Jun
15
2009
29

Ketika musim duren tiba

durenMasih ingatkah pada tahun 90an judul ini merupakan judul film yang dibintangi Ongky Alexander yang sangat terkenal dijamannya.Sutradaranya pun kalo gak salah Teguh karya(betul gak sih?).

Tapi judul diatas nggak ada hubunganya dengan judul film yang terkenal itu. Saya cuman mau cerita aja kalo di kamboja sekarang memang lagi musim duren.Dimana mana ada duren, padahal selama ini pasokan duren memang selalu ada karena duren yang tak mengenal musim disuplai dari Thailand.Mirip dengan di Jakarta yang sudah membudidayakan duren yang tak kenal musim dengan teknologi pertanian masa kini.

Tapi untuk duren tradisional, bulan bulan ini memang lagi musimnya sehingga di jalan jalan mereka menjual duren dengan 3 jenis yang dijual terpisah tapi ukuran besarnya sama sama besar dengan duren Thailand. 2 jenis duren itu yaitu dari provinsi kampong charm dan provinsi kompot.

Bagaimana dengan rasanya? Berhubung saya bukan ahli duren kayaknya semua jenis duren ini rasanya hampir sama, mirip duren mentega yang kandungan alkoholnya sedikit sekali dan rasanya yang manis dari permukaan luar sampai dalam. Yang membedakan hanya duren Thailand masih jadi pemenang karena biji nya yang kecil sehingga daging durennya pastinya lebih tebal dari pesaingnya yang lokal.

Yang menggembirakan apalagi, kalo harganya jadi dibanting murah karena memang saat ini duren lagi kelebihan pasokan. Kalo lagi tidak musim 1 kilonya bisa mencapai 8000 real atau Rp.20.000 tetapi kali ini harganya hanya setengahnya sekitar 3500 sampai 4000 real per kilogram.

Saya jadi teringat sewaktu nonton Tv tentang pameran duren di Taman Mini beberapa waktu yang lalu yang menyediakan puluhan jenis duren dari berbagai provinsi di Tanah air. Itu sudah pasti lebih seru!

Written by boyindra in: food, kamboja | Tags: ,
May
25
2009
9

Dasar Kecoak!

Enak yah jadi blogger, bisa numpahin unek unek yang ada di benak kita di blog kita sendiri. Kali ini saya mau cerita singkat tentang prilaku orang orang kamboja disini yang amazing kelakuannya…higghhh gemes banget pokoknya.

Di depan rumah, kalo lagi pingin jajan, kebetulan ada tukang jualan “Numpang”. ya itu semacam jajanan berupa french bread alias kalo di indonesia itu roti pentung yang gurih banget diisi dengan daging dan sayuran. lalu sebagai pelengkapnya di sajikan pickle atau asinan dari timun dan pepaya muda. Rasanya kayak makan krupuk tapi dari roti karena emang rotinya disajikan panas dan crunchy banget.

Nah ceritanya saya mau beli numpang itu, eh pas kesana saya disambut oleh aroma yang sedap dari makanan lain yang disajikan yaitu sate sapi yang tengah di bakar. satenya asli potonganya gede gede bener harganyapun lumayan, setelah saya tanya perbijinya 1000 real atau Rp. 2500,- karena kepingin maka saya urungkan niat makan itu numpang. akhirnya saya pesan 4 tusuk.

Sambil ngobrol, tukang sate itu juga nawarin obat kebugaran yang umum di kamboja yaitu telur bebek yang direbus agak telat, maksudnya telur bebek itu bukan berupa telur biasa tetapi hampir berupa janin anak bebek itu. serem ya ngebayanginnya? tetapi disini laku keras selaku jagung rebus yang dijual di pinggir jalan. pria, wanita, ABGpun suka makan itu.karena saya dulu pernah mencobanya 2 kali maka gak ada salahnya saya coba pesan 1 butir saja.

