Monthly Archives: February 2011

Bahagianya Sederhana, Sederhananya untuk bahagia

Sudah beberapa bulan ini saya selalu mengamati teman saya ini. Usianya tak lagi muda, kepribadiannya gak banyak bicara lebih banyak senyumnya, tapi jangan dikira beliau rendah diri, beliau penuh senyum dan pe de selalu walau motor bebek tunggangannya bener bener sangat sederhana, kayaknya gak bakalan ada di indonesia.

Semua orang geleng geleng dengan beliau, kok ya maunya memutuskan hidup seperti itu padahal kalo mau, sepertinya beliau bisa saja membeli mobil yang cukup murah di kota phnom penh ini dibanding harga mobil di tanah air. Tapi itu tidak dilakukannya, beliau cukup bahagia dengan apa yang di punyainya.

Kata orang sih “kalo mau sukses, bertemanlah dengan orang yang telah sukses!”, rasanya rugi besar kalo tidak bertanya kepada teman ini rahasia suksesnya hidup sederhana dan bahagia.

Ternyata teman kita ini dulunya pernah bekerja di Jakarta selama beberapa tahun, beliau bercerita kehidupan yang begitu ketat dan pergaulan yang komsumtif membawanya kebiasaan kebiasaan hidup metropolitan. Kartu kredit punya 4, gadget HP terbaru, lewat 6 bulan kudu ganti lagi dan hang out setiap minggunya. Mobil bekas nyicil begitu pula motor untuk anaknya yang beranjak SMA itu. Tiap bulan numpang lewat sekalian jantung jedag jedug kalau kalau debt collector menyambangi pintu entrance kantornya. Asal ada (maaf) Ambon keling berperawakan sangar berdiri, beliau udah trauma duluan.

Akhirnya hidup sudah tak nyaman lagi, di luar orang lain mengira dia baik baik saja, padahal baginya besok pagi adalah neraka. Istrinya menyarankan mencari pekerjaan dengan gaji yang lebih tinggi lagi dan akhirnya terdamparlah beliau di kamboja sini 5 tahun lebih dulu dibanding saya.

Dengan bekal trauma itu, beliau belajar merubah gaya hidup terlebih teman teman lokal yang beliau pilih untuk berinteraksi adalah teman teman lokal golongan biasa biasa saja sehingga mau tidak mau beliau menyesuaikan diri dengan membeli motor bebek, belajar makan tradisional mereka, gaya hidup, dsb.

Dengan gaji expat, pengeluaran lokal, membuat hidupnya makin baik yang akhirnya beliau memboyong anak dan istri beliau untuk hidup disini. Aset aset yang ada di jual dan seluruh hutang dilunasi. Anak anaknya yang beranjak ABG pertama tama protes, karena nggak bisa gaul disini, boro boro sekelas DUFAN lha bisokop sekelas 21 aja nggak ada disini, tapi lambat laun semuanya terbiasa malah lebih senang katanya. “kenapa?”tanya saya suatu hari. Anak anak itu berbicara tentang pergaulannya yang internasional karena sekolah di internasional school dengan teman teman dari berbeda negara, yang biaya sekolahnya bisa jauh lebih murah dibanding sekolah lokal ngetop di Jakarta, bebas macet, lingkungan yang sederhana, gak malu kalo pake baju gak bermerk, la wong merk aja orang orang sini gak paham paham banget kok.

Dengan hidup sederhana itu, beliau otomatis cuman nabung saja dan setelah beberapa tahun menabung, akhirnya tercipta 6 rumah kos kosan tanpa kredit di bank yang sekarang dikelola oleh ibundanya yang tinggal seorang diri di kampung. “Melihat tabungan kita tambah besar dan besar setiap bulannya, membuat hidup saya tambah pe de mas boy” ujarnya suatu hari. “Disini enak, orang gak perduli kita pake apa, demikian juga orang indonya sendiri disini, mereka maklum kalo kita hidup di rantauan, jadi gak perlu ada gengsi gengsian lah” tambahnya.

Dari pengalaman beliau ini membuat saya berpikir dan menarik kesimpulan bahwa faktor lingkungan memang sangat membawa andil dalam sikap dan prilaku kita ternyata. Informasi dan rayuan rayuan dalam bentuk iklan di TV tidak banyak pengaruhnya dibanding pengaruh dasyat dari pergaulan, pergaulan dimana orang gak perduli anda pake HP merk apa, baju merk apa dan mobil jenis apa adalah suatu keadaan yang mungkin sangat jarang di temui di kota kota besar di Indonesia.

Taman bermain anak anak Gratis di Red monumen

Secara tak sengaja saya menemukan taman bermain baru ini, sewaktu mengantar istri ke salon. Saya menggunakan waktu untuk keliling di alun alun kota Phnom Penh di sekitaran Red monumen. Pada malam hari sekitar pukul setengah 8 malam, taman itu masih terlihat ramai dengan anak anak, maka saya putuskan keesokan harinya ingin mengajak si kecil kesana.

