Monthly Archives: April 2011

TTC Travel Mart di Jakarta

Gara gara ada sedikit perombakan dalam perusahaan membuat blog ini sedikit terbengkalai terutama karena kerjaan sekarang tidak hanya bisa berlama lama di depan PC lagi tetapi kudu keluar jualan dan ketemu client.

Singkat cerita,  kerjaan saya sekarang adalah menggarap potensi market indonesia untuk berlibur ke hotel saya yang di kamboja. Sesuatu yang tidak mudah karena sampai sekarang tidak adanya penerbangan langsung Indonesia – Kamboja selain itu visa yang belum gratis, padahal hampir rata rata negara ASEAN sudah bebas visa sperti halnya jika sahabat blogger mau pergi ke singapura, vietnam, thailand, malaysia, dll. Anda tak perlu bayar visa tetapi pengecualian untuk Kamboja, masih dikenakan pembayaran sebesar $20 – $25 dan bisa diurus setelah pesawat anda mendarat di Kamboja, atau yang disebut VOA/visa on arrival.

Tetapi kendala ini tak menyurutkan niat perusahaan untuk mengirim saya menggarap potensi ini karena memang terbukti, gak jualan aja beberapa grup asal indonesia banyak nginap di hotel kami dan kenyataan bahwa pasar indonesia ini buying powernya bagus, kebangkitan middle class di indonesia dan banyaknya pertambahan orang orang kaya indonesia membuat bisnis perjalanan wisata tumbuh sangat significant.

Akhir maret kemarin saya berkunjung ke Jakarta untuk 3 hari karena mengikuti travel mart yang diadakan di daerah Mangga Dua. Dasar kurang pengalaman, 150 sales kit (bahan promosi) dari perusahaan kami habis dalam beberapa jam saja, antusias pengunjung yang rata rata potensial buyer/ Travel agent sungguh sangat luar biasa! Ikut exhibition sekelas TTC ini adalah cara efektif untuk memperkenalkan produk kita, disamping karena pasarnya yang luar biasa, bayangkan kalo kita harus menyambangi satu per satu agent tersebut, selain tua dijalan, biaya transportasinya bisa sangat mahal. Malah menurut saya TTC travel mart ini lebih ngirit daripada regular exhibition, trade show yang biasanya kami lakukan, karena harus mendecor booth/stand kita dengan biaya yang tak sedikit, bisa diatas 10 kali harga yang harus kami bayar untuk TTC ini.
30032011204

30032011203

Ini bukan blog review yang dibayar oleh owner TTC, om Tedjo Iskandar, tapi murni dari rasa puas saya atas perhelatan ini yang kebetulan punya blog untuk di sharing.

Sekarang saya mau lanjut dulu follow up kartu nama yang bejibun, saya kudu bikin dan mengirimkan satu persatu paket tour sesuai pesanan masing masing travel agent tersebut. Mudah mudahan hasil kedepannya juga bagus sehingga perusahaan makin senang dengan kinerja saya. Amin.

Terjebak dalam Jabatan

Suatu hari saya dikirimin oleh seorang teman lama yang singkatnya kira kira seperti ini..”tolongin donk cariin gue kerjaan..yang kira kira sesuai dengan jabatan gue sekarang…”.

Lalu saya balas seperti ini,” ada bro, tapi levelnya turun nih, kalo paket gue rasa ok banget lah..”

Seperti judul diatas, bisa ditebak, kalo kawan lama saya ini jelas menolak informasi yang saya beri. Saya sebenarnya gak menyalahkan orang orang yang berpikiran bahwa jabatan lebih penting dari uang, karena bapak saya sendiri juga sering bilang yang saya lupa bahasa jawanya yang pake imbuhan “katut..katut…” yah yang intinya dengan jabatan yang baik, otomatis uangnya juga akan ikut baik.

Sekali lagi saya nggak menyalahkan opini seperti itu, saya pun juga waktu masih baru baru kerja juga mempunyai pedoman yang sama, hanya saja yang saya lakukan tidak membabi buta pindah ke perusahaan lain yang menawarkan jabatan yang lebih baik. Alasan saya cukup simple saja yaitu bahwa perusahaan pun punya kasta!

Sewaktu bekerja di industri perhotelan, saya punya jabatan rangkap yang teman teman blogger mungkin sudah mengetahui jika mengikuti blog ini dari dulu bahwa saya dulu seorang penjual kartu kredit. Seperti halnya sales kartu kredit, pengetahuan tentang perusahaan mana dan jabatan apa saja yang memenuhi kriteria untuk di prospek adalah hal basic yang seluruh sales harus ketahui agar pekerjaannya tidak sia sia. Apa yang digariskan dari perusahaan itu yang kita harus turuti agar prospek kita mendapatkan approval dari bank dan akhirnya kita juga yang akan menikmati komisi atau bonus.

Seiring dengan pengalaman itulah, mengetahui level suatu perusahaan satu dengan yang lainnya menjadikan pengetahuan baru bagi saya. seperti contoh: seorang supervisor di suatu perusahaan A dari slip gajinya dapat dilihat bahwa penghasilannya lebih besar daripada seorang Director di perusahaan B. Tidak percaya? jadilah sales kartu kredit…heee… bahkan si supervisor ini malahan dapat incentive berupa Handphone dan pulsanya serta mobil perusahaan yang walaupun catnya penuh dengan logo perusahaannya tapi boleh dibawa pulang ke rumah.

Dalam cerita yang lain, saya punya bekas anak buah yang cukup agresif dan berambisi untuk sukses di usia muda, hal yang sangat positif tentunya. Teman ini akhirnya bisa mewujudkan cita citanya untuk menduduki jabatan yang diinginkannya dengan cara berpindah pindah pekerjaan di perusahaan yang lebih kecil dari perusahaan kami sebelumnya di luar kota Jakarta sana. Waktu berlalu, sekali lagi dengan ke agresifannya dia mencoba melamar lagi di perusahaan perusahaan besar dengan posisi yang sama. Dengan kualifikasi yang dimilikinya, Pihak HR sangat senang mendapatkan calon yang berkompeten seperti dia, hanya saja dilihat dari segi pengalaman, mereka menawarkan jabatan turun 2 level dari jabatan yang didapatnya sekarang. Gaji? jelas lebih besar dari yang didapatnya sekarang. Apakah mudah bagi seorang teman ini untuk memutuskan? sangat manusiawi, jawabannya “tidak mudah”.

Ini gambaran anak anak muda sekarang pada umumnya, untuk menutupinya, mereka bergaya hidup diluar kemampuan mereka hanya untuk memPASkan seorang yang mempunyai jabatan ini kudu punya barang, gadget, mobil yang sesuai dengan jabatannya, padahal kreditnya sangat menjerat leher kalo tidak, bisa dipastikan dalam acara networking dengan rekan rekan kerja yang lain akan menjadi bahan candaan saja.

Tidak susah sebenarnya untuk menentukan kasta dari suatu perusahaan, asal emosi tidak menguasai dalam mengambil keputusan, anda tak akan terjebak dalam jabatan tak berduit itu.