jalan besar. Kalo telat dikit sampai jam 7.30 sudah pemandangan kendaraan roda &#8230;<p class="read-more"><a href="http://boyindra.com/2009/05/05/budaya-melayani-dan-menghormati/">Read more &#187;</a></p>
No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<a href="http://boyindra.com/2009/05/05/budaya-melayani-dan-menghormati/" title="Budaya melayani dan menghormati"></a><p><img class="alignleft size-medium wp-image-532" title="ronaldnamaste" src="http://boyindra.com/wp-content/uploads/2009/05/ronaldnamaste-99x300.jpg" alt="ronaldnamaste" width="99" height="300" />Setiap pagi biasanya saya selalu bangun pukul 6, karena hanya di pagi hari lah saya bisa menghirup udara yang segar terutama karena kebetulan kami menyewa rumah di pinggir jalan besar. Kalo telat dikit sampai jam 7.30 sudah pemandangan kendaraan roda empat yang macet kanan dan kiri jalan akan memenuhi pemandangan dari depan rumah.  Maklum office hours disini adalah jam 8 bukan seperti di Indonesia yang jam 9.</p>
<p>Ada pemandangan menarik yang selalu saya jumpai setiap pagi sekitar pukul 6.30, dimana terlihat pemandangan beberapa guru sekolah yang  persis di seberang rumah saya  sudah mulai berdiri di depan pagar sekolah dengan rapih.</p>
<p>Pertama kali saya melihat, saya cuma heran. &#8220;ngapain itu para guru pada di depan pagar sekolah SD beramai ramai gitu?&#8221; Berhubung saya sudah satu tahunan kerja di Vietnam sehingga saya nggak ngerti kebiasaan yang terjadi disini. Lalu saya tanya istri saya dan dia bilang itu memang tradisi sekolah SD disini, bahwa para guru memang harus berdiri di depan pagar sekolah untuk menantikan para murid untuk memberikan pelayanan menurunkan si anak dari boncengan motor yang diantar orang tua atau menghampiri dan mengantar ke kelas setelah mobil dibukakan oleh satpam, jika si anak naik mobil.</p>
<p>&#8220;o, gitu yah?&#8221; saya cuman manggut manggut dan saya tanyakan lagi, apa memang begitu banyak sekolah di Phnom Penh ini sehingga harus memberikan pelayanan seperti itu sebagai bentuk kompetisi? ternyata tidak.</p>
<p><img class="alignleft size-full wp-image-534" title="sekolah" src="http://boyindra.com/wp-content/uploads/2009/05/sekolah.jpg" alt="sekolah" width="500" height="375" /></p>
<p>Kebiasaan tersebut memang terjadi di seluruh TK dan SD di seluruh Phnom Penh atau Kamboja pada umumnya dan sebagai balasannya si murid pun otomatis membalasnya dengan salam<strong> &#8220;Sompeah&#8221;</strong> sambil mengucapkan <strong>&#8220;chum reap sour&#8221;</strong> (baca: cumripsu) yaitu mencakupkan tangan di dada atau sama dengan tangan dalam  posisi menyembah sebatas dada. Di Thailand salam ini yang biasa dinamakan <strong>&#8220;Sawasdee,ka&#8221;</strong> digunakan di semua kalangan baik muda ataupun tua. Di India dinamakan <strong>&#8220;Namaste&#8221;, </strong>di Bali juga tradisi ini yang sering disertai ucapan <strong>&#8220;Om Swastyastu&#8221;</strong> biasanya di gunakan bila ada perayaan upacara adat sebagai bentuk penghormatan dan selamat datang. Di Betawi mungkin bukan dengan cara sompeah tapi dengan menempelkan jari tangan orang tua ke kening si anak.</p>
<p>Saya berpikir jika tradisi melayani dan saling menghormati ini di tanamkan sejak kecil maka besar kemungkinan hal ini bisa di jadikan pondasi untuk masa depannya kelak agar selalu mempunyai budi pekerti yang baik dalam menghormati sesama manusia. Buat saya tradisi ini sangat menyenangkan untuk dilihat.</p>
<p>Akhirnya pada kesempatan mengantar sekolah si kecil, saya juga menjumpai budaya yang sama, guru guru menunggu di depan pagar. Hanya berhubung international school yang dimana banyak anak anak sekolah serta gurunya pun berbeda bangsa dan kultur, maka kebiasaan sompeah ini tidak ada, hanya salam ala bule aja seperti &#8220;Good morning&#8221; oleh sang guru dan si anak pun membalas hal yang sama.</p>
