Author Archives: Boyin

Abu Dhabi dan rahasia nama Burj Khalifa

Dari Dubai ke Abu Dhabi sangat dekat, hanya 1, 5 jam perjalanan darat dengan melewati jalan besar 6 jalur tanpa gerbang tol, maklum negara kaya. Sebenarnya kami hanya penasaran saja pingin tahu ada apa di sana walaupun banyak orang yang mengatakan bahwa negara kaya ini tidak banyak yang bisa dilihat. Tapi berhubung perjalanan yang pendek, kenapa gak dicoba aja kesana.

Di Abu Dhabi pertama yang disinggahi sudah pasti bangunan mesjid terkenal kalo gak salah spelling namanya Seikh Zayed mosque. Seikh Zayed adalah nama Raja Abu Dhabi yang tentu saja sudah meninggal. Bangunan yang dikenal terbesar ketiga dari yang di Mekkah sana membuat banyak wisatawan datang berkunjung dan berfoto foto disana. Sebagai informasi khusus untuk wanita tidak diperkenankan berfoto tanpa mengenakan pakaian yang tertutup sehingga di depan mesjid tersebut disediakan pakaian tersebut secara gratis.

Persinggahan ke dua adalah melewati istana komplek raja Abu Dhabi yang luas dan panjang, berhubung dilarang mengambil gambar, akhirnya kita mengambil gambar dari seberang lautan saja…heee….setelah itu apalagi kalo tidak berkunjung ke Ferrari World. Tempat ini adalah tempat semua pernik pernik merchandise ferrari dari topi sampai baju yang di banyak dijumpai di Mangga Dua dengan harga 10%nya..hee…sebenarnya untuk kebutuhan studi banding karena mereka mempunyai wahana roller coaster berbentuk mobil Ferrari yang katanya kecepatanya seperti kecepatan mobil Ferrari di darat. Tapi berhubung rombongan mayoritas enggan mengeluarkan dana lebih sekitar US$50an untuk menikmati wahana tersebut akhirnya daripada di tinggal bus, mau gak mau musti manut deh….

Rahasia nama Burj Khalifa

Semua tahu bahwa sejak 2 tahun yang lalu, Dubai terkena krisis sampai kudu restrukturisasi hutang hutangnya yang gak mungkin kebayar, tetapi karena negara tetangga Abu Dhabi yang kaya minyak ini berani menjadi penjamin dari hutang hutang Dubai, maka secara eksplisit seolah olah Abu Dhabi seperti memiliki Dubai. Ini tercermin dari cerita teman sekelas saya dulu di kuliahan yang sudah menetap disana sejak 1998 bahwa ternyata Gedung tertinggi di Dunia dengan tinggi 830 meter itu sebenarnya memakai nama Burj Dubai, sebelum dibuka resmi,  kaos kaos, gelas, segala cenderamata sudah memakai nama itu dan pas hari H peresmian gedung tersebut, si announcer dalam acara pembukaan bangunan tersebut bengong seolah olah tak percaya bahwa dalam beberapa detik sebelum nama Burj Dubai akan diresmikan sekonyong konyong Seikh dari Abu Dhabi tiba tiba berbicara dan menggantinya dengan nama Burj Khalifa. Moment ini menjadi isu nasional dikarenakan disiarkan oleh banyak stasiun televisi, tapi mau gimana lagi namanya raja tetap seorang raja, bahkan isu seikh dari Dubai yang akan pindah kantor ke bangunan ini sampai sampai mengurungkan niatnya.

Yah sekedar sharing saja, walaupun banyak hutang tapi yang saya lihat bangunan bangunan sekelas mall dan apartemen terus dalam tahap pembangunan, dilihat dari laporan tingkat hunian kamar hotel di Dubai yang mencapai rata rata 81% dan rata rata harga mencapai US$160an, sebagai orang hotel tentu saja tahu bahwa bisnis hotel atau apartemen tetap menjadi bisnis yang masih sangat menarik di Dubai. Agaknya pemerintah Dubai cukup lihai dalam membaca masa depan, disaat cadangan minyak mulai menipis, negara tersebut beralih memajukan sektor financial dan tentu saja pariwisata dimana sektor pariwisata adalah bisnis terbesar ke 3 di Dunia jika dilihat dari perputaran uang di seluruh dunia dan Dubai agaknya tidak salah langkah.

