Pengemis bermodal

Sejak sebulan ini bekerja di dalam kawasan Ancol, musim musim pasca lebaran sudah pasti sibuknya minta ampun. Resort tempat saya bekerja juga rame pengunjung, rata rata tingkat hunian diatas 97% dari tanggal 29 sampai tanggal 3 september lalu.

Senang sekali bisa melihat kegembiraan anak anak yang berlibur bersama keluarga dan keluarga besar disini, di jalan jalan kawasan terlihat ramenya kendaraan penuh sesak, seakan akan seluruh warga jakarta yang tidak pulang kampung tumpek blek mencari hiburan di ancol padahal jalur puncak atau bandung pun juga penuh.

Banyak cerita yang lucu lucu juga disini, diantaranya ada sebagian warga yang malah datang ke ancol untuk berdagang dan tentu saja dilarang oleh petugas kami karena memang bukan pada tempatnya. Tapi ada satu yang rada aneh yaitu pengemis! mungkin pembaca bog yang belum pernah ke ancol belum mengetahui bahwa masuk kawasan ancol harus membayar melalui pintu pintu gerbang yang tersedia. Per orang dikenai Rp. 15.000 jika membawa kendaraanpun akan dikenai charge tambahan per kendaraan baik mobil, bis atau sepeda motor.

Entah bagaimana mereka masuk tapi yang jelas kemungkinan besar mereka memang modal dulu untuk masuk ke ancol ini, lalu kemungkinan ganti baju “dinas” dan selanjutnya menjalankan aksinya yang sudah tentu digagalkan petugas kami.

Ada ada saja memang, semoga saja pengemis itu bisa balik modal dari biaya investasi masuk kawasan ini. sukur sukur punya kelebihan uang untuk bisa masuk ke wahana wahana seperti Dunia Fantasi, Atlantis atau Gelanggang Samudra…heee….pengemis khan juga manusia…butuh hiburan dan refresing juga…halah….

Selamat Hari Raya Idul Fitri

Tak terasa sudah 1 bulan saya di Jakarta. karena kesibukan pekerjaan baru yang rata rata saya habiskan 12- 14 jam di hotel tempat saya bekerja, karena beberapa perombakan system dan organisasi membuat kegemaran menulis jadi terbengkalai. Berhubung teman teman baru sebagian besar dari kalangan muslim, maka untuk menghormati mereka sejak tanggal 1 agustus kemarin saya ikut puasa. hanya libur puasa pas hari libur saya saja.

Ternyata ikut berpuasa banyak hikmahnya, selain menjadi diri yang lebih sabar, yang terpenting badan saya turun hampir 5 kg! weh…senangnya minta ampun, istri saya saja ngiri melihatnya..heee…

Sehabis lebaran ini kesibukan baru yang lebih banyak akan datang yaitu team kami akan siap jualan, maka dari itu saya akan sering berada di jalan untuk memperkenalkan produk kami yang baru. Tapi dibalik kesibukan itu akan ada untungnya juga karena bisa menjadi sarana networking untuk sesama teman teman blogger di Jakarta. siapa tau wawasan saya pun bertambah dari sana.

Untuk itu dalam suasana ini saya berkesempatan untuk mengucapkan SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1 SYAWAL 1432 H, MOHON MAAF LAHIR DAN BATHIN.

Summary kopdar dari pencari informasi blog ini

Sebenarnya semuanya berawal dari hobby menulis, gak nyangka kalo dari hasil tulisan di blog ini beberapa ada yang terbantu dan menjadi kawan dalam dunia nyata. Bahkan ada kawan baru yang mengatakan jika ingin mengetahui tentang kamboja, bertandanglah ke blog ini. Buat saya ini sedikit berlebihan, karena saya hampir jarang sekali menceritakan tentang tempat wisata di kamboja seperti candi Angkor Wat yang terkenal, Bayon, pantai indah di Sihanoukville walaupun pernah kami tinggal 6 bulan lamanya disana.

