Category Archives: Human Resources - Page 2

Kebiasaan berbahasa 4L4Y

Dalam dunia perhotelan, segala sesuatunya adalah image, dari mulai dekorasi, interior sampai segala perlengkapan makanan dan minuman, gelas gelas yang up to date semuanya menunjang lifestyle dan positioning dari hotel tersebut.

Kalo mengenai human capitalnya tentnunya berkenaan dengan bagaimana menjadikan tenaga tenaga pekerja kita menjadi tenaga trampil dan mempunyai postur tubuh yang baik, rambut yang rapi, baju yang bersih, kuku yang tidak panjang, dan lain sebagainnya.

Read more »

Proses recruitment yang tidak adil

Minggu kemarin teman saya di perusahaan yang berbeda mengeluhkan bossnya karena suka mengambil keputusan sendiri jika akan merekrut karyawan untuk pegawai hotel yang notabene akan menjadi anak buahnya.

“emang kenapa” tanya saya waktu itu. Dia beralasan si boss tidak begitu mempertimbangkan latar belakang pendidikan, asal muka ok dan komunikatif maka untuk urusan sekelas R&F atau tingkat pelaksana tidak akan menjadi persoalan.

Read more »

Peduli Angka

Semenjak menjadi salah satu pimpinan di perusahaan yang sekarang, agaknya ada pola tertentu yang tercipta yang tidak pernah dilakukan sebelumnya.

Dengan target tahunan yang harus di capai, praktis yang harus dilihat adalah angka realisasi terhadap anggaran baik harian maupun bulanan hingga per quarter atau per 4 bulan. Tiap hari yang di baca pertama kali adalah laporan harian yang menandakan sampai dimana bisnis kita berada. Hati gemas jika saat bisnis sepi terlihat tanda kurung dikolom selisih yang menandakan apa yang kita upayakan masih kurang demikian juga sebaliknya. Kalo sudah begitu hari hari rasanya kurang, 12 jam ditempat kerja rasanya kurang cukup untuk memenuhi hal hal yang ada di kepala ini.

Hanya saja ada hal yang rasanya cukup aneh, jika saya merasa pasrah atas kondisi yang terjadi, tiba tiba begitu banyak bookingan atau bisnis datang yang pada akhirnya pada akhir bulan rata rata penghasilan yang kita anggarkan ternyata tercapai.

Jika melihat anak buah, saya ingat diri sendiri beberapa tahun silam, yang dimana kita bekerja dengan plot yang sudah digariskan dan tidak begitu perduli angka yang di raih, sekilas pasti ingin tahu juga tetapi bukanlah hal yang essential.

Ora et Labora alias bekerja dan berdoa agaknya slogan yang cocok buat saya agar bisa lebih menyadari bahwa segala sesuatunya bukan mutlak berada pada kontrol kita, dan bukan pada sebuah indikator atas kerja keras kita. Ada tangan tangan yang tak terlihat yang agaknya juga mempengaruhi dari hasil yang kita upayakan. Ada pengalaman lain umpamanya di tempat kerja lain atau pas di bangku sekolah atau kuliah misalnya antara ngotot versus pasrah?

Sanksi untuk Citibank

Baru baca di kompas kemarin soal sangsi dari Bank Indonesia (BI) untuk citibank yaitu ada 3 sanksi, Sanksi pertama berupa larangan menjaring nasabah kaya dari Citigold selama satu tahun. Sanksi kedua berupa larangan penerbitan semua jenis kartu kredit selama dua tahun. “Sanksi ketiga, bank juga dilarang menggunakan jasa penagih utang atau debt collector selama dua tahun.

Untuk orang yang memang tidak berhubungan dengan Citibank agaknya dari komentar komentar yang masuk banyak yang menghujat dan menilai kalo hukumannya sangat sangat ringan. Tapi bagi saya sendiri yang dulu pernah kerja disana dan gara gara Amrozi cs ngebom bali di tahun 2002 kemarin sehingga mengakibatkan card center kami ditutup, hal itu bukanlah sesuatu yang mudah.

Perlu diingat yang bermasalah sebenarnya adalah para pelaku dan pengambil keputusan alias bos bos disana yang menggunakan jasa debt collector serta masalah oknum nyong melinda yang membobol untuk kepentingannya sendiri. Dari oknum oknum ini kalo sampai berimbas dari ratusan orang yang mencari kerja di Citibank agaknya sangat kurang bijaksana mengingat mencari pekerjaan baru selalu merupakan hal yang sulit.