Desert Safari Dubai, exoticnya padang pasir

Setiap bulan sebenarnya saya selalu punya jadwal keluar daerah dan luar negeri,  tetapi karena kesibukan yang tidak pernah berhenti membuat blog ini agak terbengkalai.

Kepergian kali ini adalah ke kota Dubai untuk mengikuti ajang ATM yaitu Arabian Travel Market, berhubung banyak tamu tamu hotel kami banyak yang dari kawasan timur tengah, maka ajang pameran ini tidak kami sia siakan apalagi kalo ajang ini di organize oleh kementrian pariwisata dan ekonomi kreatif secara gratis, jadi kami tinggal menyediakan biaya untuk akomodasi dan tiket pesawat saja.

Program selama 6 hari ini kami lalui dengan join beberapa tour yang biasanya diikuti bagi wisatawan yang pertama kali ke Dubai diantaranya yaitu desert tour atau safari gurun. Penyedia yang melakukan tour ini adalah lama tour sebuah tour and travel dari dubai yang dimana hampir semua mobil yang dipergunakan adalah sekelas land cruiser atau sejenisnya. Jarak dari kota Dubai tidak begitu jauh, hanya sekitar 1 jam perjalanan saja dengan rata rata kecepatan  mobil 120km/jam.

Setelah sampai di kawasan tersebut, peserta turun hanya untuk sekedar mempersiakan diri membeli air, ke toilet, dsb. Perjalanan akhirnya dimulai dengan off road layaknya paris dakar yang cukup menegangkan, seluruh kemampuan 4WD mobil tersebut dikerahkan, jika naik roller coaster di dunia fantasi sudah cukup menegangkan, yang ini sensasinya lebih dari itu pasalnya kita benar benar memasrahkan diri dengan kemampuan si driver ini. kalo salah sedikit saja, mobil bisa terguling ke cekungan/lembah gurun pasir. Tapi jangan khawatir, sang supir sudah menyiapkan kantong plastik bilamana anda tidak tahan dan ingin muntah…heee…

Sehabis petualang yang mengaksikan tersebut kami di jamu di suatu tempat di tengah gurun untuk santap malam, naik onta, dsb semuanya sudah dalam paket wisata tersebut. Biaya yang dikeluarkan adalah US$55 cukup sepadan dengan pengalaman yang didapat.

Disela sela makan malam, kami disuguhkan tarian putar ala arab dan tak ketinggalan bely dancer alias tari perut yang cukup mengagumkan, tak hanya dari kalangan wanita tapi juga khususnya pria…heee…

Selain foto foto ke pencakar langit Dubai seperti Hotel bintang 7 Burjl Arab atau bangunan tertinggi Al Khalifa, wisata ke gurun juga salah satu yang harus anda datangi. Mungkin pilih di sekitar bulan November untuk suhu yang bersahabat karena bulan April ini panasnya lumayan juga sekitar 38 – 45 derajat celcius, wah panas bener deh.

Cara permohonan pendirian/perombakan sekolah

Benernya ini bukan ngajari secara teknis bagaimana caranya, melainkan sharing pengalaman bapak saya dalam mendirikan sekolah untuk desa kami di Bali yang ternyata gak ruwet ruwet amat dalam pengajuannya.

Bulan yang lalu saya sempat liburan ke kampung halaman dan persis di belakang rumah kami terlihat bangunan baru yang tampak seperti sekolahan. Ternyata setelah saya tanya, itu salah satu proyek ayah yang sedang dikerjakannya. Saya cukup heran juga dan bertanya bagaimana desa bisa membangun sekolah dengan 6 ruangan ini. Kalo untuk tanahnya saya paham persis kalo tanah itu adalah tanah desa, tetapi walaupun dana pengelolaan LPD di desa saya sekitar lebih dari 16Milliar dan berpopulasi hanya sekitar 2000 KK saja, tidak mungkin desa membuatkan itu semua.