Seperti yang rekan rekan semua tahu dan ditulis di halaman tentang saya, semua tulisan isinya tentang pengalaman bekerja, berlibur dan tidak mengkhususkan bercerita mengenai Kamboja ataupun Vietnam. Meski menulis dengan apa adanya seperti ini, tetapi saya cukup senang ada sedikit teman baru yang mengirim email untuk bertemu dikarenakan mereka menanyakan informaso akan bekerja atau hanya sedang berkunjung ke kamboja, beberapa teman itu adalah,

Mbak Rossy

Mbak Rossy ini pernah saya ceritakan di postingan dahulu, kami bertemu secara tidak sengaja di Indonesia expo di Phnom Penh. Karena seluruh staff maupun pejabat KBRI disini saya kenal, kami di perkenalkan oleh salah satu staff KBRI dan di beri tahu kalo saya penulis di boyindra.com, mbak rossy ini cukup kaget dan berkata bahwa beliau banyak membuka halaman halaman blog saya sebagai sumber infomasi tentang kamboja karena statusnya sebagai team study banding dari kantornya di jakarta. Akhirnya kami banyak berbincang bincang mengenai suasana dan kehidupan di Kamboja.

Mas Jeffry Febrianto

Mas Jeffry ini kebetulan juga seorang hotelier yang kebetulan lagi hampir bekerja di hotel tempat saya bekerja sekarang, sayang pertemuan kami yang cukup intens di email tidak membuahkan pertemuan lebih lanjut karena ternyata perusahaan memutuskan tidak merekrutnya, padahal dia sudah sempat berkunjung ke Phnom Penh untuk interview.

Mas Rommy Yohanes

Nah mas rommy ini juga seorang hotelier dan menjadi teman disini, sebelum kedatangannya di kamboja, banyak sekali yang ditanyakan sampai akhirnya kami bertukar pin BB. Hingga sekarang beliau masih bekerja disini dan masih sering nongkrong bareng karena Phnom penh bukanlah kota besar. Hotel mas rommy ini hanya berjarak 5 menit jalan kaki dari hotel saya, alias tetanggaan.

Pak Asmoro

Nama lengkapnya saya lupa, kartu namanya tertinggal di rumah. Pak Asmoro ini yang mengaku membuka hampir seluruh isi postingan blog ini sebelum bekerja di kamboja sebagai staff ahli Worldbank. Sewaktu kita makan siang dan ketemuan, selain ngobrol soal Kamboja, beliau juga kadang mengkonfirmasi beberapa postingan tentang pengalaman saya yang saya buat…haaaa…bikin saya terkaget kaget karena harus mengingat kembali.

Memang tidak banyak orang yang saya temui dari blog ini tetapi walau amat sedikit, pertemanan ini menimbulkan kesan yang mendalam bagi diri saya. Tidak banyak memang orang yang mengenal apa itu negara Kamboja tetapi jika melalui blog ini banyak yang telah terbantu, sudah cukup membuat saya merasa bahagia.

Yah, postingan ini dibuat menjelang hari hari terakhir di negeri berpajak murah ini, sekedar dokumentasi untuk saya sendiri sebetulnya karena setelah itu saya masih bingung mau posting apa setelah saya bermukim di Indonesia bulan depan.

Balik ke Indonesia nih…

Lumayan lama gak update karena sibuk banget nyari kerjaan di indo dan bolak balik jakarta – phnom penh disertai barusan baru balik lagi kejakarta ngurus pindahan sekolah anak, ngubek ngubek yang deket rumah.

Lumayan seru karena dulu rumah ada di cipete jakarta selatan dan kali ini di beri rumah dinas di kawasan jakarta utara dan hasilnya saya buta banget sama wilayah ini. tapi akhirnya semua ini beres dan sekarang masih balik lagi ke kamboja untuk ngurus ngurus barang dan urusan kantor.

Glad to back home! tidak hanya yang kami sekeluarga rasakan tapi juga tentunya masing masing orang tua yang paling girang karena bisa bertemu lagi walau terus terang cukup kaget badan ini beradaptasi dengan macetnya kota jakarta. Untungnya kerjaan baru ini masih dengan fasilitas layaknya expat, jadi tidak perlu bermacet macet ria untuk sampai ke kantor, cukup naik sepeda gayung 10 menit juga nyampai.

Satu hal keinginan terpendam yang bisa terwujud, adalah peluang untuk ikut pesta blogger tahun ini dan pastinya kopdar dengan blogger blogger yang ada di jakarta tentunya…heeee…

Saya masih gak tau apakah label “expate update” dalam blog ini mau dicabut apa nggak, mengingat bulan depan saya sudah tak lagi expat. Postingan postingan lama tentang kamboja akan tetap di posting karena dibuang sayang…heeee

Buat sahabat sahabat blogger kontak kontak yah kalo mau kopdar!! I’ll be there!

