Aug
17
2010
38

Benci dokter sekarang cinta

Sejak beberapa tahun yang lalu, karena beberapa peristiwa yang terjadi terhadap teman, saudara atau pada diri sendiri membuat saya mempunyai persepsi yang tidak baik terhadap profesi dokter. Terlalu panjang rasanya kalau saya harus ceritakan ulah apa yang dokter dokter tersebut lakukan, intinya saya punya pandangan berhubung biaya menjadi dokter itu mahal, seolah olah mereka memperlakukan seorang pasien itu murni sebagai sebuah bisnis yang dimana biaya investasi mereka mulai dari sekolah sampai peralatan praktek mereka kudu balik modal cepat.

(more…)

Written by boyindra in: Experience | Tags:
Jul
28
2010
22

Berjalan dengan kesadaran

brainCieehh..baru baca judulnya kayaknya udah berbau spiritual banget yah..haaa. Kali ini saya hanya ingin mensharingkan saja pemahaman saya tentang kesadaran. Katanya kesadaran itu adalah kalo kita sedang makan dirasain enaknya kalo nggak enak juga dirasain, jadi makan gak perlu terburu buru apalagi sampai kegigit lidah. Kalo lagi di jalan awas sama hal didepannya, kalo anda masih sempet nginjek permen karet di jalan berarti kesadarannya belum terlatih, mungkin terburu buru atau faktor lainnya. Dengan melatih hal hal sederhana gini, katanya kita akan lebih sensitif dan feelingnya kuat akan keadaan disekitarnya. pendeknya,  kita seperti lebih merasakan suara di dalam, mungkin ada yang menyebutnya hati nurani atau apalah saya gak tau.

Saya punya dua pengalaman, pengalaman pertama terjadi disini. Tiap hari kalo saya ke kantor saya selalu melalui jalur yang sama, sampai sampai pak polisi yang tiap hari berjaga di pengkolan perempatan tahu kalo saya foreigner yang gak punya SIM, makanya saya lumayan suka jadi bahan empuk untuk ditangkap, walau dari segi perlengkapan sepeda motor jelas udah lengkaplah dari spion dua, stiker pajak sampai pake helm. Lama lama gerah juga diintai atau bahasa jawanya dititeni terus ama polisi dari kejauhan, maka dari itu saya mengadakan uji coba dengan mendengarkan suara dari dalam, di  mana polisi itu mangkal kali ini..heee

(more…)

Written by boyindra in: Experience | Tags: ,
Jun
11
2010
48

Dilarang Ngebom!

Waktu mau beli wine di supermarket langganan beberapa hari yang lalu, saya sempet terhenti sejenak tertegun melihat sign baru yang dipasang dipintu masuk.

dilarang ngebom

Selain gambarnya beda ama sign yang biasanya, jenis jenis larangannya juga saya rasa rada berlebihan. Pertama, larangan memotret di supermarket kayaknya tidak terlalu perlu deh, apalagi supermarket ini tidak mempunyai display khusus yang bernuansa seni, jadi standard banget lah.

(more…)

Written by boyindra in: Experience | Tags:
May
31
2010
27

Memutuskan Hidup Sendiri?

lonelyDi sela sela pekerjaan yang kebetulan tidak menumpuk, aktifitas yang paling asik dilakukan tanpa meninggalkan meja kantor salah satunya adalah chating. Chating kali ini saya dengan bekas anak buah dari Vietnam dengan menanyakan kabar sampai ngobrol ngalur ngidul. tanya si ini, si anu sampai akhirnya saya menanyakan bekas boss saya yang orang Amerika itu dan beliau adalah seorang gay yang sudah berusia lanjut, boleh terbilang uzur.

Karena pengalaman beliau di bidang pemasaran dan sudah berkecimpung di dunia pemasaran Vietnam hampir lebih belasan tahun,  makanya hotel resort bekas saya bekerja mempekerjakannya dengan bayaran yang tidak terlalu wah seperti di kota besar tapi dengan fasilitas yang semuanya gratis.

