Category Archives: Psychology

Terobsesi setiap hari

wavesPernahkan anda mempunyai keinginan akan sesuatu dan memikirkannya setiap hari? berapa lama secara konsisten anda memikirkannya? misalnya anda putus dengan pacar yang anda sayangi dan memikirkan sakit hatinya setiap hari….tetapi sampai berapa lama hal itu selalu mengganggu pikiran anda? 30 hari…90 hari..? atau sebagai MLMers yang biasanya sangat terobsesi dengan kekayaan dan peningkatan pendapatan dari peringkatnya saat ini…apakah anda memikirkannya setiap hari? hari demi hari? berapa lama?

Dari keterbatasan pengetahuan yang saya tahu, terobsesi bisa menjadi baik atau malah menjadi buruk…seluruh pemuka agama maupun pakar motivasi pun selalu menyarankan jika kita sudah berusaha maka rasa pasrah dan syukur harus menjadi pendamping atas apa yang sudah kita upayakan.

Tetapi kenyataannya tidak semudah teori diatas. Membuat diri kita pasrah atau memasrahkan diri dari apa yang kita upayakan tidaklah mudah, apalagi dilakukan secara sadar. Pasrah buat saya adalah kondisi bila kita tidak lagi punya kekuatan atau bargaining position lagi atas upaya kita….dan jrengg…tiba tiba pintu itu terbuka, semua tiba tiba menjadi mudah, apa yang kita prediksi jauh dari kenyataannya dan kita disadarkan atas kejadian kejadian yang dasyat yang diluar pikiran kita.

Pada awalnya terobsesi adalah awal untuk menentukan LOA atau bahasa kerennya Law of Attraction atas apa yang kita pikirkan/inginkan. Pikiran mengirimkan sinyal ke alam semesta agar kita bisa menarik apa yang kita inginkan tersebut sebagai contohnya mencari pekerjaan baru. Tetapi jika sampai terobsesi dan memikirkannya hari demi hari, itu sama saja jauh dari sikap pasrah karena besar kemungkinan pikiran mengelana kemana mana, liar tak terkendali untuk memikirkan berbagai kemungkinan kemungkinan di masa depan……padahal kita bukan dukun…heee…

Jika anda pernah mengalami hal tersebut diatas maka saya sebagai orang yang juga pernah merasakan hal tersebut diatas hanya bisa memberikan saran bahwa apa yang terjadi dan apapun hasilnya sudah menjadi “Takdir” kita…kita tidak bisa berpura pura menjadi si A yang easy going atau si B yang cuek atau juga si C yang selalu bersyukur dan beruntung…kita adalah kita dan apapun teori yang kita dapatkan untuk menjadi pribadi yang ideal seperti yang ada di buku tetap faktor “X” sangat menentukan. Faktor X ini saya percayai sebagai suratan takdir.

Pasti banyak yang pro kontra mengenai pendapat ini…terlepas dari apapun pendapat rekan rekan…kebahagiaan merupakan hal yang utama dan akan lebih bijak jika kita mencarinya kedalam diri…

Siapa yang berkompetisi?

Ini pengalaman baru buat saya selama mengantar si kecil ke sekolah, tidak heran banyak orang kaya sampai anak menteri pun memilih home schooling. Ceritanya anak saya yang baru masuk kelas 1 SD itu mengeluh karena banyaknya PR dan ulangan setiap harinya dan juga setiap hari si kecil ini cukup mendapat pressure juga dari mamanya.

Pertama kalinya saya tidak begitu menganggapnya serius karena mau diapain lagi kalo sistem pendidikan kita emang harus begitu, saya tidak pernah memberikan target yang tinggi tinggi untuk anak karena berdasarkan pengalaman saya sendiri di sekolah saya tidak pernah menembus 15 besar…boro boro juara kelas….haaa…pengakuan nih….tetapi toh nasib pada akhirnya menentukan lain, teman teman yang juara kelas dari tingkat SMA sampai kuliahpun banyak sekali atau boleh diurut belum banyak yang sukses, jadi kesuksesan tidak serta merta bergantung dari IQ atau kepintaran akademisi.

