Author Archives: Boyin - Page 2

TTC Travel Mart di Jakarta

Gara gara ada sedikit perombakan dalam perusahaan membuat blog ini sedikit terbengkalai terutama karena kerjaan sekarang tidak hanya bisa berlama lama di depan PC lagi tetapi kudu keluar jualan dan ketemu client.

Singkat cerita,  kerjaan saya sekarang adalah menggarap potensi market indonesia untuk berlibur ke hotel saya yang di kamboja. Sesuatu yang tidak mudah karena sampai sekarang tidak adanya penerbangan langsung Indonesia – Kamboja selain itu visa yang belum gratis, padahal hampir rata rata negara ASEAN sudah bebas visa sperti halnya jika sahabat blogger mau pergi ke singapura, vietnam, thailand, malaysia, dll. Anda tak perlu bayar visa tetapi pengecualian untuk Kamboja, masih dikenakan pembayaran sebesar $20 – $25 dan bisa diurus setelah pesawat anda mendarat di Kamboja, atau yang disebut VOA/visa on arrival.

Tetapi kendala ini tak menyurutkan niat perusahaan untuk mengirim saya menggarap potensi ini karena memang terbukti, gak jualan aja beberapa grup asal indonesia banyak nginap di hotel kami dan kenyataan bahwa pasar indonesia ini buying powernya bagus, kebangkitan middle class di indonesia dan banyaknya pertambahan orang orang kaya indonesia membuat bisnis perjalanan wisata tumbuh sangat significant.

Akhir maret kemarin saya berkunjung ke Jakarta untuk 3 hari karena mengikuti travel mart yang diadakan di daerah Mangga Dua. Dasar kurang pengalaman, 150 sales kit (bahan promosi) dari perusahaan kami habis dalam beberapa jam saja, antusias pengunjung yang rata rata potensial buyer/ Travel agent sungguh sangat luar biasa! Ikut exhibition sekelas TTC ini adalah cara efektif untuk memperkenalkan produk kita, disamping karena pasarnya yang luar biasa, bayangkan kalo kita harus menyambangi satu per satu agent tersebut, selain tua dijalan, biaya transportasinya bisa sangat mahal. Malah menurut saya TTC travel mart ini lebih ngirit daripada regular exhibition, trade show yang biasanya kami lakukan, karena harus mendecor booth/stand kita dengan biaya yang tak sedikit, bisa diatas 10 kali harga yang harus kami bayar untuk TTC ini.
30032011204

30032011203

Ini bukan blog review yang dibayar oleh owner TTC, om Tedjo Iskandar, tapi murni dari rasa puas saya atas perhelatan ini yang kebetulan punya blog untuk di sharing.

Sekarang saya mau lanjut dulu follow up kartu nama yang bejibun, saya kudu bikin dan mengirimkan satu persatu paket tour sesuai pesanan masing masing travel agent tersebut. Mudah mudahan hasil kedepannya juga bagus sehingga perusahaan makin senang dengan kinerja saya. Amin.

Terjebak dalam Jabatan

Suatu hari saya dikirimin oleh seorang teman lama yang singkatnya kira kira seperti ini..”tolongin donk cariin gue kerjaan..yang kira kira sesuai dengan jabatan gue sekarang…”.

Lalu saya balas seperti ini,” ada bro, tapi levelnya turun nih, kalo paket gue rasa ok banget lah..”

Seperti judul diatas, bisa ditebak, kalo kawan lama saya ini jelas menolak informasi yang saya beri. Saya sebenarnya gak menyalahkan orang orang yang berpikiran bahwa jabatan lebih penting dari uang, karena bapak saya sendiri juga sering bilang yang saya lupa bahasa jawanya yang pake imbuhan “katut..katut…” yah yang intinya dengan jabatan yang baik, otomatis uangnya juga akan ikut baik.