Read more »

Kebiasaan berbahasa 4L4Y

Dalam dunia perhotelan, segala sesuatunya adalah image, dari mulai dekorasi, interior sampai segala perlengkapan makanan dan minuman, gelas gelas yang up to date semuanya menunjang lifestyle dan positioning dari hotel tersebut.

Kalo mengenai human capitalnya tentnunya berkenaan dengan bagaimana menjadikan tenaga tenaga pekerja kita menjadi tenaga trampil dan mempunyai postur tubuh yang baik, rambut yang rapi, baju yang bersih, kuku yang tidak panjang, dan lain sebagainnya.

Read more »

Bunaken, Wisata laut yang mencengangkan

Sewaktu mengikuti perhelatan akbar ATF kemarin, saya tentunya bertemu dengan begitu banyak orang orang pariwisata, pemerintahan, buyer buyer luar negeri dan juga para boss agent lokal di manado itu sendiri.

Di Manado ada 2 Travel agent besar yang menjadi key player untuk menghandle kunjungan wisatawan Luar negeri maupun yang domestik. Dua duanya saya kenal baik pemiliknya, nah salah satunya kami sempat berbincang bincang mengenai bagaimana pariwisata Manado ini bisa ditingkatkan, dari konsep penerimaan tamu itu sendiri, promosi wisata kuliner sampai memasyarakatkan wisata bahari ke masyarakat Manado itu sendiri.

Read more »

ATF 2012: Manado kota yang mengesankan

5 hari sudah usai pulang dari Manado yang tahun ini menjadi tuan rumah untuk perhelatan akbar ATF atau Asean Tourism Forum yang ke 31. Ini kali ke dua saya mengikuti ajang sekelas ATF yang dimana sebelumnya di adakan tahun 2011 lalu di Kamboja.

Dengan dihadiri lebih dari 400 internasional buyer, 100 internasional media dan 1600 exhibitor dari seluruh ASEAN, ajang ini memang menjadi moment penting untuk insan pariwisata seperti saya ini apalagi pembukaannya di buka oleh Wapres Budiono serta Menbudpar Ibu Maria Elka Pangestu.
ATF Manado booth

Sayang dibanding negara sebelumnya di Kamboja, perhelatan di Manado ini di nodai oleh belum selesainya bangunan untuk para exhibitor ini, terlihat dari atap yang belum selesai masih berupa beton sampai tembok serta area taman sekitarnya yang masih berupa tanah merah.
PDA Booth

Sungguh menyenangkan berada di Manado, kota yang ramah penduduknya, masyarakatnya sangat ringan tangan, contohnya kalo kita naik angkot dan kebetulan tujuannya agak menyimpang dikit dari trayek, sang supir dengan senang hati mengantarkan kita tiba di tujuan. Hal lainnya kota ini tidak ada pengemis dan pengamen karena jika hal itu terjadi maka pemkot akan mengembalikannya ke keluarganya dan itu sangat memalukan buat masyarakat Manado.

Bagi penggemar seafood segar dan masakan pedas, kota ini tempatnya, saya saja bingung kenapa masakannya jadi super pedas, apa cabe nya beda kali ya…tapi yang jelas saya kangen makan sambil keringetan di Manado ini. Entah kapan akan kembali lagi.

Proses recruitment yang tidak adil

Minggu kemarin teman saya di perusahaan yang berbeda mengeluhkan bossnya karena suka mengambil keputusan sendiri jika akan merekrut karyawan untuk pegawai hotel yang notabene akan menjadi anak buahnya.

“emang kenapa” tanya saya waktu itu. Dia beralasan si boss tidak begitu mempertimbangkan latar belakang pendidikan, asal muka ok dan komunikatif maka untuk urusan sekelas R&F atau tingkat pelaksana tidak akan menjadi persoalan.

