Shrinking Vacation Syndrome

Kalo udah tau yang namanya akan liburan udah pasti gejala gejala psikologis akan nampak heee..ini kalo saya lho yah…soalnya minggu depan saya akan libur panjang pulang kampung halaman menengok bapak, ibu, paman, bibi, kakek, saudara misan, sepupu, dan teman teman sekerja dulu. Oya gejala psikologisnya tentunya, kerja jadi semangat, berasa seperti abis promosi jabatan, badan berasa seger, bibir senyum senyum mulu padahal kenyataannya compi dan BB kudu dibawa untuk memonitor kerjaan yang jalan terus. Tapi gak papa, yang penting judulnya, LIBUR.

Banyak yang malah pusing mau liburan, barang yang akan dibawa bisa jadi alasannya. buat yang bekerja di LN, oleh oleh bisa menjadi hal yang memusingkan, karena harus disingkronkan antara bentuk oleh olehnya dengan budget pengeluarannya ditambah pula beratnya koper yang akan dibawa.

Di Amerika sono krisis keuangan yang mengakibatkan bengkaknya angka pengangguran menyebabkan liburan menjadi sebuah sindrom yang disebut Shrinking Vacation Syndrome. Yang dulunya liburnya ke belahan dunia lain tanpa mikirin kerjaan, sekarang malah liburan tapi kerja jalan terus, malah ada yang gak bisa libur sama sekali ada pula dapat libur tapi bingung mau pergi kemana karena semuanya menjadi tidak terjangkau oleh kocek.

Beruntung kita di Indo apalagi yang masih punya kampung halaman, se resesi apapun keuangan kita, kalo bisa pulang kampung dan berkumpul bersama keluarga dan teman lama akan berasa nikmatnya. Makan ikan teri ama nasi panas aja langsung kita post di wall FB apalagi lengkap dengan krupuk dan sambalnya, intinya asal bisa kumpul dan melepaskan diri sejenak dari tekanan dunia kerja sudah membuat kita bahagia, sehingga sewaktu pulang kerja kembali, kita bisa merencanakan liburan kedepan dengan lebih baik lagi seperti menyiapkan tabungan khusus dari sisihan rejeki kita tiap bulan di negeri seberang.

Jadi liburan akhir tahun ini pada mau kemana nih?

Pajak oleh oleh dari LN

Perhatikan komen komen yang saya dapat mengenai kebijakan baru untuk tahun 2011 mengenai pajak yang dikenakan oleh bea cukai untuk barang oleh oleh dari Luar negeri, kalo pajak dari perorangan tidak lebih dari US$250 dan kalo barang bawaan keluarga US$1000,

“setuju, pak….. itu kalau Pak Menterinya orang pintar dan kreatif, pak….. Ini kan menteri asal kejar target penerimaan……. wajar keputusannyapun serba aneh…. mungkin Indoensia satu-satunya negara yang menerapkannya……..”

“negara pemeras,pejabat rampok…”

“Alhamdulilah, dengan adanya aturan ini uang masuk bagi petugas BC, Satpam bandara bahkan cleaning service yang akan jadi calo utk ngurus biar bisa bebas BM. Yah setidaknya uang yg sudah dikeluarkan utk sogok jadi pegawai BC, Satpam bandara bisa kembali deh.”

“Dasar otak udang ada di dengkul dan kemungkinan besar letaknya di bokong. Makanya gak aneh investor asing cabut dari indo karena banyak praturan yg gak masuk diakal. Bea cukai beraninya cuma ama rakyat kecil (average income family). Apa berani kenain bea masuk terhadap pejabat, conglomerate, billionaires? Mereka ini kalo shopping diluar negri bisa sampe ratusan ribu bahkan jutaan dollar tapi gak kena bea masuk. System bea masuk ude ada sejak dulu cuma skarang aje baru bergaung? yeah right!!! Bukannya tingkatkan keamanan di pelabuhan laut/udara tapi malahan bikin tourists jadi runyam sewkt dateng ke indo. Tourist ude dikenain visa on arrival masih gak cukup? Skarang harus declare barang2 bawaan dan bawa receipts camera, i-touch, n-book, ipad, portable game, dlsb. SHUT da F**K up.”

