Karma perusahaan: Jangan sekali kali meninggalkan kewajiban membayar Gaji

bisnis1Kisah nayata ini sangat mencengangkan sehingga saya terinspirasi menulisnya. Dalam belajar agama, saya diajari untuk selalu melaksanakan kewajiban tetapi tidak terikat oleh hasilnya karena apa pun hasilnya adalah bukan milik saya. Semua itu milik yang PUNYA dunia ini baik itu buruk maupun baik. Dia bagaikan langit yang tidak pernah menghakimi dan menerima apa yang ada atau samudera yang menunduk rendah tetapi memiliki segalanya.

Cerita nya company kami dalam masalah keuangan dan akhirnya harus di take over oleh bank, kesalahan siapupun itu yang penting kenyataan pahit seperti itu lah yang terjadi. Banyak karyawan yang harus di rumahkan karena tidak di perpanjang kontraknya, tetapi tidak satu pun yang dipecat sebelum masa kontrak berakhir.

Kami senang pada akhirnya perusahaan kami di ambil alih oleh perusahaan yang besar yang cukup ternama tetapi dalam pelaksanaan nya perusahaan besar tetap perusahaan besar. Kalo nggak pinter hitung hitungan gimana bisa besar? tetapi ada hal yang dilupakan oleh perusahaan ini. Satu bulan menjelang THR mereka tidak mengakui kepegawaian kami di PT yang lama dan memutuskan tidak membayar THR kami ini serta hanya membayarnya pro rata pada saat mereka mengambil alih perusahaan kami. Secara aturan hukum yang dimana kami kurang paham itu mungkin dapat dibenarkan. Tetapi dari aturan TUHAN, mungkin saja belum tentu benar.

Kami sudah melupakan kejadian tersebut dan sudah menganggap itu bagian dari nasib yang harus kami terima. Begitu banyak karyawan yang protes maupun yang hanya diam saja. Maklum karyawan, apa sih yang ditunggu jika tidak ada skema bonus, gaji ke 13? tentu saja THR.

Waktu berlalu, tak terasa sudah satu tahun semenjak kejadian itu, tak sengaja saya bertemu dengan teman teman lama di berbagai perusahaan. Setelah ngobrol sana sini ternyata perusahaan lama kami yang tidak mau membayar THR itu dililit oleh kerjasama yang tidak menguntungkan oleh pihak ke 3 dimana kami tahu itu akan memberatkan perusahaan tersebut karena bunga yang tinggi. Tidak hanya perusahaan kami saja tetapi seluruh unit grup yang berada di berbagai kota juga mengalami nya. Sekelebat saya disadarkan mendengar cerita tersebut…WAH ini KARMA…kebetulan kalo saya pribadi memang terbiasa untuk tidak melekat. Baik itu pekerjaan apalagi materi, buat saya itu bisa dicari lagi. Tetapi doa orang lain belum tentu dan doa orang yang terzolimi bisa memperparah efek karma dari sebab tersebut.

Saya tidaklah merasa bergembira oleh berita tersebut karena biasanya sikap profesionalitas saya sudah terdidik untuk tidak peduli lagi dengan apa yang terjadi di perusahaan lama karena fokus dengan perusahaan baru. Sudah 14 perusahaan saya jalani sehingga sikap profesional itu sudah sedemikian terbentuk.

Hanya pelajaran itu sangat membekas buat saya, bahwa sesulit apapun kondisi perusahaan kita, Gaji tetap menjadi komponen yang terpenting untuk diperjuangkan karena jika tidak KARMA apapun itu telah disiapkan untuk kita.

 

Leave a Comment


NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>