Category Archives: business

Konsultan Hotel

Entah jalan Tuhan atau tidak, kebetulan banget, 4 tahun belakang ini saya selalu bekerja di hotel yang mempunyai tantangan yang tidak mudah untuk di handle. Tidak mudah dalam artian bukan sulitnya memanage human capital atau target dari owner sang pemilik hotel melainkan banyak hal mengenai kesulitannya hotel dalam keadaan krisis keuangan.

Hotel sebenarnya merupakan investasi yang cukup menarik karena rata rata punya hotel itu tidak akan rugi jika tahu cara mengelolanya serta mengerti bener model bisnis nya. Jika hotel tersebut tidak untung pun, asalkan tidak ngerepotin owner untuk gajian dan keperluan operasional lainnya minimal NPV atau nilai aset nya akan naik seperti halnya membeli sebuah property.

Yang bikin runyam kalo bangun hotel pakai pembiayaan bank yang DER nya hampir semuanya pinjaman sedangkan si owner kena bujuk rayu dan janji surga para pemilik brand/ hotel operator yang pastinya 100% bilangnya postensi untung nya besar. Makanya jangan pelit pelit untuk minta dibikinkan FS atau Feasibility Studi sebelum memulai investasi di hotel dari pihak ketiga selain hotel operator. Karena jeleknya kalo sudah nafsu pingin punya hotel, ibarat ngebet punya mobil idaman yang pasaran dan spare part nya jarang akhirnya ngeluh sendiri dan terjebak oleh kesulitan demi kesulitan. Oya kalo mau dibikinkan FS, murah kok sama saya…heee…

Penyakit umum pemilik hotel adalah mulai bikinnya dengan banyak sekali potong potong biaya di awal pembangunan yang menyebabkan kualitas konstruksi jadi minus lalu ketidakmampuan mengelola, memasarkan serta pemilihan Manager yang salah. Hal ini lumrah karena minusnya pengalaman di Industry ini sehingga hampir tidak punya feeling yang tepat untuk menentukan team yang baik. Setelah hotel berjalan baru tahun pertama, ke_2, tahun ke_3 mulai banyak sekali kerusakan yang terkesan “Abadi” alias gak selesai selesai penyakitnya, Kalo diceritain bisa puluhan halaman gak kelar ini cerita. Intinya variable cost tambah bengkak dan profit yang diharapkan untuk bayar cicilan bank tinggal angan angan. Sukur sukur gak ngeluarin uang dari kantong pribadi untuk injeksi dana operasional dan payroll.

Begitu kompleksnya masalah hotel, di kesempatan ini saya menawarkan diri untuk menawarkan jasa konsultasi singkat bagi hotel bapak/ibu yang dalam kesulitan dengan menawarkan solusi meliputi Finance, Sales & Marketing, Human capital, F&B operation dan efficiency di Engineering/Maintenance. Minimal Owner tercerahkan dengan hasil dari pengalaman saya menghandle beberapa property yang bermasalah. Konsultasi ini tentunya dengan melakukan investigasi terutama di internal keuangan secara  menyeluruh, sisi operational sehingga saya bisa memberi input kepada pemilik apa yang seharusnya dilakukan untuk dilaksanakan langkah langkah penyelamatan dengan segera.

Sekian dulu, Jika ada yang ingin ditanyakan, langsung saja tinggalkan komentar atau japri aja ke email saya indra@boyindra.com

 

Panduan singkat Lulus CHA

CHA1CHA atau singkatan dari Certified Hotel Administrator adalah suatu title bergengsi di Kalangan General Manager di Industry perhotelan. Semua GM di industry perhotelan tidak harus menempuh pendidikan ini tapi trend akhir akhir ini marak menimbulkan antusiasme di kalangan para GM untuk mendapatkan title ini. Sayangnya karena sampai sekarang informasi ini terkesan seperti di sembunyikan bahkan data untuk tingkat kelulusan nya juga banyak yang disembunyikan atau tidak terpublikasi.

Dari hasil kong kow dan melakukan tanya sana sini (bukan tanya jawab) ternyata banyak GM yang sudah melakukan sertifikasi ini dan ternyata banyak juga yang tidak lulus. Walaupun diberi kesempatan melakukan “retake” tetapi justru peluang lulus nya malah semakin kecil.

Untuk itu saya ingin berbagi pengalaman dalam bentuk panduan karena banyak GM yang lulus tidak secara terbuka memberi tahu rahasia bagaimana mereka bisa lulus ditengah banyaknya para GM yang tidak lulus dan bahkan tidak tahu apa apa mengenai proses ujian CHA ini.

