Terjebak dalam Jabatan

Suatu hari saya dikirimin oleh seorang teman lama yang singkatnya kira kira seperti ini..”tolongin donk cariin gue kerjaan..yang kira kira sesuai dengan jabatan gue sekarang…”.

Lalu saya balas seperti ini,” ada bro, tapi levelnya turun nih, kalo paket gue rasa ok banget lah..”

Seperti judul diatas, bisa ditebak, kalo kawan lama saya ini jelas menolak informasi yang saya beri. Saya sebenarnya gak menyalahkan orang orang yang berpikiran bahwa jabatan lebih penting dari uang, karena bapak saya sendiri juga sering bilang yang saya lupa bahasa jawanya yang pake imbuhan “katut..katut…” yah yang intinya dengan jabatan yang baik, otomatis uangnya juga akan ikut baik.

Sekali lagi saya nggak menyalahkan opini seperti itu, saya pun juga waktu masih baru baru kerja juga mempunyai pedoman yang sama, hanya saja yang saya lakukan tidak membabi buta pindah ke perusahaan lain yang menawarkan jabatan yang lebih baik. Alasan saya cukup simple saja yaitu bahwa perusahaan pun punya kasta!

Sewaktu bekerja di industri perhotelan, saya punya jabatan rangkap yang teman teman blogger mungkin sudah mengetahui jika mengikuti blog ini dari dulu bahwa saya dulu seorang penjual kartu kredit. Seperti halnya sales kartu kredit, pengetahuan tentang perusahaan mana dan jabatan apa saja yang memenuhi kriteria untuk di prospek adalah hal basic yang seluruh sales harus ketahui agar pekerjaannya tidak sia sia. Apa yang digariskan dari perusahaan itu yang kita harus turuti agar prospek kita mendapatkan approval dari bank dan akhirnya kita juga yang akan menikmati komisi atau bonus.

Seiring dengan pengalaman itulah, mengetahui level suatu perusahaan satu dengan yang lainnya menjadikan pengetahuan baru bagi saya. seperti contoh: seorang supervisor di suatu perusahaan A dari slip gajinya dapat dilihat bahwa penghasilannya lebih besar daripada seorang Director di perusahaan B. Tidak percaya? jadilah sales kartu kredit…heee… bahkan si supervisor ini malahan dapat incentive berupa Handphone dan pulsanya serta mobil perusahaan yang walaupun catnya penuh dengan logo perusahaannya tapi boleh dibawa pulang ke rumah.

Dalam cerita yang lain, saya punya bekas anak buah yang cukup agresif dan berambisi untuk sukses di usia muda, hal yang sangat positif tentunya. Teman ini akhirnya bisa mewujudkan cita citanya untuk menduduki jabatan yang diinginkannya dengan cara berpindah pindah pekerjaan di perusahaan yang lebih kecil dari perusahaan kami sebelumnya di luar kota Jakarta sana. Waktu berlalu, sekali lagi dengan ke agresifannya dia mencoba melamar lagi di perusahaan perusahaan besar dengan posisi yang sama. Dengan kualifikasi yang dimilikinya, Pihak HR sangat senang mendapatkan calon yang berkompeten seperti dia, hanya saja dilihat dari segi pengalaman, mereka menawarkan jabatan turun 2 level dari jabatan yang didapatnya sekarang. Gaji? jelas lebih besar dari yang didapatnya sekarang. Apakah mudah bagi seorang teman ini untuk memutuskan? sangat manusiawi, jawabannya “tidak mudah”.

Ini gambaran anak anak muda sekarang pada umumnya, untuk menutupinya, mereka bergaya hidup diluar kemampuan mereka hanya untuk memPASkan seorang yang mempunyai jabatan ini kudu punya barang, gadget, mobil yang sesuai dengan jabatannya, padahal kreditnya sangat menjerat leher kalo tidak, bisa dipastikan dalam acara networking dengan rekan rekan kerja yang lain akan menjadi bahan candaan saja.