Tapi realitanya berkata lain, setiap pagi seringkali saya dengar sesama ibu ibu menanyakan nilai ulangan anak mereka masing masing, sampai sampai di sudut sekolah terdengar seorang ibu yang memarahi anaknya sebelum masuk sekolah agar tidak memalukan ibunya dengan menghasilkan nilai jelek pada saat ulangan nanti.

wah, saya tidak bisa membayangkan bagaimana ini akan terjadi seterusnya, baru kelas 1 SD udah sedemikian ketat kompetisinya bagaimana hal ini terus berlanjut sampai kelas 6 yah….aduh Tuhan saya sulit membayangkan bagaimana stressnya anak anak itu dengan pressure dari orang tua masing masing.

Jika anda masih mengharapkan permainan seperti bentengan, jlentrik, kasti, ular tangga dan permainan yang lain, anda pasti bermimpi. Di kota besar Jakarta hal itu sudah sulit didapati.

Agaknya sekarang ini saya sudah cukup biasa dengan pemandangan ibu ibu yang saling berkompetisi setiap paginya dengan menanyakan hasil ulangan kemarin, untung saya bapak bapak dan ibu ibu itu sungkan untuk menanyakannya kepada saya dan bapak bapak lain yang mengantar rasanya cukup aman dari pertanyaan seperti itu karena kami saling acuh satu sama lain.

Gak usah di iri in, orang lain juga nggak terlalu menghargai kok

Habis main ke blognya bu Edratna soal makan siang /maksi, saya jadi terinspirasi untuk sharing pengalaman saya soal makanan dan barang barang mewah lainnya. Sewaktu saya kecil, saya paling doyan makan tempe dan sampai sekarangpun minimal satu kali seminggu saya masih sering makan tempe dari teman saya yang jualan tempe di kamboja sini.

Suatu ketika saya diajak ortu sekitar tahun 80-an liburan ke Jakarta menengok sepupu saya yang lumayan berada dan tinggal di rumah mereka. Selama di rumah mereka, tante saya yang jago masak ini sering banget menyuguhi kami dengan berbagai macam makanan internasional dari sirloin steak, sukiyaki dan makanan lainnya yang menurut saya mewah waktu itu. Sepulang dari liburan itu tiap saat saya suka menagih ortu untuk makan makanan mewah tersebut dan akhirnya dipenuhi hanya pada akhir pekan saja karena harga makanan itu khan cukup mahal. Pada saat itu saya berpikir enak sekali yah jadi orang kaya, punya mobil mewah dan makannya makanan yang enak enak pula.

Bukan kebetulan juga kalo akhirnya Tuhan menempatkan saya untuk bersekolah di sekolah perhotelan, dimana pelajaran tentang kemewahan menjadi bagian keseharian saya. Sekolah mengajarkan cara memasak makan makanan barat lengkap dengan ilmu pengetahuan tentang  daging, potongan makanan, saus sampai pengetahuan tentang wine, cocktail atau minuman campuran dan cara menjadi seorang bartender dan pernah mabuk karena terlalu banyak mencoba jenis jenis minuman itu.

Sewaktu di bekerja di Bali saya pernah ditugaskan untuk memonitor anak buah untuk merawat mobil tamu saya yang tinggal lebih dari 5 tahun di hotel kami. Tak kurang 12 mobil tamu ini disimpan dalam parkiran hotel kami, dari mercy S class, model SLK, range rover, jaguar sampai 2 motor harley davidson juga ada dalam koleksi tamu ini. Supaya terawat baik, mobil mobil mewah ini tak boleh hanya dipanaskan tapi juga harus dibawa berputar putar agar oli transmisi tersebar dengan merata. Sebagai kacung hotel, naik harley dan mencoba keliling keliling dengan mobil mewah tersebut adalah hal yang biasa, apalagi yang empunya suka traveling sampai kadang kadang 2 bulan lamanya dengan kamar hotel yang terus dibayar. Asal itu mobil tidak rusak atau tertabrak, si pemilik mobil ini agaknya tidak terlalu perduli kalo kita muternya ‘rada jauh’.