Sekali lagi saya nggak menyalahkan opini seperti itu, saya pun juga waktu masih baru baru kerja juga mempunyai pedoman yang sama, hanya saja yang saya lakukan tidak membabi buta pindah ke perusahaan lain yang menawarkan jabatan yang lebih baik. Alasan saya cukup simple saja yaitu bahwa perusahaan pun punya kasta!

Sewaktu bekerja di industri perhotelan, saya punya jabatan rangkap yang teman teman blogger mungkin sudah mengetahui jika mengikuti blog ini dari dulu bahwa saya dulu seorang penjual kartu kredit. Seperti halnya sales kartu kredit, pengetahuan tentang perusahaan mana dan jabatan apa saja yang memenuhi kriteria untuk di prospek adalah hal basic yang seluruh sales harus ketahui agar pekerjaannya tidak sia sia. Apa yang digariskan dari perusahaan itu yang kita harus turuti agar prospek kita mendapatkan approval dari bank dan akhirnya kita juga yang akan menikmati komisi atau bonus.

Seiring dengan pengalaman itulah, mengetahui level suatu perusahaan satu dengan yang lainnya menjadikan pengetahuan baru bagi saya. seperti contoh: seorang supervisor di suatu perusahaan A dari slip gajinya dapat dilihat bahwa penghasilannya lebih besar daripada seorang Director di perusahaan B. Tidak percaya? jadilah sales kartu kredit…heee… bahkan si supervisor ini malahan dapat incentive berupa Handphone dan pulsanya serta mobil perusahaan yang walaupun catnya penuh dengan logo perusahaannya tapi boleh dibawa pulang ke rumah.

Dalam cerita yang lain, saya punya bekas anak buah yang cukup agresif dan berambisi untuk sukses di usia muda, hal yang sangat positif tentunya. Teman ini akhirnya bisa mewujudkan cita citanya untuk menduduki jabatan yang diinginkannya dengan cara berpindah pindah pekerjaan di perusahaan yang lebih kecil dari perusahaan kami sebelumnya di luar kota Jakarta sana. Waktu berlalu, sekali lagi dengan ke agresifannya dia mencoba melamar lagi di perusahaan perusahaan besar dengan posisi yang sama. Dengan kualifikasi yang dimilikinya, Pihak HR sangat senang mendapatkan calon yang berkompeten seperti dia, hanya saja dilihat dari segi pengalaman, mereka menawarkan jabatan turun 2 level dari jabatan yang didapatnya sekarang. Gaji? jelas lebih besar dari yang didapatnya sekarang. Apakah mudah bagi seorang teman ini untuk memutuskan? sangat manusiawi, jawabannya “tidak mudah”.

Ini gambaran anak anak muda sekarang pada umumnya, untuk menutupinya, mereka bergaya hidup diluar kemampuan mereka hanya untuk memPASkan seorang yang mempunyai jabatan ini kudu punya barang, gadget, mobil yang sesuai dengan jabatannya, padahal kreditnya sangat menjerat leher kalo tidak, bisa dipastikan dalam acara networking dengan rekan rekan kerja yang lain akan menjadi bahan candaan saja.

Tidak susah sebenarnya untuk menentukan kasta dari suatu perusahaan, asal emosi tidak menguasai dalam mengambil keputusan, anda tak akan terjebak dalam jabatan tak berduit itu.

Bahagianya Sederhana, Sederhananya untuk bahagia

Sudah beberapa bulan ini saya selalu mengamati teman saya ini. Usianya tak lagi muda, kepribadiannya gak banyak bicara lebih banyak senyumnya, tapi jangan dikira beliau rendah diri, beliau penuh senyum dan pe de selalu walau motor bebek tunggangannya bener bener sangat sederhana, kayaknya gak bakalan ada di indonesia.

Semua orang geleng geleng dengan beliau, kok ya maunya memutuskan hidup seperti itu padahal kalo mau, sepertinya beliau bisa saja membeli mobil yang cukup murah di kota phnom penh ini dibanding harga mobil di tanah air. Tapi itu tidak dilakukannya, beliau cukup bahagia dengan apa yang di punyainya.