Setelah di bungkus, saya mulai makan satenya.Ampun dah! itu sate apa sandal jepit? seumur hidup saya belum pernah makan sandal eh, maksudnya sate se alot itu. 4 tusuk gak ada yang bisa di makan semua! ya ampun ternyata kalo dilihat dengan jelas, jangankan di bakar, direbus aja gak akan mungkin empuk, lha wong otot elastisnya (bener ya nyebutnya) yang menyerupai plastik putih yang biasanya menyeliputi daging sapinya aja tidak di buang. Dasar edan!! saya teringat dosen kitchen saya waktu pelajaran memasak malah pernah mengeluarkan 100 ribuanya waktu itu dengan mengadakan sayembara dengan memisahkan otot itu hingga menyerupai sebuah benang dan barang siapa bisa memutus otot ini dengan tangan akan mendapatkan uangnya. Dan alhasil, tidak ada seorang mahasiswapun yang bisa.

Bagaimana dengan telurnya? itu juga gak kalah edan. pas saya buka cangkangnya ternyata bukan lagi telur yang terlihat tetapi malah anak bebek yang udah berbulu,berkepala lengkap dengan kakinya, koit kepanasan. Yaagghh!

Saya hanya bisa mengguman dalam hati sambil mengumpat “dasar kecoak.” yah itulah nama panggilan mereka kalo kita sempet frustasi jika kita berhadapan dengan orang orang lokal ini.lho kok panggilnya begitu? nah kalo rekan blogger sering ngikutin postingan ini ada sejarahnya tuh. bisa di baca postingan saya terdahulu disini.

Saya sampai mikir dan membayangkan kalo seratus pedagang asongan Jakarta hijrah disini dari tukang gorengan, mie tek tek, mie ayam, bubur ayam, sate kambing, sate ayam, pempek palembang sampe nasi padang keliling, dan bersaing dengan mereka, mungkin mereka semua pada bangkrut …heee…gak mungkin kali ye? bisa bisa kita keburu dipulangin kayak TKI di Malaysia itu.

Ps: Sorry gak bisa nampilin gambarnya, ntar pada jijik lagi. selain itu pula ngirit jatah bandwith.

Written by boyindra in: chit chat, kamboja | Tags: ,
May
05
2009
28

Budaya melayani dan menghormati

ronaldnamasteSetiap pagi biasanya saya selalu bangun pukul 6, karena hanya di pagi hari lah saya bisa menghirup udara yang segar terutama karena kebetulan kami menyewa rumah di pinggir jalan besar. Kalo telat dikit sampai jam 7.30 sudah pemandangan kendaraan roda empat yang macet kanan dan kiri jalan akan memenuhi pemandangan dari depan rumah. Maklum office hours disini adalah jam 8 bukan seperti di Indonesia yang jam 9.

Ada pemandangan menarik yang selalu saya jumpai setiap pagi sekitar pukul 6.30, dimana terlihat pemandangan beberapa guru sekolah yang persis di seberang rumah saya sudah mulai berdiri di depan pagar sekolah dengan rapih.

Pertama kali saya melihat, saya cuma heran. “ngapain itu para guru pada di depan pagar sekolah SD beramai ramai gitu?” Berhubung saya sudah satu tahunan kerja di Vietnam sehingga saya nggak ngerti kebiasaan yang terjadi disini. Lalu saya tanya istri saya dan dia bilang itu memang tradisi sekolah SD disini, bahwa para guru memang harus berdiri di depan pagar sekolah untuk menantikan para murid untuk memberikan pelayanan menurunkan si anak dari boncengan motor yang diantar orang tua atau menghampiri dan mengantar ke kelas setelah mobil dibukakan oleh satpam, jika si anak naik mobil.

“o, gitu yah?” saya cuman manggut manggut dan saya tanyakan lagi, apa memang begitu banyak sekolah di Phnom Penh ini sehingga harus memberikan pelayanan seperti itu sebagai bentuk kompetisi? ternyata tidak.

sekolah

Kebiasaan tersebut memang terjadi di seluruh TK dan SD di seluruh Phnom Penh atau Kamboja pada umumnya dan sebagai balasannya si murid pun otomatis membalasnya dengan salam “Sompeah” sambil mengucapkan “chum reap sour” (baca: cumripsu) yaitu mencakupkan tangan di dada atau sama dengan tangan dalam posisi menyembah sebatas dada. Di Thailand salam ini yang biasa dinamakan “Sawasdee,ka” digunakan di semua kalangan baik muda ataupun tua. Di India dinamakan “Namaste”, di Bali juga tradisi ini yang sering disertai ucapan “Om Swastyastu” biasanya di gunakan bila ada perayaan upacara adat sebagai bentuk penghormatan dan selamat datang. Di Betawi mungkin bukan dengan cara sompeah tapi dengan menempelkan jari tangan orang tua ke kening si anak.