Ada kejadian yang saya suka tersenyum sendiri kalo ingat, gimana nggak bandel, pada suatu saat, anak yang punya mobil ini ingin nembak seorang wanita yang tinggal di hotel lain dan minta saya membawakan seikat bunga mawar kuning untuk dikirimkan ke hotel wanita itu. Alih alih membawa mobil, motor harley lah yang saya bawa dan mawar itu saya dudukin tangkainya sampai akhirnya dalam perjalanan, seikat mawar itu sampai ke tangan wanita itu dengan bentuknya yang gak karuan karena banyak bunga yang rontok dilibas angin…heee…intinya orang orang kaya itu tidak terlalu perduli dengan barang yang dimilikinya, sekali lagi asalkan kita tidak ngrusakin apalagi ngotorin, karena membersihkan setiap hari itu juga bagian dari service hotel kami. Tentang wanita itu? oh dia gak terlalu risau akan bunga itu, karena anak tamu saya ini sudah merupakan jaminan yang cukup untuk masa depannya..heee…

Nah bicara soal sekarang ini, malah sebaliknya, semenjak jadi expat di hotel berbintang, makanan luar negeri malah membosankan walaupun itu tidak hanya masakan barat tapi juga termasuk makanan vietnam, korea, china, india sampai libanon. Saya lebih suka nongkrong diresto teman saya makan ayam kalasan, tahu telor surabaya sampai soto betawi.

Saya jadi teringat ucapannya Mario teguh yang kalo gak salah kira kira omonganya begini, “gak usah ngiriin kelebihan orang lain, la wong orang lain itu nggak merasa bahkan malah nggak terlalu menghargai kelebihan yang kita ingini itu kok.”

Jadi bahagia aja dengan apa yang kita punya, rasanya malah lebih gampang dan nikmat.

Bahagianya Sederhana, Sederhananya untuk bahagia

Sudah beberapa bulan ini saya selalu mengamati teman saya ini. Usianya tak lagi muda, kepribadiannya gak banyak bicara lebih banyak senyumnya, tapi jangan dikira beliau rendah diri, beliau penuh senyum dan pe de selalu walau motor bebek tunggangannya bener bener sangat sederhana, kayaknya gak bakalan ada di indonesia.

Semua orang geleng geleng dengan beliau, kok ya maunya memutuskan hidup seperti itu padahal kalo mau, sepertinya beliau bisa saja membeli mobil yang cukup murah di kota phnom penh ini dibanding harga mobil di tanah air. Tapi itu tidak dilakukannya, beliau cukup bahagia dengan apa yang di punyainya.

Kata orang sih “kalo mau sukses, bertemanlah dengan orang yang telah sukses!”, rasanya rugi besar kalo tidak bertanya kepada teman ini rahasia suksesnya hidup sederhana dan bahagia.

Ternyata teman kita ini dulunya pernah bekerja di Jakarta selama beberapa tahun, beliau bercerita kehidupan yang begitu ketat dan pergaulan yang komsumtif membawanya kebiasaan kebiasaan hidup metropolitan. Kartu kredit punya 4, gadget HP terbaru, lewat 6 bulan kudu ganti lagi dan hang out setiap minggunya. Mobil bekas nyicil begitu pula motor untuk anaknya yang beranjak SMA itu. Tiap bulan numpang lewat sekalian jantung jedag jedug kalau kalau debt collector menyambangi pintu entrance kantornya. Asal ada (maaf) Ambon keling berperawakan sangar berdiri, beliau udah trauma duluan.

Akhirnya hidup sudah tak nyaman lagi, di luar orang lain mengira dia baik baik saja, padahal baginya besok pagi adalah neraka. Istrinya menyarankan mencari pekerjaan dengan gaji yang lebih tinggi lagi dan akhirnya terdamparlah beliau di kamboja sini 5 tahun lebih dulu dibanding saya.

Dengan bekal trauma itu, beliau belajar merubah gaya hidup terlebih teman teman lokal yang beliau pilih untuk berinteraksi adalah teman teman lokal golongan biasa biasa saja sehingga mau tidak mau beliau menyesuaikan diri dengan membeli motor bebek, belajar makan tradisional mereka, gaya hidup, dsb.