Gak usah di iri in, orang lain juga nggak terlalu menghargai kok

Habis main ke blognya bu Edratna soal makan siang /maksi, saya jadi terinspirasi untuk sharing pengalaman saya soal makanan dan barang barang mewah lainnya. Sewaktu saya kecil, saya paling doyan makan tempe dan sampai sekarangpun minimal satu kali seminggu saya masih sering makan tempe dari teman saya yang jualan tempe di kamboja sini.

Suatu ketika saya diajak ortu sekitar tahun 80-an liburan ke Jakarta menengok sepupu saya yang lumayan berada dan tinggal di rumah mereka. Selama di rumah mereka, tante saya yang jago masak ini sering banget menyuguhi kami dengan berbagai macam makanan internasional dari sirloin steak, sukiyaki dan makanan lainnya yang menurut saya mewah waktu itu. Sepulang dari liburan itu tiap saat saya suka menagih ortu untuk makan makanan mewah tersebut dan akhirnya dipenuhi hanya pada akhir pekan saja karena harga makanan itu khan cukup mahal. Pada saat itu saya berpikir enak sekali yah jadi orang kaya, punya mobil mewah dan makannya makanan yang enak enak pula.

Bukan kebetulan juga kalo akhirnya Tuhan menempatkan saya untuk bersekolah di sekolah perhotelan, dimana pelajaran tentang kemewahan menjadi bagian keseharian saya. Sekolah mengajarkan cara memasak makan makanan barat lengkap dengan ilmu pengetahuan tentang  daging, potongan makanan, saus sampai pengetahuan tentang wine, cocktail atau minuman campuran dan cara menjadi seorang bartender dan pernah mabuk karena terlalu banyak mencoba jenis jenis minuman itu.

Sewaktu di bekerja di Bali saya pernah ditugaskan untuk memonitor anak buah untuk merawat mobil tamu saya yang tinggal lebih dari 5 tahun di hotel kami. Tak kurang 12 mobil tamu ini disimpan dalam parkiran hotel kami, dari mercy S class, model SLK, range rover, jaguar sampai 2 motor harley davidson juga ada dalam koleksi tamu ini. Supaya terawat baik, mobil mobil mewah ini tak boleh hanya dipanaskan tapi juga harus dibawa berputar putar agar oli transmisi tersebar dengan merata. Sebagai kacung hotel, naik harley dan mencoba keliling keliling dengan mobil mewah tersebut adalah hal yang biasa, apalagi yang empunya suka traveling sampai kadang kadang 2 bulan lamanya dengan kamar hotel yang terus dibayar. Asal itu mobil tidak rusak atau tertabrak, si pemilik mobil ini agaknya tidak terlalu perduli kalo kita muternya ‘rada jauh’.

Ada kejadian yang saya suka tersenyum sendiri kalo ingat, gimana nggak bandel, pada suatu saat, anak yang punya mobil ini ingin nembak seorang wanita yang tinggal di hotel lain dan minta saya membawakan seikat bunga mawar kuning untuk dikirimkan ke hotel wanita itu. Alih alih membawa mobil, motor harley lah yang saya bawa dan mawar itu saya dudukin tangkainya sampai akhirnya dalam perjalanan, seikat mawar itu sampai ke tangan wanita itu dengan bentuknya yang gak karuan karena banyak bunga yang rontok dilibas angin…heee…intinya orang orang kaya itu tidak terlalu perduli dengan barang yang dimilikinya, sekali lagi asalkan kita tidak ngrusakin apalagi ngotorin, karena membersihkan setiap hari itu juga bagian dari service hotel kami. Tentang wanita itu? oh dia gak terlalu risau akan bunga itu, karena anak tamu saya ini sudah merupakan jaminan yang cukup untuk masa depannya..heee…

Nah bicara soal sekarang ini, malah sebaliknya, semenjak jadi expat di hotel berbintang, makanan luar negeri malah membosankan walaupun itu tidak hanya masakan barat tapi juga termasuk makanan vietnam, korea, china, india sampai libanon. Saya lebih suka nongkrong diresto teman saya makan ayam kalasan, tahu telor surabaya sampai soto betawi.