Yang paling apes dari hal ini adalah pekerja sales KK yang dimana mereka ini bekerja untuk Citibank tapi bukan under Citibank alias mereka bekerja di perusahaan yang ditunjuk oleh Citibank untuk membantu penjualan KK tersebut atau bisa disebut juga jasa outsourcing yang gaji basic dan bonusnya dibayar oleh Citibank. mereka ini jumlahnya lumayan banyak, bayangkan kalo jumlah ini dikalikan oleh banyaknya kota kota besar di seluruh indonesia mengingat KK Citibank ini merupakan salah satu KK terbanyak peredarannya di Indonesia.

Duh,..nganggur maning, nganggur maning….saya teringat kehidupan saya dulu yang lumayan baik dan akhirnya harus over kredit mobil gara gara card center saya ditutup dan lumayan terseok seok untuk bangkit kembali.

Saya tidak bermaksud menyalahkan siapa siapa tapi yang jelas, nganggur itu tidak enak, apalagi masih ada rentetan dibelakang kita yang memang hidup dari hasil kerja keras kita ini. Semoga mereka mereka yang menjadi korban dari oknum oknum tersebut mendapatkan perlindungan dari Yang Maha Kuasa. Amin

Terjebak dalam Jabatan

Suatu hari saya dikirimin oleh seorang teman lama yang singkatnya kira kira seperti ini..”tolongin donk cariin gue kerjaan..yang kira kira sesuai dengan jabatan gue sekarang…”.

Lalu saya balas seperti ini,” ada bro, tapi levelnya turun nih, kalo paket gue rasa ok banget lah..”

Seperti judul diatas, bisa ditebak, kalo kawan lama saya ini jelas menolak informasi yang saya beri. Saya sebenarnya gak menyalahkan orang orang yang berpikiran bahwa jabatan lebih penting dari uang, karena bapak saya sendiri juga sering bilang yang saya lupa bahasa jawanya yang pake imbuhan “katut..katut…” yah yang intinya dengan jabatan yang baik, otomatis uangnya juga akan ikut baik.

Sekali lagi saya nggak menyalahkan opini seperti itu, saya pun juga waktu masih baru baru kerja juga mempunyai pedoman yang sama, hanya saja yang saya lakukan tidak membabi buta pindah ke perusahaan lain yang menawarkan jabatan yang lebih baik. Alasan saya cukup simple saja yaitu bahwa perusahaan pun punya kasta!

Sewaktu bekerja di industri perhotelan, saya punya jabatan rangkap yang teman teman blogger mungkin sudah mengetahui jika mengikuti blog ini dari dulu bahwa saya dulu seorang penjual kartu kredit. Seperti halnya sales kartu kredit, pengetahuan tentang perusahaan mana dan jabatan apa saja yang memenuhi kriteria untuk di prospek adalah hal basic yang seluruh sales harus ketahui agar pekerjaannya tidak sia sia. Apa yang digariskan dari perusahaan itu yang kita harus turuti agar prospek kita mendapatkan approval dari bank dan akhirnya kita juga yang akan menikmati komisi atau bonus.

Seiring dengan pengalaman itulah, mengetahui level suatu perusahaan satu dengan yang lainnya menjadikan pengetahuan baru bagi saya. seperti contoh: seorang supervisor di suatu perusahaan A dari slip gajinya dapat dilihat bahwa penghasilannya lebih besar daripada seorang Director di perusahaan B. Tidak percaya? jadilah sales kartu kredit…heee… bahkan si supervisor ini malahan dapat incentive berupa Handphone dan pulsanya serta mobil perusahaan yang walaupun catnya penuh dengan logo perusahaannya tapi boleh dibawa pulang ke rumah.

Dalam cerita yang lain, saya punya bekas anak buah yang cukup agresif dan berambisi untuk sukses di usia muda, hal yang sangat positif tentunya. Teman ini akhirnya bisa mewujudkan cita citanya untuk menduduki jabatan yang diinginkannya dengan cara berpindah pindah pekerjaan di perusahaan yang lebih kecil dari perusahaan kami sebelumnya di luar kota Jakarta sana. Waktu berlalu, sekali lagi dengan ke agresifannya dia mencoba melamar lagi di perusahaan perusahaan besar dengan posisi yang sama. Dengan kualifikasi yang dimilikinya, Pihak HR sangat senang mendapatkan calon yang berkompeten seperti dia, hanya saja dilihat dari segi pengalaman, mereka menawarkan jabatan turun 2 level dari jabatan yang didapatnya sekarang. Gaji? jelas lebih besar dari yang didapatnya sekarang. Apakah mudah bagi seorang teman ini untuk memutuskan? sangat manusiawi, jawabannya “tidak mudah”.