Keesokannya si kecil sudah tak sabar menelpon papanya agar pulang lebih cepat sehingga bisa ke taman bermain itu sebelum gelap. Sesampainya disana saya cukup tercengang untuk negara sekelas kamboja kok bisa bisanya membuat taman public ditengah tengah kota yang menurut saya cukup bagus. Jenis mainan yang bagus dan lengkap ditengah tengan taman yang didesign untuk rindang pada jangka panjang, toilet umum, serta kafe untuk orang tua yang mengantar.

kids playground

kids playground1

Untuk orang tua yang punya anak kecil seperti saya, taman ini cukup membantu sekali karena fasilitas yang ada didalamnya juga sangat membantu ketangkasan anak daripada setiap hari hanya main game online di dalam rumah, setelah bugar dari bermain, anak minta saya membantu tugas PR yang didapatnya dari sekolah dan tidurpun lebih lelap.

kids playground2

Pikir pikir sekorup korupnya pejabat disini, masih sempet sempetnya mikirin rakyat kecil dengan membangun ruang public yang asri dan gratis tentunya yang tidak hanya dinikmati oleh anak anak penerus generasi bangsa ini tetapi juga sarana ngobrol orang tuanya juga. Bagaimana dengan di Indo, seharusnya sebagai negara yang jauh lebih kaya, apakah hal hal seperti ini mendapatkan perhatian?

Spam peniru judul postingan

Minggu minggu ini saya baru ngeh sewaktu mengecek halaman spam, biasanya saya suka ngecek halaman spam untuk mengedit jika sekiranya ada rekan rekan blogger yang terkena kang akismet walaupun sama sekali tidak bermaksud menyepam. Dengan banyaknya spam, speed reading jadi acuan, biasanya yang berbahasa inggris udah pasti nyepam nih nah kalo berbahasa indonesia perlu di cek lagi kata katanya karena jarang sekali spam ada dalam bahasa indonesia.

spam

Seperti contoh diatas terus terang baru saya temui 2 minggu kemarin, hanya saja karena makin banyak sehingga tertarik untuk mendiskusikannya karena spam ini terkesan bukan spam karena menggunakan bahasa indonesia tapi kalo di teliti ternyata spam machine ini bisa menduplikasi judul postingan kita sehingga terkesan memberikan apresiasi tentang tulisan kita..heee…padahal dibelakangnya pake embel embel bahasa inggris selain itu url nya juga udah keliatan banget.

Saya menyebutnya spam model baru, tapi beruntung kang akismet lebih canggih lagi sehingga tak terkecoh dengan ulah mesin ini.

Penyebaran budaya makan tempe yang mendunia

Di kamboja sini khususnya di Ibukota Phnom Penh terdapat 4 restaurant Indonesia yang dimana karena kota yang kecil disertai dengan eratnya perkumpulan antar insan insan di perantauan tersebut membuat kami menjadi saling mengenal. Tidak hanya saling mengenal saja tapi semuanyapun terlibat aktif untuk kegiatan kegiatan yang diadakan oleh komuniti kami maupun yang diselenggarakan oleh kedutaan.

tempecambodia

Saya mempunyai teman yang mempunyai misi sebagai misionaris di kamboja, disela sela melakukan pekerjaannya sebagai misionaris dengan banyak bepergian di kampung kampung, keluar masuk provinsi di penjuru kamboja ini, ada hal yang menarik perhatian saya adalah bahwa teman ini memulai kegiatannya dengan membuat tempe. Tempe fresh ini tidak hanya dinikmati dan didistribusikan kepada kita kita di komuniti Indonesia tetapi juga diperkenalkan sebagai makanan alternatif baru untuk masyarakat kamboja yang tadinya tidak mengenal tempe sama sekali.

Beliau dalam kunjungannya ke kampung kampung mencoba memperkenalkan tempe dari rasa, hingga mengajak mereka untuk menikmati sajian dari tempe secara gratis. Lambat laun tidak menutup kemungkinan cara memproduksi tempe pun akan diajarkan sebagai bagian misi membangun kehidupan para penduduk di pedesaan kamboja agar lebih mandiri dan memperoleh penghasilan  dari makanan alternatif ini.

Saya teringat akan kasus saling klaim budaya antara negara kita dengan negara tetangga kita tempo hari. Persoalan penyebaran budaya itu mungkin sudah dilakukan tidak hanya beberapa dekade lalu, tapi mungkin juga sudah lebih lama daripada itu. Seperti halnya bahasa, pakaian, lukisan, ukiran, tarian, dan lain sebagainya asalkan kita tidak berhenti dan terus melestarikan budaya kita sendiri, saya amat tidak yakin 100 tahun kedepan, kamboja akan mengklaim bahwa tempe adalah makanan khas mereka.