Sekolah menciptakan anak zombie?

Sejak bermukim di kamboja dan vietnam dengan total waktu hampir 5 tahun ini, praktis kami tidak terlalu banyak tahu mengenai perkembangan pendidikan di tanah air yang kabarnya banyak sekali mencetak anak anak unggulan di kancah internasional.

Efek yang langsung dirasakan oleh kami yaitu sewaktu kami akan mendaftarkan anak kami yang kebetulan harusnya masuk kelas 1 SD, banyak sekolah mempersaratkan para calon murid untuk bisa langsung membaca, bahkan tidak tanggung tanggung cara bacanya tidak boleh mengeja, jadi sudah harus jelas kalimat per kalimat. Untung si anak saya putus sekolahnya 1 bulan menjelang kepulangan ke indonesia, pagi sore si anak kami ajarkan mengeja a i u e o ala indonesia yang ternyata lumayan berat buat si anak karena terbiasa dengan ejaan bahasa inggris.

Akhirnya ada juga sekolah yang mau menerima anak kami yang bisa membaca dalam bahasa indonesia walau dengan mengeja, hanya saja perlu adaptasi lebih untuk si anak dalam mengerti jargon jargon dalam bahasa indonesia seperti apa itu catur warga, keluarga inti, anak tunggal, imbuhan me-kan dari kata dasarnya, dsb. kelihatannya sepele, tapi untuk anak yang dari kecilnya tidak terlalu mengenal bahasa indonesia yang baku akan menjadi masalah buat dirinya.

Anak Zombie

Awalnya karena sang istri sibuk di rumah pada pagi harinya, makanya untuk keperluan mengantar anak sekolah, saya lah yang mengantar si kecil ke sekolah. Khususnya di sekolah anak saya ini, jika jam masuknya pukul 6.45 pagi, kalo saya antar 15 menit lebih awal saja maka teman teman sekolahnya belum banyak yang datang, saya pikir awalnya anak2 seusia dia banyak yang datang awal karena ingin bermain bersama teman temannnya sebelum bel masuk, tetapi fenomena yang ada adalah 5 menit sebelum bel berbunyi tampak kesibukan di jalan begitu padat hingga pada 5 menit sesudah bel berbunyi alias anak anak ini telat!

Saya teringat jaman saya sekolah dulu yang banyak sekali permainan dari bentengan, kasti dan yang lainnya, tetapi tidak untuk anak anak ini. Mereka akan duduk manis di kelas untuk menanti bel berbunyi kalopun mereka keluar kelas jarang sekali yang bermain kejar kejaran atau pun berlarian seliar liarnya.

Buat saya ini sangat mengherankan mengingat anak kelas 1 SD rata rata baru berumur 6 tahun yang masih mempunyai energi besar untuk melakukan kegiatan kegiatan yang aktif. sewaktu di kamboja, teman teman sebaya anak saya lebih banyak berteriak dan berlarian kesana kemari, berkejar kejaran tapi tidak untuk sekolahnya di jakarta ini.

Dari segi mata pelajaran juga mengherankan karena setiap hari selalu ada PR dan ulangan, agaknya jika itu menjadi sesuatu yang umum sekarang ini, saya hanya turut prihatin karena saya takut sekali sinar ceria anak saya perlahan lahan mulai redup, seredup sinar mata teman temannya sekarang ini, entah apa yang diajarkan ke anak anak ini waktu TK, melalui kepekaan hati saya, saya merasa teman teman anak saya ini seperti zombie dan kesamaan lainnya adalah anak anak ini demanding (penuntut), ngambekan mungkin efek balas dendam dari tekanan orang tua juga jadi masing masing antara ortu dan anak menciptakan syarat.

Seiring dengan pertambahan penduduk, memang kompetisi akan semakin sengit tapi saya yakin dan percaya kalo lapangan kerjapun akan semakin beragam. Saya kasihan kalo masih kecil kecil pada stress karena pelajaran, biarlah bapaknya aja yang stress karena pekerjaan.

Untung bapaknya kerja di Ancol, jadi bisa minta gratisan ke wahana wahana yang dia mau kalo lagi stress…heee………duh…….kasian sekali kamu nak….

Leave a comment ?

13 Comments.

  1. Tulisan anda menggambarkan keadaan yang dihadapi oleh banyak anak2 dinegeri kita.
    Ada alternatifnya yaitu sekolah2 yang disebut berstatus ++ tapi biayanya sangat mahal sekali.
    Anak saya kelas 6 tahun depan ujian, cara belajarnya selama ini tidak banyak berbeda.

    Reply

  2. yah namanya juga Indonesia….
    perubahan itu pasti terjadi kok pak… cm kapan waktunya itu yang jadi pertanyaan :)

    Reply

    boyindra Reply:

    @nico, kapan kapan kayaknya…haaa…

    Reply

  3. yah … begitulah pendidikan kita yg tidak dijalankan dengan dasar pemikiran “investasi untuk bangsa” … fasilitas saja engga ada … di negara maju aja yang satu sekolah gedungnya berhektar-hektar luasnya, fasilitas menjamin, lapangan bermain ada masih banyak anak yang stress.
    generasi nobita bakalan semakin banyak. seandainya saja memang tiap sekolah ada wahana sepeerti di ancol :lol: mungkin anak-anak akan happy …

    Reply

    boyindra Reply:

    hee…bener mas…atau minimum masuk ancol 80% disc untuk anak sd ya…

    Reply

  4. wah, ternyata seperti itu ya efeknya? kasihan betul. aku ingat, dulu waktu SD aku masih suka main sebelum bel masuk. datang pagi, lalu main2 dg teman. aku jadi mengerti sekarang kenapa ada temanku yg akhirnya mengeluarkan anaknya dr sekolah biasa, lalu ikut home schooling. katanya anaknya jadi lebih semangat belajar…

    Reply

    Boyin Reply:

    @krismariana, mungkin bisa juga, hanya saja takutnya home schooling membuat anak jadi tidak terbiasa dalam pergaulan keramaian.

    Reply

  5. Kalau seperti yang bli Boyin gambarkan, bisa jadi anak itu nanti jadi zombie beneran, :smile:
    Padahal usia dini itu saatnya banyak bermain untuk kegembiraan, perkembangan fisik dan sosial.

    Reply

    Boyin Reply:

    @Alris, iya ni…tidak berdaya dengan sistem yang ada…

    Reply

  6. sama dengan jaman SD saya mas.. masih ada mainan kejar-kejaran. Tapi saat ini juga gk jauh beda dengan jaman saya dulu.
    mungkin di daerah kota dan sekolah tertentu aja kali mas yang model kayak gitu.

    Reply

    Boyin Reply:

    @vicky, iya ya…

    Reply

Leave a Comment


NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>