Dengan gaji expat, pengeluaran lokal, membuat hidupnya makin baik yang akhirnya beliau memboyong anak dan istri beliau untuk hidup disini. Aset aset yang ada di jual dan seluruh hutang dilunasi. Anak anaknya yang beranjak ABG pertama tama protes, karena nggak bisa gaul disini, boro boro sekelas DUFAN lha bisokop sekelas 21 aja nggak ada disini, tapi lambat laun semuanya terbiasa malah lebih senang katanya. “kenapa?”tanya saya suatu hari. Anak anak itu berbicara tentang pergaulannya yang internasional karena sekolah di internasional school dengan teman teman dari berbeda negara, yang biaya sekolahnya bisa jauh lebih murah dibanding sekolah lokal ngetop di Jakarta, bebas macet, lingkungan yang sederhana, gak malu kalo pake baju gak bermerk, la wong merk aja orang orang sini gak paham paham banget kok.

Dengan hidup sederhana itu, beliau otomatis cuman nabung saja dan setelah beberapa tahun menabung, akhirnya tercipta 6 rumah kos kosan tanpa kredit di bank yang sekarang dikelola oleh ibundanya yang tinggal seorang diri di kampung. “Melihat tabungan kita tambah besar dan besar setiap bulannya, membuat hidup saya tambah pe de mas boy” ujarnya suatu hari. “Disini enak, orang gak perduli kita pake apa, demikian juga orang indonya sendiri disini, mereka maklum kalo kita hidup di rantauan, jadi gak perlu ada gengsi gengsian lah” tambahnya.

Dari pengalaman beliau ini membuat saya berpikir dan menarik kesimpulan bahwa faktor lingkungan memang sangat membawa andil dalam sikap dan prilaku kita ternyata. Informasi dan rayuan rayuan dalam bentuk iklan di TV tidak banyak pengaruhnya dibanding pengaruh dasyat dari pergaulan, pergaulan dimana orang gak perduli anda pake HP merk apa, baju merk apa dan mobil jenis apa adalah suatu keadaan yang mungkin sangat jarang di temui di kota kota besar di Indonesia.

Shrinking Vacation Syndrome

Kalo udah tau yang namanya akan liburan udah pasti gejala gejala psikologis akan nampak heee..ini kalo saya lho yah…soalnya minggu depan saya akan libur panjang pulang kampung halaman menengok bapak, ibu, paman, bibi, kakek, saudara misan, sepupu, dan teman teman sekerja dulu. Oya gejala psikologisnya tentunya, kerja jadi semangat, berasa seperti abis promosi jabatan, badan berasa seger, bibir senyum senyum mulu padahal kenyataannya compi dan BB kudu dibawa untuk memonitor kerjaan yang jalan terus. Tapi gak papa, yang penting judulnya, LIBUR.

Banyak yang malah pusing mau liburan, barang yang akan dibawa bisa jadi alasannya. buat yang bekerja di LN, oleh oleh bisa menjadi hal yang memusingkan, karena harus disingkronkan antara bentuk oleh olehnya dengan budget pengeluarannya ditambah pula beratnya koper yang akan dibawa.

Di Amerika sono krisis keuangan yang mengakibatkan bengkaknya angka pengangguran menyebabkan liburan menjadi sebuah sindrom yang disebut Shrinking Vacation Syndrome. Yang dulunya liburnya ke belahan dunia lain tanpa mikirin kerjaan, sekarang malah liburan tapi kerja jalan terus, malah ada yang gak bisa libur sama sekali ada pula dapat libur tapi bingung mau pergi kemana karena semuanya menjadi tidak terjangkau oleh kocek.

Beruntung kita di Indo apalagi yang masih punya kampung halaman, se resesi apapun keuangan kita, kalo bisa pulang kampung dan berkumpul bersama keluarga dan teman lama akan berasa nikmatnya. Makan ikan teri ama nasi panas aja langsung kita post di wall FB apalagi lengkap dengan krupuk dan sambalnya, intinya asal bisa kumpul dan melepaskan diri sejenak dari tekanan dunia kerja sudah membuat kita bahagia, sehingga sewaktu pulang kerja kembali, kita bisa merencanakan liburan kedepan dengan lebih baik lagi seperti menyiapkan tabungan khusus dari sisihan rejeki kita tiap bulan di negeri seberang.

Jadi liburan akhir tahun ini pada mau kemana nih?