Di Indonesia kebanyakan CHA nya lulusan dari AHLEI atau AMERICAN HOTEL & LODGING EDUCATIONAL INSTITUTE yang bermarkas di Orlando, Florida sana. Nah untuk itu mari kita lihat persiapannya sebagai berikut,

Read more »

Makin tinggi makin sepi

Ini cuman buat sharing aja untuk urusan karir di dunia perhotelan..inget lho perhotelan, kalo setuju silakan di cermati, kalo tidak setuju silakan dijadikan sekedar bahan bacaan, jika belum melewatinya ya jadikan saja referensi, siapa tahu saya ngomongnya bener…haaa..

R&F

Jika kita meniti karir dari level bawah anggap aja dari R&F (rank and file) alias staff, kehidupan kebanyakan dihadapi bersama sama, entah cukup dengan 2 orang sahabat saja ataupun banyak teman. Bujangan atau sudah menikah tidak banyak persoalan, jam kerja selesai langsung pulang….tekanan kerja seketika menghilang. Waktu bisa di alokasikan untuk bersama teman, keluarga, hobi dan yang paling sering menyita waktu adalah ngomongin pekerjaan atau atasan, entah kebijakannya, entah tingkah laku nya, ataupun kehidupan prbadinya.

SUPERVISOR/ CREW LEADER

Ketika menjadi Supervisor, tanggung jawab meningkat tapi masih bisa kongkow dengan staff yang notabene masih teman seperjuangan, Jika ada beban kerja tinggal di hand over atau dialihkan ke supervisor yang lainnya dan blass! Kita balik ke kehidupan normal kita lainnya. Yang suka nongkrong bareng teman bisa langsung menghubungi temannya, yang punya bisnis sampingan bisa mengerjakan bisnisnya, yang punya urusan rutin keluarga seperti nganter ortu, anak, istri bisa langsung dilakukan.

MANAGER

Nah yang ini udah mulai banyak yang diurusin, udah mulai sering kena tekanan atasan atas pencapain target pekerjaan dan evaluasi hasilnya. Suka deg deg an apakah akan diperpanjang kontraknya apa nggak, jika dirasa nggak click atau sehati sama atasan maka 6 bulan menjelang kontrak kerja habis, mulai cari cari lowongan di internet atau hubungi teman teman lama. Jika hidupnya baik baik saja masih bisa main bareng sama staff ataupun supervisornya. Nongkrong di cafe, mancing bareng atau sepedaan pas hari OFF.

GENERAL MANAGER (GM)

Menjadi GM di sebuah hotel mirip mengelola kota kecil, minimal ada 7 departemen yang diurusin dari Housekeeping, Front Office, Finance, Human Resources, Sales & Marketing, Enginering, F&B Service yang meliputi GYM & SPA didalamnya dan F&B product / Kitchen. Kalo gak sebesar itu hotelnya ya mumetnya masih beda beda tipis lah. Dalam posisi ini akrab dengan staff bisa disalah artikan, jangan kan staff, dengan Manager aja bisa dianggap satu gank. Penilaian “LIKE” dan “DISLIKE” akan jadi pertimbangan yang sangat subyektif dimata para pegawai apapun jabatannya.

Anda ingin jadi GM yang ideal dan bagus di mata para staff anda? Ingat tidak ada yang bisa anda puaskan. Semua punya penilaian masing masing, makanya banyak GM Bule yang lebih memilih bergaul di luar hotel dan mencari komunitasnya sendiri. Hal ini sekarang sudah menjadi fenomena pula untuk GM Lokal, makanya berdirilah asosiasi asosiasi seperti IHGM, IHGMA, dsb. Tetapi bergaul atau bersosialisasi itu khan nggak bisa setiap hari seperti apa yang staff lakukan di kantin hotel, loker, atau pun di luar hotel.

Lebih dari 14 jam GM habiskan bekerja di hotel. Yang “IN HOUSE” alias tinggal didalam ya artinya stand by 24 jam. Tidak ada pekerjaan yang bisa dilempar, semua harus diselesaikan sendiri bagaimanapun caranya. Mengelola keuangan sangat menentukan apakah karyawan anda bisa gajian bulan ini apa tidak, apakah cukup dana untuk THR misalnya?