Saya jadi teringat ucapannya Mario teguh yang kalo gak salah kira kira omonganya begini, “gak usah ngiriin kelebihan orang lain, la wong orang lain itu nggak merasa bahkan malah nggak terlalu menghargai kelebihan yang kita ingini itu kok.”

Jadi bahagia aja dengan apa yang kita punya, rasanya malah lebih gampang dan nikmat.

Sanksi untuk Citibank

Baru baca di kompas kemarin soal sangsi dari Bank Indonesia (BI) untuk citibank yaitu ada 3 sanksi, Sanksi pertama berupa larangan menjaring nasabah kaya dari Citigold selama satu tahun. Sanksi kedua berupa larangan penerbitan semua jenis kartu kredit selama dua tahun. “Sanksi ketiga, bank juga dilarang menggunakan jasa penagih utang atau debt collector selama dua tahun.

Untuk orang yang memang tidak berhubungan dengan Citibank agaknya dari komentar komentar yang masuk banyak yang menghujat dan menilai kalo hukumannya sangat sangat ringan. Tapi bagi saya sendiri yang dulu pernah kerja disana dan gara gara Amrozi cs ngebom bali di tahun 2002 kemarin sehingga mengakibatkan card center kami ditutup, hal itu bukanlah sesuatu yang mudah.

Perlu diingat yang bermasalah sebenarnya adalah para pelaku dan pengambil keputusan alias bos bos disana yang menggunakan jasa debt collector serta masalah oknum nyong melinda yang membobol untuk kepentingannya sendiri. Dari oknum oknum ini kalo sampai berimbas dari ratusan orang yang mencari kerja di Citibank agaknya sangat kurang bijaksana mengingat mencari pekerjaan baru selalu merupakan hal yang sulit.

Yang paling apes dari hal ini adalah pekerja sales KK yang dimana mereka ini bekerja untuk Citibank tapi bukan under Citibank alias mereka bekerja di perusahaan yang ditunjuk oleh Citibank untuk membantu penjualan KK tersebut atau bisa disebut juga jasa outsourcing yang gaji basic dan bonusnya dibayar oleh Citibank. mereka ini jumlahnya lumayan banyak, bayangkan kalo jumlah ini dikalikan oleh banyaknya kota kota besar di seluruh indonesia mengingat KK Citibank ini merupakan salah satu KK terbanyak peredarannya di Indonesia.

Duh,..nganggur maning, nganggur maning….saya teringat kehidupan saya dulu yang lumayan baik dan akhirnya harus over kredit mobil gara gara card center saya ditutup dan lumayan terseok seok untuk bangkit kembali.

Saya tidak bermaksud menyalahkan siapa siapa tapi yang jelas, nganggur itu tidak enak, apalagi masih ada rentetan dibelakang kita yang memang hidup dari hasil kerja keras kita ini. Semoga mereka mereka yang menjadi korban dari oknum oknum tersebut mendapatkan perlindungan dari Yang Maha Kuasa. Amin

Liburan ke Koh Kong, perbatasan Thailand

Buat pengunjung setia blog ini pasti pada tau kalo saya sementara ini berdomisili di Kamboja, negeri yang lumayan banyak tanggal liburnya alias Public holiday. Kalo tahun kemarin dan sebelumnya tanggalan libur di kamboja ada 25 hari dalam setahun, tahun ini kabarnya ada 27! heee…mantap gak sih….libur teruss.

Di bulan April ini ada libur yang namanya hari raya Khmer atau Khmer new year…persis kayak lebaran di Indo, kota Phnom Penh sepi senyap, semua orang pada pulang kampung, sekitar 6000an expatriat yang ada di Phnom Penh saja sebagian besar menggunakan waktu ini dengan berlibur, ada yang ke luar negeri ada juga menjelajahi propinsi yang ada di sekitaran wilayah kamboja.

Liburan kali ini cukup seru karena kami pergi beramai ramai dengan perkumpulan teman teman sebangsa alias orang Indonesia semua yang ikut liburan untuk pergi ke perbatasan Kamboja – Thailand di Koh Kong. Tempat itu terkenal dengan hutan mangrove yang di klaim katanya terluas di Asia Tenggara, selain itu khususnya anak anak bisa berkunjung ke Safari world mirip taman safari di kawasan puncak sana dengan menyaksikan pertunjukan binatang yang sangat menarik dan mengagumkan seperti Orang Utan Boxing, burung beo main sepeda, ikan lumba lumba seperti di ancol sampai pertunjukan harimau india yang besarnya ajubile bisa 1.5x besar harimau sumatra. Untuk penginapan tersedia banyak hotel yang murah, range antara US$20 – US$30 banyak ada disini sudah ber AC.