Saya berpikir jika tradisi melayani dan saling menghormati ini di tanamkan sejak kecil maka besar kemungkinan hal ini bisa di jadikan pondasi untuk masa depannya kelak agar selalu mempunyai budi pekerti yang baik dalam menghormati sesama manusia. Buat saya tradisi ini sangat menyenangkan untuk dilihat.

Akhirnya pada kesempatan mengantar sekolah si kecil, saya juga menjumpai budaya yang sama, guru guru menunggu di depan pagar. Hanya berhubung international school yang dimana banyak anak anak sekolah serta gurunya pun berbeda bangsa dan kultur, maka kebiasaan sompeah ini tidak ada, hanya salam ala bule aja seperti “Good morning” oleh sang guru dan si anak pun membalas hal yang sama.

Bagaimana dengan TK dan SD di Indonesia? Jika di terapkan, kayaknya bisa menjadi pemandangan menarik untuk di lihat tuh, tentunya diselaraskan dengan kebiasaan adat setempat.

Written by boyindra in: chit chat, kamboja, marketing | Tags: ,
Dec
09
2008
66

Jangkrik goreng ini, bukan kecoak

Seperti biasa, setiap bulan saya mengambil jatah libur untuk menengok istri dan anak yang ada di kamboja. kalo kata orang “life is struggle” itu emang berlaku buat saya. Gimana nggak mereka udah saya ajak keluar negeri…eh masih saya tinggal lagi ke negeri yang lain. “Dobel luar negeri” istri saya bilang. Tapi dengan alasan untuk masa depan,apa boleh baut…..eh buat maksudnya. Liburan minggu ini (makanya jarang blogwalking nih), saya sempatkan jalan jalan dengan istri di sebuah pasar di tengah kota Phnom Penh. Pshar Thmey atau central market sesuai dengan namanya pasar ditengah kota.

Sore hari adalah waktu yang tepat kalo ingin hunting makanan tradisional karena para pedagang itu mulai menjajakan dagangannya kebanyakan di sore hari. Ada yang jualan bubur isi jeroan, sate jeroan, cumi bakar, mie goreng ala kamboja yang mie nya gede gede campur toge sampai kayak di Indonesia yaitu rempeyek udang.

(more…)

Written by boyindra in: food, kamboja | Tags: , ,
Nov
15
2008
6

Cambodia Water Festival

Dalam rangka merayakan HUT negara Kamboja ke 52, setelah melalui serangkain upacara dan pawai. Hari selanjutnya di lanjutkan dengan perlombaan kapal tradisional dayung yang dikenal dengan nama water festival. Seluruh rakyat Kamboja turut merayakan dan seperti biasa sejak hari minggu sampai hari kamis merupakan libur national. Kamboja memang terkenal dengan banyak liburnya, dalam setahun ada 25 hari tanggal merah tidak seperti di Indonesia yang 12 hari atau paling males lagi di Vietnam yang cuma 9 hari.

(more…)

Written by boyindra in: chit chat, kamboja | Tags: , ,
Oct
14
2008
43

Es Tebu, potensi bisnis yang belum dimasyarakatkan.

Kalo kita melihat begitu maraknya toko toko kecil menjual pulsa dan aksesoris handphone di sudut sudut jalan di kota kota besar Indonesia, tidak berbeda banyak di Cambodia dan Vietnam. Hanya saja yang tidak kalah banyak di pinggir pinggir jalan adalah pedagang es tebu.

Es tebu atau bahasa vietnamnya adalah Nuoc Mia dan bahasa cambodianya tek em pew (kira2 gitu kalo dilafalkan) pedagang es tebu ini tidak hanya mengkhususkan menjual es tebu saja, kebanyakan menjadikanya sebagai sampingan seperti toko kelontong juga penjual roti sandwich tradisional ( yaitu french bread/roti panjang diisi irisan daging, ketimun,dsb.), juga toko penjual pulsa hp!

(more…)

Written by boyindra in: business, kamboja, vietnam | Tags: , ,

Powered by WordPress | Aeros Theme | TheBuckmaker.com WordPress Themes