Komen diatas kayaknya udah mewakili perasaan dan pemikiran saya. Duh Indonesia, kok makin lama makin ancur begini kebijakannya….

Pada dasarnya kita semua orang baik

Dari sharing kemarin soal tragedy massal yang mengakibatkan hampir 400 korban meninggal kemarin membuat saya berpikir kesana kesini, karena saking sedih, trenyuh dan bentuk perasaan down lainnya padahal korban korban tersebut gak ada yang saya kenal. Berhari hari setiap ketemu teman di kantor, hal itu terus yang sedang hangat hangatnya di bahas, sampai tadi siang kami berjalan kaki dari hotel ke tempat kejadian yang berjarak tak kurang dari 100 meter untuk memberi penghormatan kepada arwah yang meninggal dengan cara cara tradisi setempat tentunya.

Berhubung tragedy ini bukan bencana alam melainkan kesalahan manusia terutama lemahnya pengawasan dalam pengaturan arus keluar masuk pengunjung yang memadati kawasan tersebut, beberapa teman expat disini agaknya malah bersikap seolah olah menyalahkan pihak penyelenggara tapi di lain pihak ikut sedih sampai sampai makanpun tak lahap jika membicarakan mengenai hal itu.

Kalo soal disiplin, negara ini masih jauh tertinggal dari Indonesia yang terkadang lumayan bikin emosi terutama dalam hal ngantri dan berkendara di jalan. Disini walaupun jalan protokol, lampu merah itu tidak ada artinya, asalkan punya celah jalan terus, mereka akan terobos walaupun lampu merah baru saja menyala. Ampun dah! Kalo ngantri di parkiran untuk mendapatka tiket, tiba tiba ada saja yang nyelonong  dari samping di saat antrian panjang  terjadi. Sumpah serapah pun keluar dari mulut dan banyak kejadian kejadian lain yang cukup membuat iritasi lainnya.

Tapi herannya, jika dalam kehidupan nyata sewaktu kita mengalaminya rasanya kita ingin menelan orang tersebut bulat bulat karena ketidakdisiplinnya mereka serta cenderung tidak beretika karena akibat yang mereka buat bisa membahayakan pihak lain, tetapi setelah kejadian tragedy kemarin, batin ini sangat sedih menyaksikan penderitaan dari banyaknya korban tersebut.

Emosi kita pada waktu kita kecewa dan marah agaknya bukanlah diri kita, karena jika apa yang kita emosikan dan kita kecewakan berefek pada kejadian yang tragis dan lebih dari yang kita harapkan, pada akhirnya kesedihanlah yang menghampiri hati. Ibarat nyumpahin orang yang memotong jalur kita dengan “busyet dah! kepleset motorlu baru tau rasa..” terus kenyataannya orang itu tidak hanya terpeleset tapi tertabrak dan dilindas ban truk misalnya, hal tersebut pasti tidak akan membuat kita senang, yang ada malah menyesal, kenapa ya gue sumpahin dan kesedihanlah yang melanda.

Yah ini hanya sharing pikiran saja, sebagai manusia yang lebih berdisiplin dan beretika kita doakan saja orang orang yang kadang membuat kita iritasi melihatnya, toh semua orang sedang bertumbuh, dengan caranya masing masing tentunya.

Tragedi Water Festival terbesar di Jembatan Diamond Island, Cambodia, yang merenggut nyawa ratusan jiwa

Berita mengejutkan datang tadi malam mengenai perayaan Water Festival yang diselenggarakan dari tanggal 20 sampai tanggal 22 kemarin. kemarin malam Senin, 22 November saya dikejutkan oleh berita bahwa pada malam terakhir perayaan Water Festival, sebanyak lebih dari 339 nyawa melayang dan ratusan lainnya cedera  saat hendak pulang dari perayaan malam terakhir dan berdesak desakan menyebrangi jembatan untuk keluar dari Diamond Island.