Ibarat pohon cemara di pegunungan, anginnya keras dan kesepian di puncak gunung. Komplit lah sudah. Saya tidak tahu apakah perusahaan besar dengan bisnis model yang berbeda mengalami itu, tapi saya yakin tidak terlalu banyak berbeda. perbankan, FMCG, dll akan tetap sama, karena basic nya sama Manajemen.

 

Pentingnya Feasibility Study sebelum membangun Hotel

karikatur hotelSebenarnya semua orang juga tahu kalo gak cuman bisnis hotel tapi semua bisnis juga perlu bikin FS ini atau kepanjangannya Feasibility Study alias Study kelayakan. Tapi boleh ditanya , dilapangan banyak sekali owner atau pemiik perusahaan langsung aja membangun Hotelnya tanpa mikir panjang. Yang mau menggunakan hotel operator atau Hotel Chain langsung menghubungi mereka, tanya tanya harga, komisi atau fee nya jika menggunakan Hotel Chain tersebut ujung ujung nya apa? di Boongin oleh hotel operator tersebut. Di bilang prospeknya bagus lah, menjanjikan lah, dsb dsb.

Yang lebih parah lagi Owner yang mau hotelnya dibangun lokal alias tidak menggunakan Brand dari Hotel Operator tersebut dengan alasan ke pede an bisa mengelola sendiri karena menghindari kewajiban membayar Fee ke Hotel Operator, menghindari pajak dan berpikir..ah gampang tinggal nyogok petugas pajaknya aja untuk menghindari kewajiban pembayaran PB1, PPH21 boro boro PPH23, BPJS tenagakerja, BPJS kesehatan, dll…dll.

Hal hal diatas akhirnya berbuah maut, seperti yang terjadi sekarang ini Di Bali..gimana mau bisnis bagus kalo Hotelnya lebih banyak kamarnya  ketimbang wisatawan nya? Ditenggarai di Bali ini ada lebih dari 72 juta kamar yang tersedia atau bahasa spesifiknya Room Night (RN) dalam setahun sedangkan jumlah wisatawannya hanya 8 Juta? Cara menghitungnya mudah saja, RN dihitung banyaknya kamar tersedia dikali banyaknya hari dalam sebulan? setahun? itulah potential kamar yang bisa dijual. Jika mau dihitung orangnya, rata rata dalam satu kamar itu diisi 2 orang atau disebut double occupancy. Jika ada 8 juta wisatawan ya kira kira mereka hanya butuh 4 juta RN saja.

Di dalam FS banyak sekali komponen yang bisa terang benderang dijelaskan apakah sang pemilik modal akan menginvestasikan uangnya di industry perhotelan tersebut, karena sifat dari bisnis Hotel yang lebih ke Jangka Panjang, jika owner mencari konsultan FS yang independent (tidak dari Hotel Operator/Chain), trus pakai pesen gini lagi…”Mas…bikinkan FS ya..jelek apa bagus njenengan tetap saya bayar”. Nah itu akan lebih bagus lagi hasilnya…heee..

Komponen FS sendiri terdiri dari macam macam hitungan, dari ilustrasi Rugi Laba, ilustrasi potensial bisnis yang akan dicapai, skema bunga kalo si owner pinjem uang di bank, informasi biaya investasi dan berapa yang kudu dikeluarkan, penetrasi pasar dari hotel hotel pesaing di sekitar hotel yang akan di bangun sampai ke kesimpulan besaran NPV (Net Present Value) dan IRR (Internal Rate of Return).

Bayar orang untuk bikin FS juga nggak mahal mahal amat, tapi tidak membuat si pengusaha menyesal dikemudian hari karena bikin hotel sekarang ini sudah ngomongin ratusan milliar rupiah apakah ini bisa dikategorikan investasi main main?

Ps. Buat yang kenal pengusaha yang mau dibikinkan FS, bisa menghubungi saya ya..heee…

*Gambar diambil dari google di tourism-watch.de

 

Hotelier Karbitan

Bagi para mahasiswa lulusan perhotelan di era tahun menjelang 2000an, mereka merasakan tidak enaknya lulus pada tahun tersebut, selain jamannya krismon ditambah banyaknya pengusaha yang mengemplang dana pinjaman atau terkenal dengan istilah BLBI. Hingga setelah tahun 2000 pun dengan maraknya sekolah perhotelan khususnya di Bali banyak kalangan menyebutnya dengan era “Over Supply” alias kebanyakan muridnya dibanding jumlah hotelnya. Tak heran dari 30 orang teman saya di kampus hanya kurang dari 10 yang tetap berkarir di perhotelan, itu yang kami ketahui dari grup Facebook yang kami buat.