Ini gambaran anak anak muda sekarang pada umumnya, untuk menutupinya, mereka bergaya hidup diluar kemampuan mereka hanya untuk memPASkan seorang yang mempunyai jabatan ini kudu punya barang, gadget, mobil yang sesuai dengan jabatannya, padahal kreditnya sangat menjerat leher kalo tidak, bisa dipastikan dalam acara networking dengan rekan rekan kerja yang lain akan menjadi bahan candaan saja.

Tidak susah sebenarnya untuk menentukan kasta dari suatu perusahaan, asal emosi tidak menguasai dalam mengambil keputusan, anda tak akan terjebak dalam jabatan tak berduit itu.

Taman bermain anak anak Gratis di Red monumen

Secara tak sengaja saya menemukan taman bermain baru ini, sewaktu mengantar istri ke salon. Saya menggunakan waktu untuk keliling di alun alun kota Phnom Penh di sekitaran Red monumen. Pada malam hari sekitar pukul setengah 8 malam, taman itu masih terlihat ramai dengan anak anak, maka saya putuskan keesokan harinya ingin mengajak si kecil kesana.

Keesokannya si kecil sudah tak sabar menelpon papanya agar pulang lebih cepat sehingga bisa ke taman bermain itu sebelum gelap. Sesampainya disana saya cukup tercengang untuk negara sekelas kamboja kok bisa bisanya membuat taman public ditengah tengah kota yang menurut saya cukup bagus. Jenis mainan yang bagus dan lengkap ditengah tengan taman yang didesign untuk rindang pada jangka panjang, toilet umum, serta kafe untuk orang tua yang mengantar.

kids playground

kids playground1

Untuk orang tua yang punya anak kecil seperti saya, taman ini cukup membantu sekali karena fasilitas yang ada didalamnya juga sangat membantu ketangkasan anak daripada setiap hari hanya main game online di dalam rumah, setelah bugar dari bermain, anak minta saya membantu tugas PR yang didapatnya dari sekolah dan tidurpun lebih lelap.

kids playground2

Pikir pikir sekorup korupnya pejabat disini, masih sempet sempetnya mikirin rakyat kecil dengan membangun ruang public yang asri dan gratis tentunya yang tidak hanya dinikmati oleh anak anak penerus generasi bangsa ini tetapi juga sarana ngobrol orang tuanya juga. Bagaimana dengan di Indo, seharusnya sebagai negara yang jauh lebih kaya, apakah hal hal seperti ini mendapatkan perhatian?

Penyebaran budaya makan tempe yang mendunia

Di kamboja sini khususnya di Ibukota Phnom Penh terdapat 4 restaurant Indonesia yang dimana karena kota yang kecil disertai dengan eratnya perkumpulan antar insan insan di perantauan tersebut membuat kami menjadi saling mengenal. Tidak hanya saling mengenal saja tapi semuanyapun terlibat aktif untuk kegiatan kegiatan yang diadakan oleh komuniti kami maupun yang diselenggarakan oleh kedutaan.

tempecambodia

Saya mempunyai teman yang mempunyai misi sebagai misionaris di kamboja, disela sela melakukan pekerjaannya sebagai misionaris dengan banyak bepergian di kampung kampung, keluar masuk provinsi di penjuru kamboja ini, ada hal yang menarik perhatian saya adalah bahwa teman ini memulai kegiatannya dengan membuat tempe. Tempe fresh ini tidak hanya dinikmati dan didistribusikan kepada kita kita di komuniti Indonesia tetapi juga diperkenalkan sebagai makanan alternatif baru untuk masyarakat kamboja yang tadinya tidak mengenal tempe sama sekali.

Beliau dalam kunjungannya ke kampung kampung mencoba memperkenalkan tempe dari rasa, hingga mengajak mereka untuk menikmati sajian dari tempe secara gratis. Lambat laun tidak menutup kemungkinan cara memproduksi tempe pun akan diajarkan sebagai bagian misi membangun kehidupan para penduduk di pedesaan kamboja agar lebih mandiri dan memperoleh penghasilan  dari makanan alternatif ini.

Saya teringat akan kasus saling klaim budaya antara negara kita dengan negara tetangga kita tempo hari. Persoalan penyebaran budaya itu mungkin sudah dilakukan tidak hanya beberapa dekade lalu, tapi mungkin juga sudah lebih lama daripada itu. Seperti halnya bahasa, pakaian, lukisan, ukiran, tarian, dan lain sebagainya asalkan kita tidak berhenti dan terus melestarikan budaya kita sendiri, saya amat tidak yakin 100 tahun kedepan, kamboja akan mengklaim bahwa tempe adalah makanan khas mereka.