Sumber kejadian menyatakan bahwa jembatan yang baru dibangun persis disebelah Hotel dimana tempat saya bekerja tersebut menunjukan tanda tanda tidak kuat menahan beban sehingga hal itu menyebabkan kepanikan ribuan pejalan kaki yang akan menyebranginya, tambahan lagi dari sumber Phnom Penh post menyatakan bahwa pada malam kejadian, diperkirakan  sebanyak 1 juta manusia meninggalkan pulau tersebut disaat bersamaan dan akhirnya ditengah kepanikan, aksi saling dorong yang berakibat banyaknya manusia yang sulit bernafas disertai saling injak akhirnya merenggut banyak korban jiwa di jembatan tersebut.

Tragedi terbesar setelah Rezim Pol Pot

Menurut Perdana Menteri Hun Sen dalam video conference nya tadi pagi pukul 02:30 menyatakan bahwa kekacauan even ini adalah tragedy terbesar setelah Pol Pot rezim dilihat dari banyaknya korban jiwa. Berhubung kejadian baru tadi malam, belum di sebutkan berapa korban tewas dari tourist atau penduduk luar negeri yang berdomisili di kamboja ini. Dari teman KBRI disini, mengatakan hal itu masih dalam proses mengidentifikasi korban dikarenakan rata rata wajah orang orang Asia rata rata mirip, tetapi mengingat even ini mayoritas lebih ditujukan untuk masyarakat lokal Kamboja, besar kemungkinan bahwa mayoritas korban berasal dariKamboja.

Sungguh sangat disayangkan, ditengah galaknya pembangunan pulau tersebut untuk menyambut datangnya ATF (Asean Tourism Forum) January mendatang, fasilitas pembangunan jembatan khusus untuk akses keluar dari jembatan tersebut ternyata tidak cukup kuat menopang beban ribuan manusia yang menyebranginya. Untuk informasi saja, dalam perayaan Water Festival, semua akses menuju tempat perayaan sudah di sterilkan dari kendaraan bermotor baik roda dua maupun roda empat sejauh radius kurang lebih 3 kilometer. Jadi jika anda ingin melihat keramaian dalam festival tersebut, anda harus terbiasa dengan jalan kaki yang cukup jauh dikarenakan kota Phnom Penh saat itu kedatangan lebih dari 2 juta pengunjung yang berdatangan dari provinsi provinsi di penjuru Kamboja.

Sontak setelah kejadian tersebut, teman teman Indonesia dan juga kami saling menghubungi untuk mengetahui keadaan masing masing dan sejauh ini dari komunity kami yang kecil ini tidak ada berita bahwa mereka pergi kesana pada waktu kejadian.

Semoga tidak ada satupun dari saudara saudara kita orang Indonesia yang menjadi korban dari tragedy tersebut.

Beruang kutub pun kelaparan akibat Global Warming

Beberapa hari yang lalu, seorang sahabat yang saya kenal sewaktu bekerja di property yang berbeda di kamboja sini mengirimkan email kepada saya. Saya mengenalnya karena dia adalah salah satu tamu hotel yang menginap pada tahun 2008 yang lalu, kami banyak berbicara dan mempunyai beberapa hal yang cocok untuk dibicarakan. Usia nya tak lagi muda, dan sudah memasuki masa pensiun. Untuk mengisi masa pensiunnya beliau banyak sekali melakukan perjalanan ke luar negeri bersama istri dan sering mengupdate saya tentang perjalanan liburannya ke berbagai negara.  Ini adalah salah satu suratnya yang menarik tentang perjalanan mereka ke Churcill untuk melihat beruang kutub serta kebetulan di sertai dengan gambar yang lengkap.

Read more »

Nggandul euy!

Jepretan iseng, maklum pemandangan ini lumayan udah jarang ditemui terutama di ibukota Phnom Penh ini. Sewaktu baru keluar dari makan siang, eh saya langsung surprise di salib oleh motor ini. Berhubung pemandangan langka dan naluri bloggernya muncul, maka diabadikanlah foto ini…heee..

