Siapa yang berkompetisi?

Ini pengalaman baru buat saya selama mengantar si kecil ke sekolah, tidak heran banyak orang kaya sampai anak menteri pun memilih home schooling. Ceritanya anak saya yang baru masuk kelas 1 SD itu mengeluh karena banyaknya PR dan ulangan setiap harinya dan juga setiap hari si kecil ini cukup mendapat pressure juga dari mamanya.

Pertama kalinya saya tidak begitu menganggapnya serius karena mau diapain lagi kalo sistem pendidikan kita emang harus begitu, saya tidak pernah memberikan target yang tinggi tinggi untuk anak karena berdasarkan pengalaman saya sendiri di sekolah saya tidak pernah menembus 15 besar…boro boro juara kelas….haaa…pengakuan nih….tetapi toh nasib pada akhirnya menentukan lain, teman teman yang juara kelas dari tingkat SMA sampai kuliahpun banyak sekali atau boleh diurut belum banyak yang sukses, jadi kesuksesan tidak serta merta bergantung dari IQ atau kepintaran akademisi.

Tapi realitanya berkata lain, setiap pagi seringkali saya dengar sesama ibu ibu menanyakan nilai ulangan anak mereka masing masing, sampai sampai di sudut sekolah terdengar seorang ibu yang memarahi anaknya sebelum masuk sekolah agar tidak memalukan ibunya dengan menghasilkan nilai jelek pada saat ulangan nanti.

wah, saya tidak bisa membayangkan bagaimana ini akan terjadi seterusnya, baru kelas 1 SD udah sedemikian ketat kompetisinya bagaimana hal ini terus berlanjut sampai kelas 6 yah….aduh Tuhan saya sulit membayangkan bagaimana stressnya anak anak itu dengan pressure dari orang tua masing masing.

Jika anda masih mengharapkan permainan seperti bentengan, jlentrik, kasti, ular tangga dan permainan yang lain, anda pasti bermimpi. Di kota besar Jakarta hal itu sudah sulit didapati.

Agaknya sekarang ini saya sudah cukup biasa dengan pemandangan ibu ibu yang saling berkompetisi setiap paginya dengan menanyakan hasil ulangan kemarin, untung saya bapak bapak dan ibu ibu itu sungkan untuk menanyakannya kepada saya dan bapak bapak lain yang mengantar rasanya cukup aman dari pertanyaan seperti itu karena kami saling acuh satu sama lain.

22
Leave a Reply

avatar
12 Comment threads
10 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
13 Comment authors
soewoengedratnasawali tuhusetyaBoyinSriyono Semarang Recent comment authors
  Subscribe  
Notify of
vicky
Guest

tergangtung anaknya juga sih mas.. ada anak yang ndablek *seperti saya* ada yang patuh banget sama ortu , biasanya yang ndlablek itu kalo denger suara tekanan dari ortunya masuk kuping kanan keluar kuping kiri. jadi gak gampang stress atau tertekan, ntar ketemu temen main hepi lagi.. hehe

workshop bisnis online
Guest

berkunjung sob..salam blogger
sukses selalu yah..:)

@zizydmk
Guest

Duuhhh semoga saya nanti gak begitu Mas.
Memang ibu2 di sekolah pasti kan saling menanyakan, karena memang concern pada anaknya itu tinggi. Saya sebisa mungkin menjaga hati anak saat memberitahu agar tidak kesannya membanding2kan… Yang penting apapun yg sudah dia buat, di mata saya adalah prestasi.

ada-akbar.com
Guest

masalahnya orang tua sendiri. .banyak yang ga tw cara mendidik anak yang baik. .yang dituntut nilai2 aja ..jadi sekolah seperti kerja

Huang
Guest

kompetisi juga mas, besok si anak minta ipad, blackberry 😀 dan si bapak harus pusing buat beliin atau gak 😀

Rezasaputra
Guest

wah gengsi yang gengsi, belum tentu tuh ibu nilainya juga bagus-bagus pas waktu kecil dulu

DV
Guest

Orang tuaku dulu juga mengkompetisikan aku dengan anak teman2nya.. beruntung aku mendapat pendidikan seperti itu karena aku jadi tahu bahwa tak semua kawan itu akan selamanya menjadi kawan dan sebaliknya:)

Tapi beruntung juga aku bisa ‘lepas’ dari orang tua ketika masuk SMA sehingga dari pendidikan ‘luar rumah’ aku juga bisa ngerti kapan kita harus berkompetisi dan kapan tidak.

Tapi aku setuju denganmu, kepandaian IQ itu tak ekuivalen dengan kesuksesan seseorang…

wempi
Guest

Biasanya anak-anak yang nilainya jelek jarang keterima kerja jadi karyawan, ujung2nya jadilah dia buka usaha sendiri aka pengusaha, 😆

Sriyono Semarang
Guest

emang orang tua orang tua di indonesia maunya terlalu banyak, dan yang maunya terlalu banyak akhirnya mendapatkan terlalu sedikit…

lha wong anak kelas 2 sd kok tasnya berisi buku yang banyaaaak kayak tentara mau maju perang… emang berapa sih kapasitas anak kelas 2 sd…?

ngintip salah satu bukunya, ada soal,
… – 9 = 12 berapakah …?
emang sudah waktunya anak sekecil itu harus paham soal seperti itu pak?

gemes liatnya…

sawali tuhusetya
Guest

itulah resikonya ketika dunia pendidikan kita masih memberhalakan angka-angka, mas boyin. tingkat kecerdasan dan kreativitas anak2 pun semata2 diukur dari nilai ulangan yang didapat.

edratna
Guest

Hahaha….karena bekerja, saya jarang ketemu ibu-ibu. Kalau sesekali ambil rapor, suka dapat pertanyaan juga sih, tapi biasanya saya jawab dengan senyum….

Jika masih SD, biarlah mereka belajar sambil bermain, dan karena anak saya dua-dua nya sekolah di SD Negeri yang dekat rumah, mereka masih bisa main panjat-panjat an.

soewoeng
Guest

sing mumet mboke rangga setiap ada ulangan… lak kebalik balik tho?