Selain di Koh Kong, kami juga menyebrangi perbatasan ke kota kecil di Thailand bernama Trat, kalo di Thailand apalagi kalo nggak nyari penganan yang serba berbau Duren, jenang duren, permen duren, dll. Duren disana harganya lumayan murah…3kg cuman US$1 atau 30 Bath saja alias Rp.8500.
15042011211

Karena Koh Kong ini terletak di dekat pantai dan Sungai besar, Seafood segar merupakan makanan yang murah pula disini, kami bahkan masih bisa menyaksikan orang lokal sini berburu ikan pari di pinggiran laut yang cuman dalamnya sebetis itu dengan tombak!
DSC02245

DSC02204

Kalo ada yang mau mencoba peruntungan juga ada casino mewah disini, dengan gedung bergaya venetian khas eropa, lumayan terang benderang dengan lampu warna warni yang dipsang di pinggir jalan.
DSC02197

DSC02183

Liburan kali ini selain murmer, juga menyenangkan karena dilakukan rombongan bersama saudara saudara setanah air. Ayo kapan mau kesini?

TTC Travel Mart di Jakarta

Gara gara ada sedikit perombakan dalam perusahaan membuat blog ini sedikit terbengkalai terutama karena kerjaan sekarang tidak hanya bisa berlama lama di depan PC lagi tetapi kudu keluar jualan dan ketemu client.

Singkat cerita,  kerjaan saya sekarang adalah menggarap potensi market indonesia untuk berlibur ke hotel saya yang di kamboja. Sesuatu yang tidak mudah karena sampai sekarang tidak adanya penerbangan langsung Indonesia – Kamboja selain itu visa yang belum gratis, padahal hampir rata rata negara ASEAN sudah bebas visa sperti halnya jika sahabat blogger mau pergi ke singapura, vietnam, thailand, malaysia, dll. Anda tak perlu bayar visa tetapi pengecualian untuk Kamboja, masih dikenakan pembayaran sebesar $20 – $25 dan bisa diurus setelah pesawat anda mendarat di Kamboja, atau yang disebut VOA/visa on arrival.

Tetapi kendala ini tak menyurutkan niat perusahaan untuk mengirim saya menggarap potensi ini karena memang terbukti, gak jualan aja beberapa grup asal indonesia banyak nginap di hotel kami dan kenyataan bahwa pasar indonesia ini buying powernya bagus, kebangkitan middle class di indonesia dan banyaknya pertambahan orang orang kaya indonesia membuat bisnis perjalanan wisata tumbuh sangat significant.

Akhir maret kemarin saya berkunjung ke Jakarta untuk 3 hari karena mengikuti travel mart yang diadakan di daerah Mangga Dua. Dasar kurang pengalaman, 150 sales kit (bahan promosi) dari perusahaan kami habis dalam beberapa jam saja, antusias pengunjung yang rata rata potensial buyer/ Travel agent sungguh sangat luar biasa! Ikut exhibition sekelas TTC ini adalah cara efektif untuk memperkenalkan produk kita, disamping karena pasarnya yang luar biasa, bayangkan kalo kita harus menyambangi satu per satu agent tersebut, selain tua dijalan, biaya transportasinya bisa sangat mahal. Malah menurut saya TTC travel mart ini lebih ngirit daripada regular exhibition, trade show yang biasanya kami lakukan, karena harus mendecor booth/stand kita dengan biaya yang tak sedikit, bisa diatas 10 kali harga yang harus kami bayar untuk TTC ini.
30032011204

30032011203

Ini bukan blog review yang dibayar oleh owner TTC, om Tedjo Iskandar, tapi murni dari rasa puas saya atas perhelatan ini yang kebetulan punya blog untuk di sharing.

Sekarang saya mau lanjut dulu follow up kartu nama yang bejibun, saya kudu bikin dan mengirimkan satu persatu paket tour sesuai pesanan masing masing travel agent tersebut. Mudah mudahan hasil kedepannya juga bagus sehingga perusahaan makin senang dengan kinerja saya. Amin.