Read more »

Abu Dhabi dan rahasia nama Burj Khalifa

Dari Dubai ke Abu Dhabi sangat dekat, hanya 1, 5 jam perjalanan darat dengan melewati jalan besar 6 jalur tanpa gerbang tol, maklum negara kaya. Sebenarnya kami hanya penasaran saja pingin tahu ada apa di sana walaupun banyak orang yang mengatakan bahwa negara kaya ini tidak banyak yang bisa dilihat. Tapi berhubung perjalanan yang pendek, kenapa gak dicoba aja kesana.

Di Abu Dhabi pertama yang disinggahi sudah pasti bangunan mesjid terkenal kalo gak salah spelling namanya Seikh Zayed mosque. Seikh Zayed adalah nama Raja Abu Dhabi yang tentu saja sudah meninggal. Bangunan yang dikenal terbesar ketiga dari yang di Mekkah sana membuat banyak wisatawan datang berkunjung dan berfoto foto disana. Sebagai informasi khusus untuk wanita tidak diperkenankan berfoto tanpa mengenakan pakaian yang tertutup sehingga di depan mesjid tersebut disediakan pakaian tersebut secara gratis.

Persinggahan ke dua adalah melewati istana komplek raja Abu Dhabi yang luas dan panjang, berhubung dilarang mengambil gambar, akhirnya kita mengambil gambar dari seberang lautan saja…heee….setelah itu apalagi kalo tidak berkunjung ke Ferrari World. Tempat ini adalah tempat semua pernik pernik merchandise ferrari dari topi sampai baju yang di banyak dijumpai di Mangga Dua dengan harga 10%nya..hee…sebenarnya untuk kebutuhan studi banding karena mereka mempunyai wahana roller coaster berbentuk mobil Ferrari yang katanya kecepatanya seperti kecepatan mobil Ferrari di darat. Tapi berhubung rombongan mayoritas enggan mengeluarkan dana lebih sekitar US$50an untuk menikmati wahana tersebut akhirnya daripada di tinggal bus, mau gak mau musti manut deh….

Rahasia nama Burj Khalifa

Semua tahu bahwa sejak 2 tahun yang lalu, Dubai terkena krisis sampai kudu restrukturisasi hutang hutangnya yang gak mungkin kebayar, tetapi karena negara tetangga Abu Dhabi yang kaya minyak ini berani menjadi penjamin dari hutang hutang Dubai, maka secara eksplisit seolah olah Abu Dhabi seperti memiliki Dubai. Ini tercermin dari cerita teman sekelas saya dulu di kuliahan yang sudah menetap disana sejak 1998 bahwa ternyata Gedung tertinggi di Dunia dengan tinggi 830 meter itu sebenarnya memakai nama Burj Dubai, sebelum dibuka resmi,  kaos kaos, gelas, segala cenderamata sudah memakai nama itu dan pas hari H peresmian gedung tersebut, si announcer dalam acara pembukaan bangunan tersebut bengong seolah olah tak percaya bahwa dalam beberapa detik sebelum nama Burj Dubai akan diresmikan sekonyong konyong Seikh dari Abu Dhabi tiba tiba berbicara dan menggantinya dengan nama Burj Khalifa. Moment ini menjadi isu nasional dikarenakan disiarkan oleh banyak stasiun televisi, tapi mau gimana lagi namanya raja tetap seorang raja, bahkan isu seikh dari Dubai yang akan pindah kantor ke bangunan ini sampai sampai mengurungkan niatnya.

Yah sekedar sharing saja, walaupun banyak hutang tapi yang saya lihat bangunan bangunan sekelas mall dan apartemen terus dalam tahap pembangunan, dilihat dari laporan tingkat hunian kamar hotel di Dubai yang mencapai rata rata 81% dan rata rata harga mencapai US$160an, sebagai orang hotel tentu saja tahu bahwa bisnis hotel atau apartemen tetap menjadi bisnis yang masih sangat menarik di Dubai. Agaknya pemerintah Dubai cukup lihai dalam membaca masa depan, disaat cadangan minyak mulai menipis, negara tersebut beralih memajukan sektor financial dan tentu saja pariwisata dimana sektor pariwisata adalah bisnis terbesar ke 3 di Dunia jika dilihat dari perputaran uang di seluruh dunia dan Dubai agaknya tidak salah langkah.