Tidak susah sebenarnya untuk menentukan kasta dari suatu perusahaan, asal emosi tidak menguasai dalam mengambil keputusan, anda tak akan terjebak dalam jabatan tak berduit itu.

58
Leave a Reply

avatar
34 Comment threads
24 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
32 Comment authors
kajian muslimopus likumahuwaLaylaanielsalamsayang.com Recent comment authors
  Subscribe  
Notify of
danyfarid5
Guest

Bukan jabatan yang kita cari, tetapi kinerja kita. Jika kinerja kita masih sama dengan pemerintah yang kurang becus dalam memimpin, apakah kita bisa mendapatkan sebuah jabatan, itu saja dari saya!!!

kurang lebihnya salam kenal dari blogger ingusan 😀

bukan detikcom
Guest

saya sendiri sudah lupa rasanya punya jabatan. Sejak memilih membangun usaha sendiri, jabatan jadi nomor sekian. Malah orang yang “kerja sama saya” lebih mementingkan jabatan dibanding sayanya 😀

isnuansa
Guest

Pilih jadi orang yang sederhana aja deh Bang. Takut juga jadi korban seperti nasabah Citibank yang tewas itu.

giewahyudi
Guest

Saya sih pilih jadi orang yang membuat jabatan, kalau jabatan yang sudah ada malas saya..
*ini maunya apa sih?*

sawali tuhusetya
Guest

di era yang serba kompetitif seperti sekarang agaknya memang bukan hal yang mudah lagi, mas boyin. alih2 jabatan, sekadar cari pekerjaan saja sekarang susahnya bukan main. belum kebayang bagaimana nasib anak cucu saya kelak, hehe …

Wandi Sukoharjo
Guest

Anyak muda sekarang memang sukanya budaya mie instan ya mas?

edratna
Guest

Itulah susahnya kalau kita terlalu melihat berdasar pemikiran orang lain…..dan kenaikan jabatan dianggap sangat membanggakan, padahal risiko makin tinggi, dan jika tak bisa memangku jabatan dengan baik, bisa masuk ke lubang kenistaan. Tapi memang di masyarakat kita masih melihat seseorang dari jabatan, dari tampilan nya…dan syukurlah sejak awal saya dan suami sepakat, jabatan itu amanah, kalau kita kerja keras akan datang sendiri. Namun tak selalu harus dapat jabatan, yang penting bisa hidup layak (tak berutang), itu sungguh membahagiakan.

Lia
Guest
Lia

jadi menteri akhirat saja 😛

sibair
Guest

KLo gak siap kadang sebuah jabatan itu jadi beban besar ya 😀

Tuti Nonka
Guest

Wah … kok saya nggak begitu mikir soal jabatan ya. Mungkin karena saya dosen, jadi di kampus tugas utamanya ya ngajar. Memang sih ada jabatan struktural seperti rektor, dekan, ketua jurusan, kepala biro, dll. tapi jabatan-jabatan itu malah lebih banyak membebani waktu dan pikiran sehingga mengurangi kesempatan untuk memperdalam ilmu (meskipun memang bergengsi … 🙂 ).

Multibrand
Guest

Perlu ada keseimbangan antara jabatan dan gajinya.
Kalau kita hanya mengincar jabatan saja tapi gaji
rendah untuk jangka pendek bolehlah.
Tapi kalau untuk jangka panjang tentunya sulit,
perlu dicari alternatif dengan berbekal pengalaman
telah memegang jabatan tsb.

resep masakan
Guest

setuju dengan mba Tuti. sangat membebani baik sisi waktu dan pikiran. orang bilang gak ayem. benar kata pepatah, makin tinggi berarti makin sering digoyang angin….

salam

DikMa
Guest

mas, karena jabatan
banyak persahabatan yang hilang karenanya..
jadi dalam menjalankan pekerjaan sy tidak
memikirkan akan jabatan ..

achoey
Guest

bijak dan cerdas dalam menjalankan tugas hingga promosi jabatan pun di raih dengan mudah 🙂

DV
Guest

Kalo menurutku sih semua ada masanya..
dulu gw juga gitu, mati2an mempertahankan gengsi jabatan dengan cara ‘mencocokkan’ barang milik… alhasil, credit card jebol hahaha!