Terjebak dalam Jabatan

Suatu hari saya dikirimin oleh seorang teman lama yang singkatnya kira kira seperti ini..”tolongin donk cariin gue kerjaan..yang kira kira sesuai dengan jabatan gue sekarang…”.

Lalu saya balas seperti ini,” ada bro, tapi levelnya turun nih, kalo paket gue rasa ok banget lah..”

Seperti judul diatas, bisa ditebak, kalo kawan lama saya ini jelas menolak informasi yang saya beri. Saya sebenarnya gak menyalahkan orang orang yang berpikiran bahwa jabatan lebih penting dari uang, karena bapak saya sendiri juga sering bilang yang saya lupa bahasa jawanya yang pake imbuhan “katut..katut…” yah yang intinya dengan jabatan yang baik, otomatis uangnya juga akan ikut baik.

Sekali lagi saya nggak menyalahkan opini seperti itu, saya pun juga waktu masih baru baru kerja juga mempunyai pedoman yang sama, hanya saja yang saya lakukan tidak membabi buta pindah ke perusahaan lain yang menawarkan jabatan yang lebih baik. Alasan saya cukup simple saja yaitu bahwa perusahaan pun punya kasta!

Sewaktu bekerja di industri perhotelan, saya punya jabatan rangkap yang teman teman blogger mungkin sudah mengetahui jika mengikuti blog ini dari dulu bahwa saya dulu seorang penjual kartu kredit. Seperti halnya sales kartu kredit, pengetahuan tentang perusahaan mana dan jabatan apa saja yang memenuhi kriteria untuk di prospek adalah hal basic yang seluruh sales harus ketahui agar pekerjaannya tidak sia sia. Apa yang digariskan dari perusahaan itu yang kita harus turuti agar prospek kita mendapatkan approval dari bank dan akhirnya kita juga yang akan menikmati komisi atau bonus.

Seiring dengan pengalaman itulah, mengetahui level suatu perusahaan satu dengan yang lainnya menjadikan pengetahuan baru bagi saya. seperti contoh: seorang supervisor di suatu perusahaan A dari slip gajinya dapat dilihat bahwa penghasilannya lebih besar daripada seorang Director di perusahaan B. Tidak percaya? jadilah sales kartu kredit…heee… bahkan si supervisor ini malahan dapat incentive berupa Handphone dan pulsanya serta mobil perusahaan yang walaupun catnya penuh dengan logo perusahaannya tapi boleh dibawa pulang ke rumah.

Dalam cerita yang lain, saya punya bekas anak buah yang cukup agresif dan berambisi untuk sukses di usia muda, hal yang sangat positif tentunya. Teman ini akhirnya bisa mewujudkan cita citanya untuk menduduki jabatan yang diinginkannya dengan cara berpindah pindah pekerjaan di perusahaan yang lebih kecil dari perusahaan kami sebelumnya di luar kota Jakarta sana. Waktu berlalu, sekali lagi dengan ke agresifannya dia mencoba melamar lagi di perusahaan perusahaan besar dengan posisi yang sama. Dengan kualifikasi yang dimilikinya, Pihak HR sangat senang mendapatkan calon yang berkompeten seperti dia, hanya saja dilihat dari segi pengalaman, mereka menawarkan jabatan turun 2 level dari jabatan yang didapatnya sekarang. Gaji? jelas lebih besar dari yang didapatnya sekarang. Apakah mudah bagi seorang teman ini untuk memutuskan? sangat manusiawi, jawabannya “tidak mudah”.

Ini gambaran anak anak muda sekarang pada umumnya, untuk menutupinya, mereka bergaya hidup diluar kemampuan mereka hanya untuk memPASkan seorang yang mempunyai jabatan ini kudu punya barang, gadget, mobil yang sesuai dengan jabatannya, padahal kreditnya sangat menjerat leher kalo tidak, bisa dipastikan dalam acara networking dengan rekan rekan kerja yang lain akan menjadi bahan candaan saja.

Tidak susah sebenarnya untuk menentukan kasta dari suatu perusahaan, asal emosi tidak menguasai dalam mengambil keputusan, anda tak akan terjebak dalam jabatan tak berduit itu.