Pada dasarnya kita semua orang baik

Dari sharing kemarin soal tragedy massal yang mengakibatkan hampir 400 korban meninggal kemarin membuat saya berpikir kesana kesini, karena saking sedih, trenyuh dan bentuk perasaan down lainnya padahal korban korban tersebut gak ada yang saya kenal. Berhari hari setiap ketemu teman di kantor, hal itu terus yang sedang hangat hangatnya di bahas, sampai tadi siang kami berjalan kaki dari hotel ke tempat kejadian yang berjarak tak kurang dari 100 meter untuk memberi penghormatan kepada arwah yang meninggal dengan cara cara tradisi setempat tentunya.

Berhubung tragedy ini bukan bencana alam melainkan kesalahan manusia terutama lemahnya pengawasan dalam pengaturan arus keluar masuk pengunjung yang memadati kawasan tersebut, beberapa teman expat disini agaknya malah bersikap seolah olah menyalahkan pihak penyelenggara tapi di lain pihak ikut sedih sampai sampai makanpun tak lahap jika membicarakan mengenai hal itu.

Kalo soal disiplin, negara ini masih jauh tertinggal dari Indonesia yang terkadang lumayan bikin emosi terutama dalam hal ngantri dan berkendara di jalan. Disini walaupun jalan protokol, lampu merah itu tidak ada artinya, asalkan punya celah jalan terus, mereka akan terobos walaupun lampu merah baru saja menyala. Ampun dah! Kalo ngantri di parkiran untuk mendapatka tiket, tiba tiba ada saja yang nyelonong  dari samping di saat antrian panjang  terjadi. Sumpah serapah pun keluar dari mulut dan banyak kejadian kejadian lain yang cukup membuat iritasi lainnya.

Tapi herannya, jika dalam kehidupan nyata sewaktu kita mengalaminya rasanya kita ingin menelan orang tersebut bulat bulat karena ketidakdisiplinnya mereka serta cenderung tidak beretika karena akibat yang mereka buat bisa membahayakan pihak lain, tetapi setelah kejadian tragedy kemarin, batin ini sangat sedih menyaksikan penderitaan dari banyaknya korban tersebut.

Emosi kita pada waktu kita kecewa dan marah agaknya bukanlah diri kita, karena jika apa yang kita emosikan dan kita kecewakan berefek pada kejadian yang tragis dan lebih dari yang kita harapkan, pada akhirnya kesedihanlah yang menghampiri hati. Ibarat nyumpahin orang yang memotong jalur kita dengan “busyet dah! kepleset motorlu baru tau rasa..” terus kenyataannya orang itu tidak hanya terpeleset tapi tertabrak dan dilindas ban truk misalnya, hal tersebut pasti tidak akan membuat kita senang, yang ada malah menyesal, kenapa ya gue sumpahin dan kesedihanlah yang melanda.

Yah ini hanya sharing pikiran saja, sebagai manusia yang lebih berdisiplin dan beretika kita doakan saja orang orang yang kadang membuat kita iritasi melihatnya, toh semua orang sedang bertumbuh, dengan caranya masing masing tentunya.

Nyuri kreditnya orang

Didalam dunia internet copas mencopas itu biasa, walaupun banyak blog memberikan disclaimer tentang “boleh copas tapi harus menyertakan sumbernya” pada kenyataannya tetep aja masih banyak yang copas. Buat saya kalo digituin sebenarnya agak keki juga tapi mengingat saya juga suka copas gambar, jadi saya relain aja.

Suatu ketika saya pernah iseng ngecek tulisan saya yang berbau tips di website copy scape itu dan kelihatan ada anak muda ganteng dengan pose lagi petenteng (basa indonesianya apaan yah) menceritakan tips bagaimana cara kuat minum alkohol tanpa mabuk yang notabene copasan dari blog ini. Saya mah cuman geleng geleng keki aja, tapi dalam hati saya ketawa juga, ntar kalo beneran diajakin minum trus gak sesuai dengan teorinya, bukannya malah diketawain..haaa.

Tapi bukan itu yang saya mau sharing, kali ini masih berkisar tentang kehidupan yang “katanya”profesional tetapi ternyata hanya bikin malu dunia profesional aja. Sharing aja agar berhati hati buat rekan rekan atau rekan saudara, atau teman yang akan bekerja di luar negeri.

Di suatu perusahan ada seorang teman manager yang jaim banget, kelihatan pinter dan berpengalaman. Kalo ngomong gak lepas dari kata-kata seperti ini “sewaktu saya di sana…caranya begini..”, “sewaktu di perusahaan A,B,C, saya biasanya..begini..begina..beginul..begindang…hahaha” pernah denger yang kayak gitu?