Read more »

Alternatif Side Job: Jualan Kartu kredit

Agaknya ini sudah agak basi untuk judul diatas dikarenakan saya sudah melakukanya sejak tahun 2002 silam. Hanya saja setelah makan siang, saya tertarik dengan salah satu berita di kompas mengenai banyaknya merchant yang di tutup oleh beberapa issuing bank kartu kredit tersebut dikarenakan banyaknya merchant yang menyalahi aturan penggunaan cash advance untuk merchantnya yang dimana hal itu tidak diperbolehkan.

Ingin berbagi pengalaman dulu,  sewaktu menjadi night auditor di salah satu hotel, saya selalu bekerja di malam hari, dari pukul 22.30 malam sudah nyampe hotel dan balik atau selesai shift pukul 07.00 pagi. Seperti normalnya pekerja malam, tentunya gantinya tidur adalah dipagi hari, tetapi karena ditempat kerja saya masih bisa nyuri nyuri 1 – 2 jam semedi (haa..mau bilang tidur malu…) makanya pagi hari saya pergunakan untuk menghasilkan uang tambahan dengan berjualan kartu kredit. Alhasil saya cukup beruntung waktu itu walaupun terkesan freelance tapi saya malah seperti staff yang ada gaji basicnya..dulu sekitar Rp.500.000 per bulan.

Read more »

Oktoberfest di Kamboja, mirip mirip tapi nggak mirip

Minggu kemarin, dalam rangka studi banding, saya bersama teman kantor datang menghadiri acara Oktoberfest di sebuah hotel di Phnom Penh yang berlansung dari tanggal 15 sampai 17 bulan ini. Sehubungan tahun depan hotel kami ingin membuat acara yang serupa, maka perlu kiranya melihat dan merasakan atmosfer yang terjadi di hotel lain dalam perhelatan pesta kumpul kumpul ala jerman dengan minum bir nya.

Read more »

Suoi Tien, tempat wisata di pinggiran Ho Chi Minh

Sewaktu liburan Pchum Ben kami berkunjung lagi ke Vietnam, kalo ini kami sekeluarga mencoba tempat wisata baru yang hampir sama dengan Dam sen Park, namanya Suoi Tien.

Suoi tien ini lebih bagus, lengkap serta lebih modern dibanding Dam Sen dengan tiket masuk kurang lebih sama murahnya, hanya perjalanan disana lumayan jauh dibanding Dam sen yang masih dalam kota. Perbandingan kalo naik taxi ke Dam Sen adalah 100.000 dong atau Rp.50.000, nah kalo ke Suoi tien ini antara 250.000 hingga 300.000 atau Rp.150.000 kalo terjebak macet. Maka disarankan anda naik bus saja karena tiket bus jauh dekat hanya 3000 dong atau Rp.1500 saja dengan catatan perjalanan bisa 45 menit lebih lama..heee..la wong diputer puter dulu trayeknya.

Read more »

Makna hari raya Pchum Ben Day

Bulan Oktober emang banyak liburnya, tanggal 7,8,9,10 adalah hari raya Pchum Ben day dan belum tanggal 29 ada coronation day dan tanggal 31 ada Raja Sihanouk’s Birthday (bapaknya King). Dengan total libur nasional sebanyak 25 hari dalam setahun, tinggal disini cukup menyenangkan, hingga tadi malam untuk membeli tiket bus ke vietnam sudah penuh semua tetapi akhirnya kami dapat tiket yang jam 5.30 pagi. Ah, gak papa yang penting liburan lagi.

Kali ini hanya ingin sharing tentang apa itu hari raya Pchum Ben day, sebenarnya hari raya ini adalah hari raya masyarakat kamboja untuk berdoa kepada para arwah leluhur yang telah meninggalkan mereka agar mendapat tempat yang baik di alam sana.

Kamboja percaya bahwa meskipun makhluk hidup kebanyakan bereinkarnasi pada kematian, karena karma buruk, beberapa jiwa…

Read more »