Dulu sewaktu saya bekerja disana beliau mempunyai restaurant yang cukup berkelas di pinggir pantai dengan makanan kelas bintang lima. Setahun berlalu dan sewaktu saya menanyakan kabarnya minggu lalu, restaurant itu telah tiada alias bangkrut dikarenakan tahun 2009 kemarin krisis ekonomi memang menghantam sektor pariwisata tidak hanya di Vietnam tapi juga dimana mana.

(more…)

Written by boyindra in: Experience | Tags: ,
May
10
2010
34

Komunis = Murah untuk Rakyat

Bulan mei ini banyak banget liburnya, dikamboja memang terkenal banyak hari liburnya sudah saya pernah bahas tahun lalu disini. Weekend kemarin kami pergi berlibur ke Vietnam, selain suntuk dengan kerjaan yang menyibukkan, juga banyak titipan dari keluarga di Indonesia.

(more…)

Written by boyindra in: Experience,vietnam | Tags: ,
Apr
09
2010
33

Dirty Old Man

Suatu hari pagi pagi sekali kita udah ngobrol sesama teman di luar teman kantor. yang dibicarain apalagi kalo nggak seputar masalah kerjaan lengkap dengan tokoh utamanya yang tentunya kita kenal…heee… jadi cowok maupun cewek sama aja kalo lagi ngumpul ya suka nggosip juga.

(more…)

Written by boyindra in: Experience,kamboja | Tags:
Jan
29
2010
33

Emang bisa nglihat dari mukanya?

blackjack-tableSejak berkecimpung di dunia per kasino an, baik dari sekala public floor atau tempat judi umum sampai VIP floor, ada hal yang saya pelajari dan sampai sekarang belum bisa adalah menentukan karateristik muka penjudi itu biasanya kayak apa sih.

Karena seringnya pindah kerja dan profesi juga, saya sering berkumpul dengan macam macam latar belakang. Misalnya, sewaktu baru lulus kuliah dan ingin bergabung dengan perusahaan kapal pesiar, kami diharuskan mencari sertifikat pelaut tingkat dasar dan mengikuti pelatihannya 6 hari di akademi ilmu pelayaran di bilangan jakarta utara sana. Suatu waktu seorang bapak bapak tua yang sudah bersertifikat “master”menunjuk salah seorang laki laki kurus dan berkata kepada saya “noh itu noh, pelaut senior tuh! liat aja (maaf) pantatnya. kalo yang gitu modelnya, tu orang kebanyakan di laut.” kata beliau dengan logat betawinya sambil menghisap rokoknya dalam dalam.

Mungkin maksud pak tua itu adalah bahwa pemuda itu pantatnya tipis dikarenakan kebanyakan “jajan” di luar menurut versinya. Ah, apa iya begitu? batin saya.

Mungkin diantara para blogger juga mempunyai pengalaman yang sama mengenai bentuk tubuh atau muka manusia dilihat dari bentuk/ jenis pekerjaannya. Ada yang melihat dari dengkulnya, gaya jalannya, dan lain sebagainya. Ada juga yang suka bikin joke, “muka lu tu muka orang susah” atau kalo di jawa ada yang bilang “kalo aku iki mas balunge balung sugih” alias bakat kaya gak mungkin soro atau menderita.

Asmirandah1Saya termasuk yang tidak percaya dengan yang beginian dikarenakan pengalaman dari pekerjaan saya sendiri sekarang dimana dari kakek kakek kumel, ibu ibu gendut sampai wanita muda mirip Luna Maya saja bermain casino disini. Kenapa jadi tertarik menjadi judul postingan dikarenakan pada suatu siang saya menemui gadis imut mirip asmirandah ala cina bermain blackjack sendirian dengan chips yang menumpuk dihadapannya. Agaknya walau bukan big player dilihat dari kualitas chipsnya tapi si imut itu kelihatan hokky dengan memenangkan banyak kartu di meja dealer.