Suatu waktu, ada proyek baru dari big boss yang harus dilakukan oleh kita para bawahannya, teman ini dapat bagian ini, saya bagian yang lain. Suatu ketika sang teman berkunjung ke kantor saya dan menanyakan soal pekerjaan itu, dia sempet ngelihat kerjaan dan proposal yang saya buat dilayar komputer dan memberikan pendapatnya.

Besoknya di inbox saya, saya melihat emailnya yang ditujukan kepada big boss kami dengan tak lupa cc ke saya lengkap dengan attachmentnya. Saya lumayan kaget juga sewaktu melihat proposalnya, lha kok proposal yang notabene persis punya saya disertakan juga dalam laporannya lengkap dengan namanya yang mengklaim sebagai “prepared by”.

Semua orang pasti keki dan sangat gondok kalo di kerjain seperti itu, apalagi kalo beda kebangsaan, wuiih mungkin itu emosi bisa sampai di ubun ubun. Makanya, saya cuman mau cerita aja, kalo bekerja di luar negeri kudu siap siap dengan hal hal semacam itu agar nggak kaget trus gak bisa nahan emosi trus patah semangat dan ujung ujungnya nanti stress ingin pulang ke tanah air. Mau diajak berantem itu orang juga nggak ngaruh, kadang kita sebagai bangsa Indonesia lumayan minoritas dan suka gak ada power untuk itu. Mau debat debatan dalam bahasa inggrispun bisa bisa anda yang kalah cepat..haaaa. Makanya kudu belajar ngelmu boyin disini.

Akhirnya dalam kasus ini, si teman yang akhirnya malu(gak tau beneran malu nggak dia) setelah mendapat telpon dari saya yang mengatakan begini “Oii bro! the one that you’ve just sent it, I’ve send it to him earlier yesterday. Anyway you’ve got to be fast a little bit lah, if you want to copy mine..heee” dan telponpun saya tutup tanpa peduli suara diseberang sana.

Udah selesai? belon. Langkah selanjutnya anda kudu datang ke boss dan jelaskan tentang apa yang terjadi, kadang sang boss juga nggak ngeh siapa yang nyuri duluan, apalagi kalo si boss berbeda kebangsaan dengan anda dan malah satu kampung (ras maksudnya) dengan teman anda ini. Gunakan communication skill anda agar gak terkesan ngadu kayak anak kecil.

Gimana kalo nggak berani untuk klarifikasi? ya udah terserah anda. Tanggung sendiri akibat selanjutnya.

Emang bisa nglihat dari mukanya?

blackjack-tableSejak berkecimpung di dunia per kasino an, baik dari sekala public floor atau tempat judi umum sampai VIP floor, ada hal yang saya pelajari dan sampai sekarang belum bisa adalah menentukan karateristik muka penjudi itu biasanya kayak apa sih.

Karena seringnya pindah kerja dan profesi juga, saya sering berkumpul dengan macam macam latar belakang. Misalnya, sewaktu baru lulus kuliah dan ingin bergabung dengan perusahaan kapal pesiar, kami diharuskan mencari sertifikat pelaut tingkat dasar dan mengikuti pelatihannya 6 hari di akademi ilmu pelayaran di bilangan jakarta utara sana. Suatu waktu seorang bapak bapak tua yang sudah bersertifikat “master”menunjuk salah seorang laki laki kurus dan berkata kepada saya “noh itu noh, pelaut senior tuh! liat aja (maaf) pantatnya. kalo yang gitu modelnya, tu orang kebanyakan di laut.” kata beliau dengan logat betawinya sambil menghisap rokoknya dalam dalam.

Mungkin maksud pak tua itu adalah bahwa pemuda itu pantatnya tipis dikarenakan kebanyakan “jajan” di luar menurut versinya. Ah, apa iya begitu? batin saya.

Mungkin diantara para blogger juga mempunyai pengalaman yang sama mengenai bentuk tubuh atau muka manusia dilihat dari bentuk/ jenis pekerjaannya. Ada yang melihat dari dengkulnya, gaya jalannya, dan lain sebagainya. Ada juga yang suka bikin joke, “muka lu tu muka orang susah” atau kalo di jawa ada yang bilang “kalo aku iki mas balunge balung sugih” alias bakat kaya gak mungkin soro atau menderita.