Kata orang sih “kalo mau sukses, bertemanlah dengan orang yang telah sukses!”, rasanya rugi besar kalo tidak bertanya kepada teman ini rahasia suksesnya hidup sederhana dan bahagia.

Ternyata teman kita ini dulunya pernah bekerja di Jakarta selama beberapa tahun, beliau bercerita kehidupan yang begitu ketat dan pergaulan yang komsumtif membawanya kebiasaan kebiasaan hidup metropolitan. Kartu kredit punya 4, gadget HP terbaru, lewat 6 bulan kudu ganti lagi dan hang out setiap minggunya. Mobil bekas nyicil begitu pula motor untuk anaknya yang beranjak SMA itu. Tiap bulan numpang lewat sekalian jantung jedag jedug kalau kalau debt collector menyambangi pintu entrance kantornya. Asal ada (maaf) Ambon keling berperawakan sangar berdiri, beliau udah trauma duluan.

Akhirnya hidup sudah tak nyaman lagi, di luar orang lain mengira dia baik baik saja, padahal baginya besok pagi adalah neraka. Istrinya menyarankan mencari pekerjaan dengan gaji yang lebih tinggi lagi dan akhirnya terdamparlah beliau di kamboja sini 5 tahun lebih dulu dibanding saya.

Dengan bekal trauma itu, beliau belajar merubah gaya hidup terlebih teman teman lokal yang beliau pilih untuk berinteraksi adalah teman teman lokal golongan biasa biasa saja sehingga mau tidak mau beliau menyesuaikan diri dengan membeli motor bebek, belajar makan tradisional mereka, gaya hidup, dsb.

Dengan gaji expat, pengeluaran lokal, membuat hidupnya makin baik yang akhirnya beliau memboyong anak dan istri beliau untuk hidup disini. Aset aset yang ada di jual dan seluruh hutang dilunasi. Anak anaknya yang beranjak ABG pertama tama protes, karena nggak bisa gaul disini, boro boro sekelas DUFAN lha bisokop sekelas 21 aja nggak ada disini, tapi lambat laun semuanya terbiasa malah lebih senang katanya. “kenapa?”tanya saya suatu hari. Anak anak itu berbicara tentang pergaulannya yang internasional karena sekolah di internasional school dengan teman teman dari berbeda negara, yang biaya sekolahnya bisa jauh lebih murah dibanding sekolah lokal ngetop di Jakarta, bebas macet, lingkungan yang sederhana, gak malu kalo pake baju gak bermerk, la wong merk aja orang orang sini gak paham paham banget kok.

Dengan hidup sederhana itu, beliau otomatis cuman nabung saja dan setelah beberapa tahun menabung, akhirnya tercipta 6 rumah kos kosan tanpa kredit di bank yang sekarang dikelola oleh ibundanya yang tinggal seorang diri di kampung. “Melihat tabungan kita tambah besar dan besar setiap bulannya, membuat hidup saya tambah pe de mas boy” ujarnya suatu hari. “Disini enak, orang gak perduli kita pake apa, demikian juga orang indonya sendiri disini, mereka maklum kalo kita hidup di rantauan, jadi gak perlu ada gengsi gengsian lah” tambahnya.

Dari pengalaman beliau ini membuat saya berpikir dan menarik kesimpulan bahwa faktor lingkungan memang sangat membawa andil dalam sikap dan prilaku kita ternyata. Informasi dan rayuan rayuan dalam bentuk iklan di TV tidak banyak pengaruhnya dibanding pengaruh dasyat dari pergaulan, pergaulan dimana orang gak perduli anda pake HP merk apa, baju merk apa dan mobil jenis apa adalah suatu keadaan yang mungkin sangat jarang di temui di kota kota besar di Indonesia.