Wah, ternyata mengklasifikasikan atau menilai manusia dari bentuk mukanya termasuk susah yah, ada yang punya rumus jitu?

Ps. Maaf karena company policy, semua orang termasuk pegawai tidak diperbolehkan mengambil gambar didalam casino. Jadi bayangin aja muka asmirandah main blackjack yah…heeee…khan udah tak sediain gambar meja black jack ama si asmirandah.

Written by boyindra in: Experience,Psychology | Tags: ,
Nov
11
2009
27

Yang itu TV atau Handphone?

Kamboja memang banyak liburnya, baru minggu kemarin libur water festival sampai 5 hari, senin ini masih ada libur juga, maklum dalam setahun kamboja mempunyai 25 hari libur resmi, makanya maap agak jarang posting. Kalo ada yang ingin tahu apaan sih water festival di Kamboja itu, bisa baca postingan saya tahun lalu disini. Nah cerita kali ini terinspirasi gara gara tadi malam ikut menghadiri kondangan pernikahan teman istri orang kamboja sini. Selain belum pernah menghadiri pernikahan a la kamboja, juga penasaran dengan adat dan entertainment mereka.

Pernikahan a la kamboja sekarang dengan a la vietnam ternyata hampir sama, makan disajikan dengan set menu bergaya cina, maksudnya kalo gaya cina itu pasti di mejanya ada “lazy suzan” ditengah tengah meja. lazy suzan adalah meja bundar yang bisa diputar sehingga sewaktu makanan disajikan, para hadirin di meja itu bisa menikmati bergantian dengan memutar meja tersebut untuk mengambil makanan.

Yang berbeda adalah cara penyambutannya. Kalo di vietnam mempelai duduk dipanggung yang sudah disediakan sedangkan di kamboja mereka nungguin di depan gerbang dan aturannya selama menunggu tamu/undangan yang datang mereka bisa bolak balik berganti baju pengantin dengan pakaian khas mereka yang berbeda tentunya selama 12 kali! wuihh..capek bener nikah yak…heee

Perbedaan yang khas adalah di kamboja terkenal dengan acara yaitu “saravan atau Ruongbong” yaitu menari bersama antara pria dan wanita diiringi alunan musik yang riang, mirip pesta orang orang batak jika ada pesta.

poco2 kamboja

Nah ini yang mau saya ceritakan, walau bukan bermaksud mengeneralisasikan semua cowok kamboja, tapi memang pada waktu itu banyak teman istri yang cowok cowoknya pada membawa handphone…heee..pada bingung khan maksud saya?

Saya pun juga sempet ditanya oleh salah seorang yang SKSD (sok kenal sok dekat) sama saya, sambil menunjuk ke istri yang sedang berbincang dengan teman, si SKSD ini bertanya ke saya “maaf, Yang itu yang bersama kamu, TV apa handphone?” terus terang saya nggak ngerti maksud perkataannya, maklum di kamboja saya bukan anak gaul, akhirnya saya cuman cengengesan aja merespon pertanyaannya.

Terakhir setelah tanya ke istri akhirnya saya tahu bahwa yang dimaksud TV itu istri kalo Handphone adalah istri -istrian..haaa..dasar…alasannya adalah kalo TV itu barang yang lumayan lama digantinya kadang malah gak pernah diganti walau sudah rusak dan tv juga bukan barang yang suka ditenteng tapi kalo handphone adalah barang yang kalo lagi model baru suka dibeli, diganti dan di tenteng kemana mana.

Malam itupun cukup banyak “handphone” bertebaran di ballroom tempat acara pernikahan diadakan dan memang jika dibandingkan dengan sang pria, si handphone ini emang cukup “bening bening”, sangat kontras dengan yang “nenteng”.