Asmirandah1Saya termasuk yang tidak percaya dengan yang beginian dikarenakan pengalaman dari pekerjaan saya sendiri sekarang dimana dari kakek kakek kumel, ibu ibu gendut sampai wanita muda mirip Luna Maya saja bermain casino disini. Kenapa jadi tertarik menjadi judul postingan dikarenakan pada suatu siang saya menemui gadis imut mirip asmirandah ala cina bermain blackjack sendirian dengan chips yang menumpuk dihadapannya. Agaknya walau bukan big player dilihat dari kualitas chipsnya tapi si imut itu kelihatan hokky dengan memenangkan banyak kartu di meja dealer.

Wah, ternyata mengklasifikasikan atau menilai manusia dari bentuk mukanya termasuk susah yah, ada yang punya rumus jitu?

Ps. Maaf karena company policy, semua orang termasuk pegawai tidak diperbolehkan mengambil gambar didalam casino. Jadi bayangin aja muka asmirandah main blackjack yah…heeee…khan udah tak sediain gambar meja black jack ama si asmirandah.

Kemanakah kau sahabat blogger?

Gara gara ketemu dengan pembaca blog ini di pameran indonesia di kamboja minggu kemarin, saya jadi berpikir kalo postingan blog ini perlu ditambah jenis kategorinya.

Makanya kalo dilihat di sidebar sekarang ada penambahan 2 kategori yaitu kategori Vietnam dan Kamboja. Maksudnya sudah tentu jika ada pencari informasi yang melalui search engine ingin tau sedikit sedikit tentang negara kamboja dan vietnam yang akhirnya nyasar di blog ini, bisa melanjutkan dengan cerita lainnya hanya dengan mengklik berdasarkan 2 kategori yang ada di sidebar tersebut.

Akhirnya saya kudu edit semua artikel yang saya tulis yang kira kira masih related ama kamboja atau vietnam. Selesai melakukan pengelompokan berdasarkan kategori ini,  saya kok  tertarik untuk membaca beberapa postingan yang sudah lampau sambil mengenang masa lalu (ciee..melankolis ceritanya).

Setelah membaca baca beberapa postingan dan komen semua sahabat sahabat blogger di postingan terdahulu, saya teringat bahwa selama ini banyak juga para blogger yang  saya lupa alamatnya dan tidak pernah saya kunjungi lagi.

Iseng iseng saya klik alamat mereka dan ternyata memang sebagian besar sudah tidak mengupdate tulisannya, kadang saya malah masih ingat kalo di beberapa postingan mereka yang terakhir itu adalah postingan yang masih saya kunjungi.

Ternyata berhubungan dengan sahabat sahabat dunia maya tetap berkesan di hati ini, malah angan kadang melambung jauh dengan berpikir apa yang sedang mereka lakukan sekarang, terutama para blogger yang topiknya lebih ke umum dan kehidupan sehari hari.

Teringat ucapan seorang guru yang mengatakan “0ld friends pass away, new friends appear. The most important thing is to make it meaningful“ yang menjadi landasan saya berpikir bahwa bagaimana kecilnya kita berhubungan baik secara maya maupun nyata, tetapi tetap akan menjadi bagian dari kehidupan kita yang berarti.

Bagaimana dengan anda, selama blogwalking, apakah ada artinya buat
anda?

Menangani Politik kantor multiracial

Baca judulnya aja udah ngeri yah….sama….saya juga. Lho kalo sama sama ngeri ngapain di bahas? terus terang kalo udah tingkat multirasial antar negara ini kendalanya emang kompleks banget, bisa dari bahasa, agama, kebiasaan mereka, dan hal hal lain yang sangat subjectif seperti warna kulit misalnya.

Sebenarnya saya bukan pakarnya mengungkap hal ini apalagi menjadi sekelas psikolog, tetapi ini berdasarkan pengalaman saja yang sapa tau bisa dipakai bahan referensi bagi yang sedang stress mengalami situasi tingkat tinggi ini.