Taman bermain anak anak Gratis di Red monumen

Secara tak sengaja saya menemukan taman bermain baru ini, sewaktu mengantar istri ke salon. Saya menggunakan waktu untuk keliling di alun alun kota Phnom Penh di sekitaran Red monumen. Pada malam hari sekitar pukul setengah 8 malam, taman itu masih terlihat ramai dengan anak anak, maka saya putuskan keesokan harinya ingin mengajak si kecil kesana.

Keesokannya si kecil sudah tak sabar menelpon papanya agar pulang lebih cepat sehingga bisa ke taman bermain itu sebelum gelap. Sesampainya disana saya cukup tercengang untuk negara sekelas kamboja kok bisa bisanya membuat taman public ditengah tengah kota yang menurut saya cukup bagus. Jenis mainan yang bagus dan lengkap ditengah tengan taman yang didesign untuk rindang pada jangka panjang, toilet umum, serta kafe untuk orang tua yang mengantar.

kids playground

kids playground1

Untuk orang tua yang punya anak kecil seperti saya, taman ini cukup membantu sekali karena fasilitas yang ada didalamnya juga sangat membantu ketangkasan anak daripada setiap hari hanya main game online di dalam rumah, setelah bugar dari bermain, anak minta saya membantu tugas PR yang didapatnya dari sekolah dan tidurpun lebih lelap.

kids playground2

Pikir pikir sekorup korupnya pejabat disini, masih sempet sempetnya mikirin rakyat kecil dengan membangun ruang public yang asri dan gratis tentunya yang tidak hanya dinikmati oleh anak anak penerus generasi bangsa ini tetapi juga sarana ngobrol orang tuanya juga. Bagaimana dengan di Indo, seharusnya sebagai negara yang jauh lebih kaya, apakah hal hal seperti ini mendapatkan perhatian?

Spam peniru judul postingan

Minggu minggu ini saya baru ngeh sewaktu mengecek halaman spam, biasanya saya suka ngecek halaman spam untuk mengedit jika sekiranya ada rekan rekan blogger yang terkena kang akismet walaupun sama sekali tidak bermaksud menyepam. Dengan banyaknya spam, speed reading jadi acuan, biasanya yang berbahasa inggris udah pasti nyepam nih nah kalo berbahasa indonesia perlu di cek lagi kata katanya karena jarang sekali spam ada dalam bahasa indonesia.

spam

Seperti contoh diatas terus terang baru saya temui 2 minggu kemarin, hanya saja karena makin banyak sehingga tertarik untuk mendiskusikannya karena spam ini terkesan bukan spam karena menggunakan bahasa indonesia tapi kalo di teliti ternyata spam machine ini bisa menduplikasi judul postingan kita sehingga terkesan memberikan apresiasi tentang tulisan kita..heee…padahal dibelakangnya pake embel embel bahasa inggris selain itu url nya juga udah keliatan banget.

Saya menyebutnya spam model baru, tapi beruntung kang akismet lebih canggih lagi sehingga tak terkecoh dengan ulah mesin ini.

Penyebaran budaya makan tempe yang mendunia

Di kamboja sini khususnya di Ibukota Phnom Penh terdapat 4 restaurant Indonesia yang dimana karena kota yang kecil disertai dengan eratnya perkumpulan antar insan insan di perantauan tersebut membuat kami menjadi saling mengenal. Tidak hanya saling mengenal saja tapi semuanyapun terlibat aktif untuk kegiatan kegiatan yang diadakan oleh komuniti kami maupun yang diselenggarakan oleh kedutaan.

tempecambodia

Saya mempunyai teman yang mempunyai misi sebagai misionaris di kamboja, disela sela melakukan pekerjaannya sebagai misionaris dengan banyak bepergian di kampung kampung, keluar masuk provinsi di penjuru kamboja ini, ada hal yang menarik perhatian saya adalah bahwa teman ini memulai kegiatannya dengan membuat tempe. Tempe fresh ini tidak hanya dinikmati dan didistribusikan kepada kita kita di komuniti Indonesia tetapi juga diperkenalkan sebagai makanan alternatif baru untuk masyarakat kamboja yang tadinya tidak mengenal tempe sama sekali.