Sriyono Suke
Guest

Mending yang masi punya kerjaan… dududududuuddu…..
pengin jadi pengusaha saja…

zee
Guest

Topik ini menarik sekali, Mas.
Benar itu, tak semua orang mau melepas jabatannya krn menjaga “citra”. Yg ada nanti sinis deh sama orang lain :)).

Teman sy jg pernah menerima kerja dgn embel2 jabatan tp ternyata gajinya jauh lbh rendah dr saya. Yah, spt katamu mas, tiap perusahaan beda2..

Yari NK
Guest

Kalau saya (bukan idealis loh) yang paling penting saya fikirkan adalah bagaimana agar pekerjaan saya tetap bagus, bagus dinilai atasan, klien atau orang lain. Itulah semangat profesionalisme. Saya nggak munafik, tentu saja saya juga melihat duitnya, tapi alangkah “hina”nya kita walau kita bekerja di perusahaan besar atau dengan jabatan tinggi tapi dilecehkan orang seperti ini: “Kasihan tuh perusahaan, mahal2 gaji dia nggak tahunya cuma dapet level SDM rata2 ke bawah. Apes tuh perusahaan!”

CORE XP
Guest

ini pasti masalah duit ya sob 😆

CORE XP
Guest

ini pasti masalah duit ya sob 😆
maunya jabatan kopral gaji jendral

dobleh yang malang
Guest

apa kabar om
kangen bluenya………….hehhe
oya jabatannya sekarang apa om

almascatie
Guest

Om traktir dong, traktir jabatan yg bagus… 😀

btw moral postingnya bagus.. semoga tak semua anak muda seperti itu, karena saya masih percaya ada banyak anak2 muda diluar sana yg tak peduli soal jabatan 😀

aRuL
Guest

untuk saat ini saya bekerja dengan kemampuan masih sadar diri atas ilmu dan kemampuan yang ada belum bisa menduduki jabatan yang ada, setidaknya saya belajar banyak hal 🙂

Pendar Bintang
Guest

Untuk sementara ini jabatan saya turun, kalau jabatan lama manager store, sekarang saya personal asistant merangkap sales….dan saya baru menyadari kalau saya menyukai bidang ini, ngurusin orang gak keurus dan jualan…tak apa jabatan turun yg penting rejeki lebih gede, he he he he. Tapi yang penting emang jadi boss buat diri kita sendiri 🙂

Tapi celoteh2 si Mbah di kampung emang suka bikin kita terjebak….meski maksudnya baik sih…

coekma
Guest

wah, tulisan ini bisa jadi inspirasi saya utk menulis suatu uneg2 saya selama ini. kalo saya sih sebenarnya lebih mementingkan keluarga, jadinya lebih suka kerja di kota yg sekota dengan kota keluarga saya (hayah….). masalah penghasilan sudah ada yg mengatur dan saya sangat paham kalau rejeki saya sangat besar (Insya Allah, hehehe) tinggal usaha kita meraihnya… gitu kali ya?

arifudin
Guest

wah kalau blogger ada kastanya ga ya pak hehe 🙂

Antyo Rentjoko
Guest

Menjadi itu sulit, apalagi jika lingkungan hanya menuntut. 😀 Saya pernah mendengar, di sebuah majalah fashion & lifestyle sang ibu editor menegur wartawatinya, “Kacamata loe udah ketinggalan zaman, Ganti dong!” Bagusnya si kantor mengganti. 😀

Masih di lingkungan perusahaan pers, ada yang satpamnya akhirnya menganggap semua orang sama. Bagus, ini egaliter. Kenapa? Yang pangkatnya bos kadang tampil biasa, sederhana, mobilnya pun sederhana, pokoknya gak mentereng 😀 Tapi reporter baru, anak orang kaya, bisa tampil superkeren 🙂