Cerita atau bahasan ini sebetulnya akan lebih mengkhususkan politik yang terjadi jika ada kubu/grup antar negara di satu perusahaan. Maksudnya jika ada beberapa grup antar negara berbeda, bekerja di negara yang berbeda pula maka ada kecenderungan mereka akan mencari orang orang yang senegara dengan mereka untuk menduduki jabatan tertentu dan menyingkirkan pekerja yang berbeda negara dengan mereka. Biasanya mereka akan mengincar posisi yang strategis yang mungkin sedang anda jabati. Yang akan mereka lakukan biasanya bermacam macam, dengan membuat jabatan baru yang mirip mirip jabatan anda dan mengambil beberapa yang menjadi tanggung jawab anda sebelumnya, atau tidak memperpanjang kontrak kerja anda (yang ini masih halus)

Tidak disalahkan jika anda mengalami stress tingkat tinggi dalam mengalami tekanan seperti ini karena saya juga pernah mengalaminya walaupun bukan dalam kapasitas sebagai Top management. Sebotol vodka atau red wine hanya menjadi sarana pelarian sementara. untuk itu mungkin yang bisa saya sarankan yaitu,

1. Kenali di posisi mana anda sekarang

Tingkat sapuan ombak berbeda beda sesuai dengan jabatan itu sendiri, apakah anda termasuk mid management, up atau top management (sekelas VP) yang sedang ikut dalam genderang perang.

2. Kenali siapa yang bisa diajak kerjasama/dipercaya

Dalam perusahaan besar kayaknya hampir sama dengan negara kecil bahwa kawan atau grup anda adalah orang orang yang mempunyai kepentingan yang sama. Nggak penting dari negara mana mereka berasal. Yang penting kepentingannya.

3. Selalu mempunyai data yang paling valid

Meminjam istilah orang orang terkenal yang saya lupa bukunya bahwa “information is power” nah, mungkin hal ini tentu saja merupakan senjata ampuh untuk membuktikan bahwa grup anda lebih baik dan dipercaya oleh para pemegang saham/owner.

4. Mempunyai inovasi terbaru

Jika dihadapkan oleh satu atau dua kubu besar yang sedang bersaing, sangat di sarankan mempunyai suatu inovasi atau produk terbaru yang harus anda launch secepatnya yang tentunya berhubungan dengan kontribusi revenue di perusahaan anda. Sesuaikan pengeluaran dan estimasi revenue yang akan di dapat. Yakinkan ini akan berhasil, jika tidak maka dapat dipastikan anda yang akan tersingkir.

5. Informasi tidak boleh bocor

Siapa yang mau naik jabatan, produk/kebijakan apa yang akan diluncurkan, siapa yang akan dipecat, dll pastikan informasi ini tidak bocor saat anda belum melakukannya. Dikalangan mid management biasanya grup ini yang jadi penyebar gosip bahkan bumbu bumbu sudah ditambahkan. Cerita A bisa jadi Z..heee

6. Iklaskan akan keputusan terakhir

Ikhlas itu penting. kadangkala semuanya ini diluar kontrol anda maksudnya kalo emang para pemegang saham atau owner gak suka anda apapun alasannya (namanya juga multirasial). Jika anda atau kalo grup anda dibubarkan ya kudu terima dengan lapang dada. Bukankah masih banyak negara lain yang membutuhkan tenaga profesional seperti anda.

Makanya bagi para profesional yang bekerja di luar negeri dengan kendala seperti ini, sangat disarankan untuk memutuskan hidup bebas hutang. Karena jika sudah bekeluarga anda toh harus memastikan biaya kehidupan, sekolah anak dan lain lain terus ngebul walaupun di saat saat anda nganggur. Tabunganlah yang menghidupkan anda selama anda mencari pekerjaan baru kembali.

Sebenarnya dilapangan ada trik trik yang kadangkala lumayan kotor dan bikin mules kalo diceritakan, tetapi saya lebih suka kecenderungan untuk menampilkan performa yang baik untuk menangani politik kantor ini karena tidak saja boss yang suatu saat akan menyadari kemampuan anda dan siapa tau anda akan dipanggil kembali oleh boss anda di company yang lain, tapi yang lebih penting lagi adalah Yang Maha Kuasa tahu apa yang sudah anda lakukan.

Bukankah Pekerjaan kita adalah Ibadah?