Beliau dalam kunjungannya ke kampung kampung mencoba memperkenalkan tempe dari rasa, hingga mengajak mereka untuk menikmati sajian dari tempe secara gratis. Lambat laun tidak menutup kemungkinan cara memproduksi tempe pun akan diajarkan sebagai bagian misi membangun kehidupan para penduduk di pedesaan kamboja agar lebih mandiri dan memperoleh penghasilan  dari makanan alternatif ini.

Saya teringat akan kasus saling klaim budaya antara negara kita dengan negara tetangga kita tempo hari. Persoalan penyebaran budaya itu mungkin sudah dilakukan tidak hanya beberapa dekade lalu, tapi mungkin juga sudah lebih lama daripada itu. Seperti halnya bahasa, pakaian, lukisan, ukiran, tarian, dan lain sebagainya asalkan kita tidak berhenti dan terus melestarikan budaya kita sendiri, saya amat tidak yakin 100 tahun kedepan, kamboja akan mengklaim bahwa tempe adalah makanan khas mereka.

ATF 2011 di kamboja

Penyelenggaraan ATF/ Asean Tourism Forum 2011 yang ada di kamboja ini baru saja usai. Dimulai dari tanggal 15 sampai 21 January lalu tidak saja sebagai sarana untuk mempromosikan perusahaan yang bergerak di industri pariwisata saja tetapi juga sebagai sarana kongkow kongkow bertemu rekan rekan lama yang pada akhirnya terpisah di berbagai negara di Asean ini karena alasan pekerjaan.

atf1

ATF tahun ini diikuti semua negara negara Asean yaitu Indonesia, Malaysia, Singapura, Philipina, Vietnam, Laos, Myanmar, Thailand, Brunei Darussalam dan tak lupa Kamboja sebagai tuan rumah . Tak kurang 1600 delegasi termasuk 400 internasional buyer dan 100 media ikut serta dalam perhelatan akbar di bidang pariwisata di kamboja ini. Setiap tahun negara host dalam ATF ini berputar sesuai dengan abjad negara yang bersangkutan, diawali dari tahun 1981 dari Malaysia. Seperti tahun 2010 kemarin diselenggarakan oleh negara yang berawalan B jadi Brunei Darusallam yang menjadi negara host, 2011 ini negara berawalan C atau Cambodia dan tahun depan seperti yang telah diduga, negara kita yang menjamu Indonesia dan seterusnya.

atf2

Seperti halnya exhibition yang lain, masing masing negara berlomba membuat design yang indah pada stan mereka yang mempresentasikan dan menjual destinasi destinasi yang mereka tonjolkan di masing masing negara tersebut. Bagi saya pribadi disela sela menjalankan pekerjaan di expo ada hal yang paling menarik adalah berjalan jalan ke stan Vietnam dan Indonesia untuk bertemu teman teman lama, yang dilanjutkan dengan makan diluar dan saling bertukar informasi.

Tahun 2012 mendatang ATF akan diadakan di Indonesia di kota Manado, semoga setidaknya bisa mendongkrak pariwisata Indonesia yang lain karena selama ini pariwisata indonesia terlalu identik dengan Bali. kini saatnya Manado berbenah dan membangun infrastruktur yang memadai agar ATF 2012 bisa menjadi momentum kebangkita pariwisata disana.

Encouragement

Saking sukanya sama tulisan ini di internet, sampai ingin menyebarkannya juga, sapa tau yang punya anak akan mendapat pelajaran dari pak Renald ini. Selamat membaca.

Encouragement

(Artikel inspiritaif ini ditulis oleh Rhenald Kasali*. Semoga bermanfaat)

LIMA belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat.

Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa. Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana.