Sekali lagi maap, bukan bermaksud sekali lagi menggeneralisasi cowok cowok kamboja, tapi kalo di indo biarpun mereka punya banyak “handphone” tapi kayaknya jarang deh sampe ditenteng ke pesta pernikahan.

Apa karena kita lebih munafik? ah, anda sendiri yang tau jawabnya

traditional khmer dress

Ps. Kalo yang ini (foto diatas) semuanya dijamin TV, biar berat bawa tabungnya tapi mesti dibawa..heee

Written by boyindra in: Experience,kamboja | Tags: ,
Oct
28
2009
46

Berangkat Bojog mulih Lutung

lutungBeberapa bulan ini saya cukup heran jika melihat stat yang masuk banyak bermunculan keyword baru yang mengetik “tips suami ke luar negeri”, “jika suami ke luar negeri”, “kalo suami kerja ke luar negeri” dan alhasil semuanya nyasar ke blog saya.

Bisa dipastikan, ini pasti ulah para istri yang ingin mengantisipasi suami mereka jika mendapatkan kerja di luar negeri. Saya sangat bersyukur kalo banyak istri mendapat faedah dari tips pribadi yang pernah saya jalankan. Tapi mohon maaf pula jika pada akhirnya malah pertengkaranlah yang terjadi gara gara baca tips dari blog ini. Ya maap..heee

Kebetulan juga hari ini saya lagi berbincang dengan sesama teman seperantauan (sama sama dari Indonesia gitu) , sang teman ini mengeluh kan waktu gajian yang dirasa lama…heee..padahal dalam 1 bulan itu selalu berkisar antara 30 atau 31 hari. Gak pernah saya alami 1 bulan itu 40 hari misalnya.

Kenapa bokek? begitulah kira kira pertanyaan yang saya lontarkan waktu itu. Sang teman ini berkisah banyak pengeluaran yang harus di keluarkan, ke bar lah, cari wanitalah, dan lain lain

Oalaa gitu toh ceritanya, saya males komentar, cuman geleng geleng dan manggut manggut aja (habis geleng geleng trus manggut manggut gitu bukan geleng geleng sambil manggut). Ternyata bukan cuman 1 orang aja, tetapi teman Indonesia yang lain juga mengeluhkan hal yang sama. Ini hampir sama dengan cerita saya mengenai gaya hidup disini.

Secara teori, setiap orang yang bekerja di Luar Negeri pasti mendapatkan gaji yang lebih banyak, bisa bervariasi antara 1.5 – 3 kali (artinya 50% – 300% lebih tinggi) dari di dalam negeri dengan posisi yang sama, Kalo nggak ya mana mau pindah donk. Jika rata rata kalo di Indo gaji itu kurang dan harus pinjam ama credit card, misalnya nombokin 20% dari gaji setiap bulan untuk keperluan lainnya, berarti anda masih punya 30 sampai 270% yang bisa ditabung.

Itu teori bagaimana dengan kenyataannya? kenyataannya anda bisa nabung lebih dari itu. Kok bisa? ya jelas bisa, wong kalo anda menjadi expat anda gak pernah pusing bayar listrik walaupun tiap hari di kamar pake AC, bayar air, tidak ada bayar laundry, transport (tempat kerja – tempat akomodasi anda), makan, bahkan untuk sekelas manager biaya telpon aja di bayarin. Jadi boro boro mikirin genteng bocor, rumah dimakan rayap, mobil ditabrak bajaj, dll wong yang fundamental aja pada gratisan.

Jadi yang gak beres pasti pada teman saya ini, mengapa mendadak jadi menaikkan gaya hidup? biasanya nongkrong di monas bawa nasi rantang bersama keluarga biar gratisan sekarang nge bar atau ke karaoke lengkap dengan pendamping jam jam an, biasa ngopi tubruk di pojokan kantin perusahaan, sekarang nyetok wine mahal taruh di kulkas, dan segala kegiatan rancangan “kreatif” lainnya.