Terjebak dalam Jabatan

Suatu hari saya dikirimin oleh seorang teman lama yang singkatnya kira kira seperti ini..”tolongin donk cariin gue kerjaan..yang kira kira sesuai dengan jabatan gue sekarang…”.

Lalu saya balas seperti ini,” ada bro, tapi levelnya turun nih, kalo paket gue rasa ok banget lah..”

Seperti judul diatas, bisa ditebak, kalo kawan lama saya ini jelas menolak informasi yang saya beri. Saya sebenarnya gak menyalahkan orang orang yang berpikiran bahwa jabatan lebih penting dari uang, karena bapak saya sendiri juga sering bilang yang saya lupa bahasa jawanya yang pake imbuhan “katut..katut…” yah yang intinya dengan jabatan yang baik, otomatis uangnya juga akan ikut baik.

Sekali lagi saya nggak menyalahkan opini seperti itu, saya pun juga waktu masih baru baru kerja juga mempunyai pedoman yang sama, hanya saja yang saya lakukan tidak membabi buta pindah ke perusahaan lain yang menawarkan jabatan yang lebih baik. Alasan saya cukup simple saja yaitu bahwa perusahaan pun punya kasta!

Sewaktu bekerja di industri perhotelan, saya punya jabatan rangkap yang teman teman blogger mungkin sudah mengetahui jika mengikuti blog ini dari dulu bahwa saya dulu seorang penjual kartu kredit. Seperti halnya sales kartu kredit, pengetahuan tentang perusahaan mana dan jabatan apa saja yang memenuhi kriteria untuk di prospek adalah hal basic yang seluruh sales harus ketahui agar pekerjaannya tidak sia sia. Apa yang digariskan dari perusahaan itu yang kita harus turuti agar prospek kita mendapatkan approval dari bank dan akhirnya kita juga yang akan menikmati komisi atau bonus.

Seiring dengan pengalaman itulah, mengetahui level suatu perusahaan satu dengan yang lainnya menjadikan pengetahuan baru bagi saya. seperti contoh: seorang supervisor di suatu perusahaan A dari slip gajinya dapat dilihat bahwa penghasilannya lebih besar daripada seorang Director di perusahaan B. Tidak percaya? jadilah sales kartu kredit…heee… bahkan si supervisor ini malahan dapat incentive berupa Handphone dan pulsanya serta mobil perusahaan yang walaupun catnya penuh dengan logo perusahaannya tapi boleh dibawa pulang ke rumah.

Dalam cerita yang lain, saya punya bekas anak buah yang cukup agresif dan berambisi untuk sukses di usia muda, hal yang sangat positif tentunya. Teman ini akhirnya bisa mewujudkan cita citanya untuk menduduki jabatan yang diinginkannya dengan cara berpindah pindah pekerjaan di perusahaan yang lebih kecil dari perusahaan kami sebelumnya di luar kota Jakarta sana. Waktu berlalu, sekali lagi dengan ke agresifannya dia mencoba melamar lagi di perusahaan perusahaan besar dengan posisi yang sama. Dengan kualifikasi yang dimilikinya, Pihak HR sangat senang mendapatkan calon yang berkompeten seperti dia, hanya saja dilihat dari segi pengalaman, mereka menawarkan jabatan turun 2 level dari jabatan yang didapatnya sekarang. Gaji? jelas lebih besar dari yang didapatnya sekarang. Apakah mudah bagi seorang teman ini untuk memutuskan? sangat manusiawi, jawabannya “tidak mudah”.

Ini gambaran anak anak muda sekarang pada umumnya, untuk menutupinya, mereka bergaya hidup diluar kemampuan mereka hanya untuk memPASkan seorang yang mempunyai jabatan ini kudu punya barang, gadget, mobil yang sesuai dengan jabatannya, padahal kreditnya sangat menjerat leher kalo tidak, bisa dipastikan dalam acara networking dengan rekan rekan kerja yang lain akan menjadi bahan candaan saja.

Tidak susah sebenarnya untuk menentukan kasta dari suatu perusahaan, asal emosi tidak menguasai dalam mengambil keputusan, anda tak akan terjebak dalam jabatan tak berduit itu.

Shrinking Vacation Syndrome

Kalo udah tau yang namanya akan liburan udah pasti gejala gejala psikologis akan nampak heee..ini kalo saya lho yah…soalnya minggu depan saya akan libur panjang pulang kampung halaman menengok bapak, ibu, paman, bibi, kakek, saudara misan, sepupu, dan teman teman sekerja dulu. Oya gejala psikologisnya tentunya, kerja jadi semangat, berasa seperti abis promosi jabatan, badan berasa seger, bibir senyum senyum mulu padahal kenyataannya compi dan BB kudu dibawa untuk memonitor kerjaan yang jalan terus. Tapi gak papa, yang penting judulnya, LIBUR.