Saya memintanya memperbaiki kembali,sampai dia menyerah.Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberi nilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri. Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat. “Maaf Bapak dari mana?” “Dari Indonesia,” jawab saya. Dia pun tersenyum.

Read more »

Terpaksa ganti theme

Sehabis liburan memang lumayan sibuk, maklum di bulan Januari ini akan ada perhelatan akbar untuk insan pariwisata menyambut ATF atau Asean Tourism Forum yang diselenggarakan tanggal 15 sampai 21 January ini. laporan tentang ini ntar aja yah, soalnya trade shownya sendiri efektif tanggal 18 January mendatang, jadi belum banyak cerita.

Disela sela kesibukan ini, diwaktu luang saya kebetulan tertarik dengan artikel tentang masang pagenasi di blog kita tanpa plugin, setelah di copy code nya dan di masukkan di theme editor blog saya, bukanya sukses malah rusak themenya. Sudah minta tolong dengan pihak hosting sampai akhirnya pihak hosting menyarankan untuk ganti theme aja. Dengan terpaksa akhirnya saya ganti dan cocoknya dengan theme ini.

Tapi masalah lain timbul karena widget yang biasanya ada di sidebar seperti pagerank, ehotelier kolom, technocrati dan lainnya malah ilang, setelah di cek memang gak ada di sidebar.php nya akhirnya dari theme lama codenya saya ambil dan di taruh di theme baru ini dan teteup…gak mau muncul. Apa mungkin theme ini gak support yah, ah sutralah yang penting udah bisa mengeluarkan unek unek ini di post, soalnya kendala waktu yang gak memungkinkan nyari2 informasi lagi mengenai hal ini. Kalo ada rekan blogger yang tahu, share kesini yah..terima kasih sebelumnya

Shrinking Vacation Syndrome

Kalo udah tau yang namanya akan liburan udah pasti gejala gejala psikologis akan nampak heee..ini kalo saya lho yah…soalnya minggu depan saya akan libur panjang pulang kampung halaman menengok bapak, ibu, paman, bibi, kakek, saudara misan, sepupu, dan teman teman sekerja dulu. Oya gejala psikologisnya tentunya, kerja jadi semangat, berasa seperti abis promosi jabatan, badan berasa seger, bibir senyum senyum mulu padahal kenyataannya compi dan BB kudu dibawa untuk memonitor kerjaan yang jalan terus. Tapi gak papa, yang penting judulnya, LIBUR.

Banyak yang malah pusing mau liburan, barang yang akan dibawa bisa jadi alasannya. buat yang bekerja di LN, oleh oleh bisa menjadi hal yang memusingkan, karena harus disingkronkan antara bentuk oleh olehnya dengan budget pengeluarannya ditambah pula beratnya koper yang akan dibawa.

Di Amerika sono krisis keuangan yang mengakibatkan bengkaknya angka pengangguran menyebabkan liburan menjadi sebuah sindrom yang disebut Shrinking Vacation Syndrome. Yang dulunya liburnya ke belahan dunia lain tanpa mikirin kerjaan, sekarang malah liburan tapi kerja jalan terus, malah ada yang gak bisa libur sama sekali ada pula dapat libur tapi bingung mau pergi kemana karena semuanya menjadi tidak terjangkau oleh kocek.

Beruntung kita di Indo apalagi yang masih punya kampung halaman, se resesi apapun keuangan kita, kalo bisa pulang kampung dan berkumpul bersama keluarga dan teman lama akan berasa nikmatnya. Makan ikan teri ama nasi panas aja langsung kita post di wall FB apalagi lengkap dengan krupuk dan sambalnya, intinya asal bisa kumpul dan melepaskan diri sejenak dari tekanan dunia kerja sudah membuat kita bahagia, sehingga sewaktu pulang kerja kembali, kita bisa merencanakan liburan kedepan dengan lebih baik lagi seperti menyiapkan tabungan khusus dari sisihan rejeki kita tiap bulan di negeri seberang.

Jadi liburan akhir tahun ini pada mau kemana nih?