<p>Bagaimana dengan TK dan SD di Indonesia? Jika di terapkan, kayaknya bisa menjadi pemandangan menarik untuk di lihat tuh, tentunya diselaraskan dengan kebiasaan adat setempat.</p>
<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://boyindra.com/2009/05/05/budaya-melayani-dan-menghormati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>29</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Antara premanisme, lapangan kerja dan bahasa inggris.</title>
		<link>http://boyindra.com/2008/11/17/antara-premanisme-lapangan-kerja-dan-bahasa-inggris/</link>
		<comments>http://boyindra.com/2008/11/17/antara-premanisme-lapangan-kerja-dan-bahasa-inggris/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Nov 2008 01:16:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Boyin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Human Resources]]></category>
		<category><![CDATA[education]]></category>
		<category><![CDATA[ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[jobs]]></category>
		<category><![CDATA[premanisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://boyindra.com/?p=188</guid>
		<description><![CDATA[<a href="http://boyindra.com/2008/11/17/antara-premanisme-lapangan-kerja-dan-bahasa-inggris/" title="Antara premanisme, lapangan kerja dan bahasa inggris."></a>Minggu kemarin semakin marak diberitakan di koran mengenai giat giatnya aparat polisi kita dalam memberantas para preman di seluruh Indonesia khususnya di Jakarta. Ribuan preman ditangkap dan ratusan orang yang sudah terproses hukum. Terobosan ini tentunya sedikit menggembirakan bagi kita &#8230;<p class="read-more"><a href="http://boyindra.com/2008/11/17/antara-premanisme-lapangan-kerja-dan-bahasa-inggris/">Read more &#187;</a></p>
No related posts.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<a href="http://boyindra.com/2008/11/17/antara-premanisme-lapangan-kerja-dan-bahasa-inggris/" title="Antara premanisme, lapangan kerja dan bahasa inggris."></a><p><a href="http://boyindra.com/wp-content/uploads/2008/11/preman.jpeg"><img class="alignleft size-full wp-image-192" title="preman" src="http://boyindra.com/wp-content/uploads/2008/11/preman.jpeg" alt="" width="115" height="150" /></a>Minggu kemarin semakin marak diberitakan di koran mengenai giat giatnya aparat polisi kita dalam memberantas para preman di seluruh Indonesia khususnya di Jakarta. Ribuan preman ditangkap dan ratusan orang yang sudah terproses hukum. Terobosan ini tentunya sedikit menggembirakan bagi kita terutama untuk masyarakat yang sering bersinggungan setiap hari dengan para preman ini walaupun banyak pula yang berkomentar miring terhadap gebrakan yang dilakukan institusi kepolisian, apakah akan terus konsisten atau sementara saja.</p>
<p><span id="more-188"></span></p>
<p>Minggu pagi ini di <a href="http://www.kompas.com/">kompas</a> ada sebuah paparan menarik di kemukakan oleh seorang psikolog dari Universitas Medan Area bahwa premanisme dan kejahatan jalanan merupakan problematika sosial yang berawal dari sikap mental masyarakat yang kurang siap menerima pekerjaan yang dianggap kurang bergengsi. Sebenarnya peluang kerja itu cukup banyak, tetapi kurang diminati karena dianggap kurang terhormat. ungkap psikolog yang juga dosen tersebut. Ia mencontohkan pekerjaan menggali parit atau sebagai petugas kebersihan jalanan yang secara normatif dianggap halal, tetapi dinilai rendahan.</p>