Banyak yang malah pusing mau liburan, barang yang akan dibawa bisa jadi alasannya. buat yang bekerja di LN, oleh oleh bisa menjadi hal yang memusingkan, karena harus disingkronkan antara bentuk oleh olehnya dengan budget pengeluarannya ditambah pula beratnya koper yang akan dibawa.

Di Amerika sono krisis keuangan yang mengakibatkan bengkaknya angka pengangguran menyebabkan liburan menjadi sebuah sindrom yang disebut Shrinking Vacation Syndrome. Yang dulunya liburnya ke belahan dunia lain tanpa mikirin kerjaan, sekarang malah liburan tapi kerja jalan terus, malah ada yang gak bisa libur sama sekali ada pula dapat libur tapi bingung mau pergi kemana karena semuanya menjadi tidak terjangkau oleh kocek.

Beruntung kita di Indo apalagi yang masih punya kampung halaman, se resesi apapun keuangan kita, kalo bisa pulang kampung dan berkumpul bersama keluarga dan teman lama akan berasa nikmatnya. Makan ikan teri ama nasi panas aja langsung kita post di wall FB apalagi lengkap dengan krupuk dan sambalnya, intinya asal bisa kumpul dan melepaskan diri sejenak dari tekanan dunia kerja sudah membuat kita bahagia, sehingga sewaktu pulang kerja kembali, kita bisa merencanakan liburan kedepan dengan lebih baik lagi seperti menyiapkan tabungan khusus dari sisihan rejeki kita tiap bulan di negeri seberang.

Jadi liburan akhir tahun ini pada mau kemana nih?

Pajak oleh oleh dari LN

Perhatikan komen komen yang saya dapat mengenai kebijakan baru untuk tahun 2011 mengenai pajak yang dikenakan oleh bea cukai untuk barang oleh oleh dari Luar negeri, kalo pajak dari perorangan tidak lebih dari US$250 dan kalo barang bawaan keluarga US$1000,

“setuju, pak….. itu kalau Pak Menterinya orang pintar dan kreatif, pak….. Ini kan menteri asal kejar target penerimaan……. wajar keputusannyapun serba aneh…. mungkin Indoensia satu-satunya negara yang menerapkannya……..”

“negara pemeras,pejabat rampok…”

“Alhamdulilah, dengan adanya aturan ini uang masuk bagi petugas BC, Satpam bandara bahkan cleaning service yang akan jadi calo utk ngurus biar bisa bebas BM. Yah setidaknya uang yg sudah dikeluarkan utk sogok jadi pegawai BC, Satpam bandara bisa kembali deh.”

“Dasar otak udang ada di dengkul dan kemungkinan besar letaknya di bokong. Makanya gak aneh investor asing cabut dari indo karena banyak praturan yg gak masuk diakal. Bea cukai beraninya cuma ama rakyat kecil (average income family). Apa berani kenain bea masuk terhadap pejabat, conglomerate, billionaires? Mereka ini kalo shopping diluar negri bisa sampe ratusan ribu bahkan jutaan dollar tapi gak kena bea masuk. System bea masuk ude ada sejak dulu cuma skarang aje baru bergaung? yeah right!!! Bukannya tingkatkan keamanan di pelabuhan laut/udara tapi malahan bikin tourists jadi runyam sewkt dateng ke indo. Tourist ude dikenain visa on arrival masih gak cukup? Skarang harus declare barang2 bawaan dan bawa receipts camera, i-touch, n-book, ipad, portable game, dlsb. SHUT da F**K up.”

Komen diatas kayaknya udah mewakili perasaan dan pemikiran saya. Duh Indonesia, kok makin lama makin ancur begini kebijakannya….

Pak Mentri bawa kabar berita.

Saya paling doyan acara kumpul kumpul yang diselenggarakan oleh KBRI. Selain bisa kumpul kumpul bersama rekan rekan yang jarang dijumpai juga biasa…..makan makan gratisnya…heee.

Pekan kemarin kami ditelpon oleh staff kedutaan disuruh berkumpul kali ini dirumah Pak Dubes karena kami kedatangan tamu penting yang ternyata Pak Mentri Marty Natalegawa, menteri luar negeri kita.

Read more »