Bahagianya Sederhana, Sederhananya untuk bahagia

Sudah beberapa bulan ini saya selalu mengamati teman saya ini. Usianya tak lagi muda, kepribadiannya gak banyak bicara lebih banyak senyumnya, tapi jangan dikira beliau rendah diri, beliau penuh senyum dan pe de selalu walau motor bebek tunggangannya bener bener sangat sederhana, kayaknya gak bakalan ada di indonesia.

Semua orang geleng geleng dengan beliau, kok ya maunya memutuskan hidup seperti itu padahal kalo mau, sepertinya beliau bisa saja membeli mobil yang cukup murah di kota phnom penh ini dibanding harga mobil di tanah air. Tapi itu tidak dilakukannya, beliau cukup bahagia dengan apa yang di punyainya.

Kata orang sih “kalo mau sukses, bertemanlah dengan orang yang telah sukses!”, rasanya rugi besar kalo tidak bertanya kepada teman ini rahasia suksesnya hidup sederhana dan bahagia.

Ternyata teman kita ini dulunya pernah bekerja di Jakarta selama beberapa tahun, beliau bercerita kehidupan yang begitu ketat dan pergaulan yang komsumtif membawanya kebiasaan kebiasaan hidup metropolitan. Kartu kredit punya 4, gadget HP terbaru, lewat 6 bulan kudu ganti lagi dan hang out setiap minggunya. Mobil bekas nyicil begitu pula motor untuk anaknya yang beranjak SMA itu. Tiap bulan numpang lewat sekalian jantung jedag jedug kalau kalau debt collector menyambangi pintu entrance kantornya. Asal ada (maaf) Ambon keling berperawakan sangar berdiri, beliau udah trauma duluan.

Akhirnya hidup sudah tak nyaman lagi, di luar orang lain mengira dia baik baik saja, padahal baginya besok pagi adalah neraka. Istrinya menyarankan mencari pekerjaan dengan gaji yang lebih tinggi lagi dan akhirnya terdamparlah beliau di kamboja sini 5 tahun lebih dulu dibanding saya.

Dengan bekal trauma itu, beliau belajar merubah gaya hidup terlebih teman teman lokal yang beliau pilih untuk berinteraksi adalah teman teman lokal golongan biasa biasa saja sehingga mau tidak mau beliau menyesuaikan diri dengan membeli motor bebek, belajar makan tradisional mereka, gaya hidup, dsb.

Dengan gaji expat, pengeluaran lokal, membuat hidupnya makin baik yang akhirnya beliau memboyong anak dan istri beliau untuk hidup disini. Aset aset yang ada di jual dan seluruh hutang dilunasi. Anak anaknya yang beranjak ABG pertama tama protes, karena nggak bisa gaul disini, boro boro sekelas DUFAN lha bisokop sekelas 21 aja nggak ada disini, tapi lambat laun semuanya terbiasa malah lebih senang katanya. “kenapa?”tanya saya suatu hari. Anak anak itu berbicara tentang pergaulannya yang internasional karena sekolah di internasional school dengan teman teman dari berbeda negara, yang biaya sekolahnya bisa jauh lebih murah dibanding sekolah lokal ngetop di Jakarta, bebas macet, lingkungan yang sederhana, gak malu kalo pake baju gak bermerk, la wong merk aja orang orang sini gak paham paham banget kok.

Dengan hidup sederhana itu, beliau otomatis cuman nabung saja dan setelah beberapa tahun menabung, akhirnya tercipta 6 rumah kos kosan tanpa kredit di bank yang sekarang dikelola oleh ibundanya yang tinggal seorang diri di kampung. “Melihat tabungan kita tambah besar dan besar setiap bulannya, membuat hidup saya tambah pe de mas boy” ujarnya suatu hari. “Disini enak, orang gak perduli kita pake apa, demikian juga orang indonya sendiri disini, mereka maklum kalo kita hidup di rantauan, jadi gak perlu ada gengsi gengsian lah” tambahnya.

Dari pengalaman beliau ini membuat saya berpikir dan menarik kesimpulan bahwa faktor lingkungan memang sangat membawa andil dalam sikap dan prilaku kita ternyata. Informasi dan rayuan rayuan dalam bentuk iklan di TV tidak banyak pengaruhnya dibanding pengaruh dasyat dari pergaulan, pergaulan dimana orang gak perduli anda pake HP merk apa, baju merk apa dan mobil jenis apa adalah suatu keadaan yang mungkin sangat jarang di temui di kota kota besar di Indonesia.