Tag Archives: education

Encouragement

Saking sukanya sama tulisan ini di internet, sampai ingin menyebarkannya juga, sapa tau yang punya anak akan mendapat pelajaran dari pak Renald ini. Selamat membaca.

Encouragement

(Artikel inspiritaif ini ditulis oleh Rhenald Kasali*. Semoga bermanfaat)

LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat.

Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa. Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana.

Saya memintanya memperbaiki kembali,sampai dia menyerah.Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberi nilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri. Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?” “Dari Indonesia,” jawab saya. Dia pun tersenyum.

Read more »

Budaya melayani dan menghormati

ronaldnamasteSetiap pagi biasanya saya selalu bangun pukul 6, karena hanya di pagi hari lah saya bisa menghirup udara yang segar terutama karena kebetulan kami menyewa rumah di pinggir jalan besar. Kalo telat dikit sampai jam 7.30 sudah pemandangan kendaraan roda empat yang macet kanan dan kiri jalan akan memenuhi pemandangan dari depan rumah. Maklum office hours disini adalah jam 8 bukan seperti di Indonesia yang jam 9.

Ada pemandangan menarik yang selalu saya jumpai setiap pagi sekitar pukul 6.30, dimana terlihat pemandangan beberapa guru sekolah yang persis di seberang rumah saya sudah mulai berdiri di depan pagar sekolah dengan rapih.

Pertama kali saya melihat, saya cuma heran. “ngapain itu para guru pada di depan pagar sekolah SD beramai ramai gitu?” Berhubung saya sudah satu tahunan kerja di Vietnam sehingga saya nggak ngerti kebiasaan yang terjadi disini. Lalu saya tanya istri saya dan dia bilang itu memang tradisi sekolah SD disini, bahwa para guru memang harus berdiri di depan pagar sekolah untuk menantikan para murid untuk memberikan pelayanan menurunkan si anak dari boncengan motor yang diantar orang tua atau menghampiri dan mengantar ke kelas setelah mobil dibukakan oleh satpam, jika si anak naik mobil.

“o, gitu yah?” saya cuman manggut manggut dan saya tanyakan lagi, apa memang begitu banyak sekolah di Phnom Penh ini sehingga harus memberikan pelayanan seperti itu sebagai bentuk kompetisi? ternyata tidak.

sekolah

Kebiasaan tersebut memang terjadi di seluruh TK dan SD di seluruh Phnom Penh atau Kamboja pada umumnya dan sebagai balasannya si murid pun otomatis membalasnya dengan salam “Sompeah” sambil mengucapkan “chum reap sour” (baca: cumripsu) yaitu mencakupkan tangan di dada atau sama dengan tangan dalam posisi menyembah sebatas dada. Di Thailand salam ini yang biasa dinamakan “Sawasdee,ka” digunakan di semua kalangan baik muda ataupun tua. Di India dinamakan “Namaste”, di Bali juga tradisi ini yang sering disertai ucapan “Om Swastyastu” biasanya di gunakan bila ada perayaan upacara adat sebagai bentuk penghormatan dan selamat datang. Di Betawi mungkin bukan dengan cara sompeah tapi dengan menempelkan jari tangan orang tua ke kening si anak.

Saya berpikir jika tradisi melayani dan saling menghormati ini di tanamkan sejak kecil maka besar kemungkinan hal ini bisa di jadikan pondasi untuk masa depannya kelak agar selalu mempunyai budi pekerti yang baik dalam menghormati sesama manusia. Buat saya tradisi ini sangat menyenangkan untuk dilihat.

Akhirnya pada kesempatan mengantar sekolah si kecil, saya juga menjumpai budaya yang sama, guru guru menunggu di depan pagar. Hanya berhubung international school yang dimana banyak anak anak sekolah serta gurunya pun berbeda bangsa dan kultur, maka kebiasaan sompeah ini tidak ada, hanya salam ala bule aja seperti “Good morning” oleh sang guru dan si anak pun membalas hal yang sama.

Bagaimana dengan TK dan SD di Indonesia? Jika di terapkan, kayaknya bisa menjadi pemandangan menarik untuk di lihat tuh, tentunya diselaraskan dengan kebiasaan adat setempat.

Antara premanisme, lapangan kerja dan bahasa inggris.

Minggu kemarin semakin marak diberitakan di koran mengenai giat giatnya aparat polisi kita dalam memberantas para preman di seluruh Indonesia khususnya di Jakarta. Ribuan preman ditangkap dan ratusan orang yang sudah terproses hukum. Terobosan ini tentunya sedikit menggembirakan bagi kita terutama untuk masyarakat yang sering bersinggungan setiap hari dengan para preman ini walaupun banyak pula yang berkomentar miring terhadap gebrakan yang dilakukan institusi kepolisian, apakah akan terus konsisten atau sementara saja.

Read more »