Proses recruitment yang tidak adil

Minggu kemarin teman saya di perusahaan yang berbeda mengeluhkan bossnya karena suka mengambil keputusan sendiri jika akan merekrut karyawan untuk pegawai hotel yang notabene akan menjadi anak buahnya.

“emang kenapa” tanya saya waktu itu. Dia beralasan si boss tidak begitu mempertimbangkan latar belakang pendidikan, asal muka ok dan komunikatif maka untuk urusan sekelas R&F atau tingkat pelaksana tidak akan menjadi persoalan.

Urusan bertambah ribet karena memang dunia perhotelan tidak sama dengan perusahaan lain yang biasa menerima lulusan universitas/strata. Di perhotelan skill khusus sangat diperlukan, kalo tidak ya kita harus ngajari dari awal. masalah memberikan pelatihan itu urusan yang gak ribet tapi bagaimana dengan mentalitas?

Saya manggut manggut setuju dengan argumen teman saya ini, selidik punya selidik ternyata bossnya juga dulu bukan lulusan perhotelan hanya saja sudah berkiprah di dunia perhotelan sejak tahun 80-an.

Saya teringat bagaimana kami membangun mentalitas pada waktu itu. waktu itu ada lowongan ke singapura untuk management training yang akhirnya memberangkatkan 98 siswa ke singapura, dengan tempaan yang cukup sadis dengan realitas yang ada ala singapura, alhasil tahun depannya waktu ada pembukaan training serupa dari 98 hanya 7 termasuk saya yang berminat kembali kesana. Saya ingat begitu banyaknya teman teman menangis berbarengan, ada yang sambil main gitar menyanyi lagu melow, dan tingkah cengeng lainnya…heee…didikan singapura memang top menurut saya padahal di singapura training di gaji $sin 500 – $sin 600 dengan tambahan over time sekitar $6 – $8 per jam. Bayangkan kalo training di indonesia, sepeserpun tidak dapat!

Kembali ke teman saya ini, saya hanya menyarankan supaya dibentuk SOP saja mengenai kriteria penerimaan karyawan baru ini dari awal, lalu pura puranya kirim proposalnya ke bossnya untuk di acc tapi dalam email tersebut juga cc kan ke General Manager yang biasanya orang bule. Biasanya kesewenang wenangan itu akan teratasi dengan sendirinya karena ditakutkan nantinya bisa bisa karena hubungan kerabat dan sebagainya yang merusak proses recruitment tersebut.

Leave a comment ?

11 Comments.

  1. soal sop singapore emang dahsyat, administrasinya juga ngeriiii, kita yang pernah kerja di bank milik singapore setresss berat, pindah sajalah… 😀
    anyway, untuk interest itu punya Pak Mars yang dot info sudah angus pak ganti dot net

    Reply

    Boyin Reply:

    @Sriyono Semarang, wah pak mars dah ganti domain ta…kudu ditilik nih…

    Reply

  2. Singapore punya efisiensi kerja yang keras dan bagus meski kadang ketika diimplementasikan di Jakarta… hmm ya tau sendirilah hasilnya…

    Reply

    Boyin Reply:

    @DV, balik lagi males…haaa…

    Reply

  3. Kapan2 saya direkrut ya Mas…
    Nunggu kabarnya 😀

    Reply

    Boyin Reply:

    @marsudiyanto, Selamat tahun baru pak Mars…

    Reply

  4. Tiap2 perusahaan memang punya sistem sendiri2

    Reply

    Boyin Reply:

    @lantai kayu, suka suka jadinya ya…hee…

    Reply

  5. Cara merekrut karyawan perhotelan tidak sama dengan karyawan perkantoran biasa. Semua calon haruslah dilakukab secara fair.

    Reply

    Boyin Reply:

    @H, Nizam, kadang memang terkadang bossnya…HR nya yang kalah…

    Reply

  6. proses rekrutment dimanapun dan oleh perusahaan apapun harusnya adil ya…

    Reply

Leave a Comment


NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>