Read more »

Bersepeda, Peluang tambahan income/gaji

Ada yang meragukan judul saya diatas…? berarti rekan rekan blogger bukan bikers…heee…saya pun demikian, semenjak bekerja di hotel bertipe resort dan kebetulan mempunyai area yang luas di salah satu pusat rekreasi terbesar di Asean ini, sepeda merupakan barang pelengkap untuk menunjang sarana rekreasi tamu, mau tak mau saya pun ikut memeriahkan dengan membeli sepeda walaupun di hotel kami lebih dari 100an sepeda di sewakan secara gratis.

Apalagi ditambah kampanye “bike to work” dan slogan bike bike yang lain membuat pamor sepeda menunjukkan gejala yang terus naik dan naik. Jika rekan blogger mempunyai kesempatan untuk bangun pagi dan mampir di sepanjang Sudirman – Thamrin di Jakarta ini agaknya puluhan ribu sepeda memadati sepanjang jalan tersebut yang memang bebas dari kendaraan bermotor tersebut.

Read more »

Kok bisa yah nggak diangkat?

Walaupun tugas sekarang bukan hanya mengurusi tugas tugas yang berkenaan dengan kelancaran dan perbaikan standarisasi operasional tetapi tetap saja hasil akhir dari target yang di tetapkan menjadi hal yang paling essential dari semuanya alias UUD, ujung ujung nya duit.

Walhasil saya juga ikut turun gunung juga dalam penjualan, tidak hanya dalam scope mengatur strateginya tetapi juga ikut jualan pula dengan koneksi yang saya punya selama ini langsung ke Agent maupun kenalan korporat, EO,WO,dll.

Hal yang menarik dari rekan rekan ini, berhubung segalanya saling berkaitan dan ketergantungan satu sama lain,agaknya perbedaan pebisnis di jakarta berbeda sekali dengan pebisnis di luar negeri seperti yang sudah pernah saya alami.

Read more »

Siapa yang berkompetisi?

Ini pengalaman baru buat saya selama mengantar si kecil ke sekolah, tidak heran banyak orang kaya sampai anak menteri pun memilih home schooling. Ceritanya anak saya yang baru masuk kelas 1 SD itu mengeluh karena banyaknya PR dan ulangan setiap harinya dan juga setiap hari si kecil ini cukup mendapat pressure juga dari mamanya.

Pertama kalinya saya tidak begitu menganggapnya serius karena mau diapain lagi kalo sistem pendidikan kita emang harus begitu, saya tidak pernah memberikan target yang tinggi tinggi untuk anak karena berdasarkan pengalaman saya sendiri di sekolah saya tidak pernah menembus 15 besar…boro boro juara kelas….haaa…pengakuan nih….tetapi toh nasib pada akhirnya menentukan lain, teman teman yang juara kelas dari tingkat SMA sampai kuliahpun banyak sekali atau boleh diurut belum banyak yang sukses, jadi kesuksesan tidak serta merta bergantung dari IQ atau kepintaran akademisi.

Tapi realitanya berkata lain, setiap pagi seringkali saya dengar sesama ibu ibu menanyakan nilai ulangan anak mereka masing masing, sampai sampai di sudut sekolah terdengar seorang ibu yang memarahi anaknya sebelum masuk sekolah agar tidak memalukan ibunya dengan menghasilkan nilai jelek pada saat ulangan nanti.

wah, saya tidak bisa membayangkan bagaimana ini akan terjadi seterusnya, baru kelas 1 SD udah sedemikian ketat kompetisinya bagaimana hal ini terus berlanjut sampai kelas 6 yah….aduh Tuhan saya sulit membayangkan bagaimana stressnya anak anak itu dengan pressure dari orang tua masing masing.

Jika anda masih mengharapkan permainan seperti bentengan, jlentrik, kasti, ular tangga dan permainan yang lain, anda pasti bermimpi. Di kota besar Jakarta hal itu sudah sulit didapati.

Agaknya sekarang ini saya sudah cukup biasa dengan pemandangan ibu ibu yang saling berkompetisi setiap paginya dengan menanyakan hasil ulangan kemarin, untung saya bapak bapak dan ibu ibu itu sungkan untuk menanyakannya kepada saya dan bapak bapak lain yang mengantar rasanya cukup aman dari pertanyaan seperti itu karena kami saling acuh satu sama lain.