<p>Pikiran awam saya mulai bermain membaca paparan tersebut dan walau hati kecil saya sebenarnya mengiyakan penyataan sang psikolog ini, entah mengapa pikiran saya melambung jauh dengan mengkaitkan latar belakang kita di jajah oleh Belanda yang tidak mewariskan apa apa meskipun hanya Bahasa sekalipun, serta juga didasari oleh mekanisme hijrahnya suatu bangsa ke negara lain salah satunya di karenakan <a href="http://boyindra.com/2008/10/10/expat-life-mau/">ketatnya persaingan di negara sendiri.</a></p>
<p>Singapura dan Malaysia adalah contoh bangsa yang di jajah inggris dan seperti yang kita temui dan saya rasakan sendiri dengan warisan bahasa inggris dari negara inggris tersebut, banyak dari mereka menguasai sektor sektor pekerjaan di negara negara yang belum semaju mereka seperti Thailand,Vietnam, kamboja, dan laos. Kalau untuk kelas menengah banyak <a href="http://boyindra.com/2008/11/04/belajar-dari-philipino/">di kuasai philipino</a> dan sedikit dari kita.</p>
<p>Bagaimana dengan kualitas pekerjaan? Ah kalau soal itu, bangsa kita gak kalah kok. 10 tahun yang lalu saya sempet sedih dan kesal sewaktu bergabung dengan perusahaan kapal pesiar di Amerika sana yang dimana kita bangsa Indonesia banyak yang menjadi staff level terbawah, sedangkan orang kulit hitam dari jamaica, Trinidad dan negara latin lainnya mendapatkan jabatan yang lumayan bergaji ribuan dollar tetapi parahnya banyak diantara mereka yang tidak bisa baca tulis! Ini bukan karangan tetapi kenyataan yang menyakitkan dan jangan tanya saya bagaimana mereka mengerjakan pekerjaan mereka karena akan panjang ceritanya. Walaupun Bill Gates pernah mengatakan &#8220;Life is not fair, get used to it&#8221; atau &#8220;hidup ini tidak adil jadi biasakanlah&#8221; tapi kalo kondisinya kayak gitu orang gak bisa baca tulis dengan yang 4 tahun sekolah di perhotelan. C&#8217;mon please deh om Bill!!</p>
<p>Sementara di  Vietnam sini mengingatkan saya akan jaman Pak Harto belasan tahun yang lalu yang dimana semua istilah inggris di Indonesiakan. Anda tentu masih ingat sampai semua serial TV dari luar negeri di dubbing sampai istilah ATM saja di indonesiakan, walau sekarang masih, tetapi tidak separah disini (di Vietnam). Walau secara pribadi saya kurang suka mendengar orang suka campur campur bahasa antara inggris dengan indonesia tetapi obyektifitas pikiran saya mengatakan &#8221; kalo gak terus dilatih bahasanya cepat lupanya dong?&#8221;</p>
<p>Mengharapkan pemerintah sekarang ini agar menggalakkan bahasa inggris sebagai bahasa kedua dengan memberikan banyak kursus kursus inggris gratis agaknya terlalu jauh dari angan.</p>
<p>Kita yang seharusnya mengejar ketertinggalan tersebut karena lahan itu sekarang sudah mulai banyak yang memperebutkan, seperti orang orang afrika yang saya jumpai mulai cukup banyak yang hijrah ke negara negara ASEAN hanya dengan kemampuan bahasa inggris saja. Mereka menyasar sektor sektor factory/pabrik, bergabung dengan organisasi organisasi nirlaba internasional (NGO) hingga sekedar assistant teacher di TK international school.</p>
<p>Ngomong ngomong soal orang hitam itu, saya sering menemui mereka mulai jam 9 malam dan sekitar 30-an orang mereka berkumpul di salah satu bar dan minum minum disana. Kalau hanya minum saja sih saya tidak begitu memperdulikan tetapi kelakuan mereka yang semakin malam bak preman itulah yang merusak citra mereka sendiri. Kadang salah satu dari mereka harus merasakan kepala bocor karena dikeroyok dan di pentung kayu oleh masyarakat setempat dan dikejar kejar sampai ujung gang.</p>
<p>Se preman premannya bangsa kita, saya yakin kalo di beri kesempatan bekerja di luar negeri mereka males jadi preman lagi. Kayaknya bukan budaya kita menjadi preman di negeri orang.</p>
<p>No related posts.</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://boyindra.com/2008/11/17/antara-premanisme-lapangan-kerja-dan-bahasa-inggris/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