Saya teringat dengan teman seperjuangan dulu di Amrik waktu bujang, setelah 1 kontrak kami pulang ke Indo, sang teman ini gak bawa apa apa, bahkan sekedar oleh olehpun tidak. Semuanya uang habis untuk wanita dan maen judi.

Terbayang kata kata bapaknya sewaktu saya antar ke rumahnya, beliau melihat sang anak tak berubah sedikitpun. Jins tetap sama, baju sampai kacamata yang menggantung di kepala pun masih sama. Sang bapak berkata (dalam bahasa Bali) ” mimi…Berangkat Bojog mulih Lutung”. Saya pun ikut tertawa terbahak bahak.

Artinya adalah “oala…berangkat monyet pulang masih monyet juga” (lebih kurus malah)

Written by boyindra in: Experience,Imagination | Tags: , ,
Oct
05
2009
30

Sampai Jumpa lagi

Judul ini jangan diartikan macam macam, berhubung penulisnya males ngasi judul panjang panjang jadilah judul seperti itu.
Minggu kemarin para warga Indonesia di Kamboja di undang acara perpisahannya Bapak Kolonel Suyanto, Atase pertahanan RI untuk kamboja serta memperkenalkan pejabat baru yang menggantikannya.

Dalam acara perpisahan dan perkenalan pejabat baru dihadiri tentu saja oleh bapak Dubes. Sejak merantau di negeri sekecil kamboja dan cukup aktif di berbagai kegiatan yang diselenggarakan KBRI, saya sebetulnya cukup kagum dengan para pejabat pejabat ataupun staff kedutaan yang cukup merakyat dan membumi. Tidak hanya pada kegiatan resmi tetapi juga kegiatan dadakan tak resmi.

Mengenal sosok Kolonel Suyanto ini tidak seperti berhadapan dengan sosok ABRI yang sangar dan pejabat yang full protokoler, beliau sangat santun dan kami bahkan seperti mengenal seorang pejabat sipil biasa. Bertandang ke rumahnya itu biasa, diajak makan, nyanyi karaoke lagu lagu Indonesia terbaru juga bisa padahal program program beliau membuat negara kamboja dan Indonesia mempunyai hubungan yang semakin mesra seperti dengan dibukannya kerjasama pelatihan pasukan elite kamboja oleh koppassus kita secara berkala. Sewaktu hari raya Idul Fitri beberapa minggu yang lalu, pasukan paspamres kita juga tiba untuk mendidik paspamresnya kamboja. Sebagai seorang prajurit mereka sudah biasa tidak memperingati hari raya bersama keluarga, malahan bertugas di negeri seberang, demikian waktu saya tanya dikesempatan yang lalu.

DSC03347

P240909_13.09

Kebetulan dalam acara perpisahan itu kami kedatangan tamu istimewa yaitu mas Bambang Hertadi Mas atau suka dipanggil mas Bambang Paimo. Beliau adalah pengayuh sepeda dan pendaki gunung yang sudah berlanglang buana di belahan dunia ini, dari Asia sampai Amerika Latin. Pada kesempatan bertandang di kamboja ini, mas Imo sedang dalam perjalanan mengarungi 4 negara ASEAN yaitu Vietnam, Kamboja, Laos dan Thailand dengan naik sepeda, beliau juga seorang pendaki dengan mendaki tak kurang dari 56 puncak gunung di kawasan Asia dan Amerika. Sosoknya yang sederhana ini ternyata merupakan pengembara solo (tunggal/sendirian) yang cukup handal.

DSC03366

Untuk itu dua duanya saya ucapkan selamat jalan dan sampai jumpa lagi. Semoga di dunia yang kecil ini kita bisa bertemu lagi di lain kesempatan.

Written by boyindra in: Experience,chit chat,kamboja | Tags: ,

Powered by WordPress | Aeros Theme | TheBuckmaker.com WordPress Themes