Encouragement

Saking sukanya sama tulisan ini di internet, sampai ingin menyebarkannya juga, sapa tau yang punya anak akan mendapat pelajaran dari pak Renald ini. Selamat membaca.

Encouragement

(Artikel inspiritaif ini ditulis oleh Rhenald Kasali*. Semoga bermanfaat)

LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat.

Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa. Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana.

Saya memintanya memperbaiki kembali,sampai dia menyerah.Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberi nilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri. Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?” “Dari Indonesia,” jawab saya. Dia pun tersenyum.

Read more »

Makna hari raya Pchum Ben Day

Bulan Oktober emang banyak liburnya, tanggal 7,8,9,10 adalah hari raya Pchum Ben day dan belum tanggal 29 ada coronation day dan tanggal 31 ada Raja Sihanouk’s Birthday (bapaknya King). Dengan total libur nasional sebanyak 25 hari dalam setahun, tinggal disini cukup menyenangkan, hingga tadi malam untuk membeli tiket bus ke vietnam sudah penuh semua tetapi akhirnya kami dapat tiket yang jam 5.30 pagi. Ah, gak papa yang penting liburan lagi.

Kali ini hanya ingin sharing tentang apa itu hari raya Pchum Ben day, sebenarnya hari raya ini adalah hari raya masyarakat kamboja untuk berdoa kepada para arwah leluhur yang telah meninggalkan mereka agar mendapat tempat yang baik di alam sana.

Kamboja percaya bahwa meskipun makhluk hidup kebanyakan bereinkarnasi pada kematian, karena karma buruk, beberapa jiwa…

Read more »

Life is not fair, get used to it

Itu salah satu kata kata om bill gates yang terkenal. Kalo saya sih secara surgawi gak percaya, karena hidup ini selalu menjaga balancenya/ keseimbangannya, buktinya abis malam ada siang, habis kenyang lapar lagi, dan berbagai macam contoh dualisme kehidupan yang lainnya.

Tapi kalo secara duniawi, kenyataannya memang yang kita lihat banyak terjadi secara terang terangan, dan ini pula yang saya dapatkan dari cerita teman. Teman ini mengeluh karena dia baru tahu kalo anak buahnya yang notabene orang baru yang masih dibawah depatemennya, gaji si anak ini lebih besar dari gajinya…., waahhh saya cukup kaget mendengarnya, lha kok bisa didunia expat yang menjunjung profesionalisme kok bisa bisanya kejadian kayak gitu? batin saya.

“lucu banget neh, gue yang ngawasin kerjanya die, dan beberapa departemen lain, eh ini anak bisa dapet segitu!”ujarnya. Pertama kali yang saya tanyakan adalah, darimana dia mendapat informasi valid seperti ini, dan ternyata memang informasi ini kemungkinan besar bisa dipercaya.

Akhirnya saya hanya menyarankan bahwa dia harus mulai mencari pekerjaan yang lain selain di perusahaan ini, karena bau bau politik sudah terasa, alias sebentar lagi dirinya akan kena korban PHK setelah kontrak abis, sambil menceritakan beberapa kejadian kejadian lain yang pernah terjadi sewaktu kita pernah bekerja di waktu sebelumnya, dan teman ini mengangguk mengerti. Cara dan trik politik kantor sudah pernah saya bahas sebelumnya disini.

Ditengah perjalanan cerita, sang teman banyak sekali mengeluhkan tentang kehidupan yang tidak adil seperti ini, semua bisa didasarkan oleh warna kulit, asal negara, kemampuan berbahasa lain selain inggris, dan banyak faktor lainnya. Ditengah tengah curhatnya yang cukup melelahkan untuk didengar akhirnya saya menyela dengan mengatakan kata seperti judul diatas “Hidup emang tidak adil, jadi biasakanlah” sang teman terhenti sejenak mendengar kata kata saya dan tetep aja ngelanjutin curhatnya (wadooohh).

Andaikata sang teman ini tidak larut dalam emosinya dan mendominaasi percakapan, saya ingin sekali menyadarkannya bahwa banyak sekali rekan seprofesi yang bekerja dalam posisi yang sama di tanah air harus rela bermacet macet ria, menghadapi kerasnya hidup di ibu kota, dipalak, kerja kudu berangkat 3 jam sebelumnya dan nyampai rumah 3 jam sesudahnya ditambah lagi kudu mendapatkan kurang dari setengah gajinya sekarang. Ditambah lagi masalah hidup yang lain seperti listrik mati, genteng bocor, mobil rusak kerendem banjir, ditelponin debt collector dan masih banyak yang lainnya.

Intinya kudu bersyukurlah. Kalo dia bisa berkata life is not fair, lha yang di tanah air juga bisa berkata seperti itu pula khan?