Fenomena Nikah telat

mariageFenomena ini sepertinya hanya berlaku untuk orang orang yang seumuran saya saja dimana tanpa terasa waktu begitu cepat berlalu. Rasanya baru tahun kemarin lulus kuliah, eh gak taunya malah sudah punya anak dua..heee.

Entah kenapa, bagi pembaca yang mengikuti terus cerita di blog ini pasti tau akan latar belakang pendidikan saya di bidang pariwisata. Sekolah perhotelan umumnya tidak membutuhkan waktu lama untuk lulusnya, karena sekolah ini memang lebih menitik beratkan ke masalah ketrampilan atau skill, walaupun dari segi manajemennya juga di ajarkan. Tak heran banyak dijumpai pada usia 20 – 21 kami sudah merasakan dunia kerja dan menghasilkan rupiah atau dollar dari sana.

Beda dengan sahabat sahabat saya yang lulusan strata atau S1, minimal 4 tahun baru lulus kalo yang ngambil kedokteran apalagi, lebih lebih jaman sekarang sahabat sahabat saya yang lulusan s1 lumayan banyak yang meneruskan ke s2 dikarenakan mencari kerja dengan gaji yang bagus membutuhkan persaingan yang begitu ketat. “kalo lulusan s1 mah udah banyak banget bro!” begitu yang saya dengar dari salah seorang teman SMA saya dulu.

Balik ke mahasiswa perhotelan, jika lulusan perhotelan biasanya sudah memulai kerja di usia 21-22 pada umumnya, setelah 5 tahun berlalu, agaknya merupakan waktu kerja yang lumayan cukup lama jika hanya dilewatkan seorang diri menurut saya. Tetapi yang terjadi banyak sekali teman teman seumuran saya yang belum menikah. Mereka rata rata sudah mempunyai posisi yang baik dengan pengalaman kerja lebih dari belasan tahun.

Gejala apakah yang sedang terjadi, membuat saya tidak mendapatkan suatu kesimpulan yang pas. Kalo ditanya, ada yang bilang belum dapat yang cocok, ada yang kekeuh terus mencari sosok ideal yang cantiknya mirip artis..heee, ada yang belum pe de karena belum lunas cicilan BTN dan mobilnya bahkan ada yang pasrah, pasrah dikarenakan sudah belasan tahun berlalu tetapi yang tersisa hanya gadget HP terbaru serta cicilan beberapa kartu kredit yang bisa dibayar minimum paymentnya saja.

Kadang saya berpikir berusaha mencari penyebabnya dan saya berangkat dengan menyalahkan besarnya arus informasi yang terjadi sekarang ini dimana mana informasi, begitu banyak informasi, yang akhirnya hal ini mempengaruhi manusia dalam bertindak dan mengambil keputusan. Beberapa contoh yang menjadi landasan berpikir saya, karena banyaknya informasi di media dalam memcari pasangan ideal, membuat manusia manusia muda yang dulunya lugu jadi makin selektif mencari pasangan. Media promosi yang begitu banyak, membuat banyak anak anak muda terjerat dalam budaya konsumtif, hura hura disertai berakhir dengan hutang kartu kredit yang gak tau kapan lunasnya, serta budaya praktis dan instan yang membuat banyak generasi muda memandang menikah itu bikin ribet..bet..bet.

Nah, rekan rekan blogger dengan latar belakang pendidikan yang berbeda pasti punya cerita tersendiri donk dengan fenomena kawin..eh..nikah  telat ini. nah gimana tuh ceritanya?

28 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *