Berjalan dengan kesadaran

brainCieehh..baru baca judulnya kayaknya udah berbau spiritual banget yah..haaa. Kali ini saya hanya ingin mensharingkan saja pemahaman saya tentang kesadaran. Katanya kesadaran itu adalah kalo kita sedang makan dirasain enaknya kalo nggak enak juga dirasain, jadi makan gak perlu terburu buru apalagi sampai kegigit lidah. Kalo lagi di jalan awas sama hal didepannya, kalo anda masih sempet nginjek permen karet di jalan berarti kesadarannya belum terlatih, mungkin terburu buru atau faktor lainnya. Dengan melatih hal hal sederhana gini, katanya kita akan lebih sensitif dan feelingnya kuat akan keadaan disekitarnya. pendeknya,  kita seperti lebih merasakan suara di dalam, mungkin ada yang menyebutnya hati nurani atau apalah saya gak tau.

Saya punya dua pengalaman, pengalaman pertama terjadi disini. Tiap hari kalo saya ke kantor saya selalu melalui jalur yang sama, sampai sampai pak polisi yang tiap hari berjaga di pengkolan perempatan tahu kalo saya foreigner yang gak punya SIM, makanya saya lumayan suka jadi bahan empuk untuk ditangkap, walau dari segi perlengkapan sepeda motor jelas udah lengkaplah dari spion dua, stiker pajak sampai pake helm. Lama lama gerah juga diintai atau bahasa jawanya dititeni terus ama polisi dari kejauhan, maka dari itu saya mengadakan uji coba dengan mendengarkan suara dari dalam, di  mana polisi itu mangkal kali ini..heee

Dan ternyata tepat, jika saya berniat lurus dari lampu merah dan suara dari dalam saya menyuruh saya belok kiri, kalo saya indahkan pasti akan berakhir dengan penghadangan dari polisi, walau kadang lolos dengan memanfaatkan bersembunyi di balik body mobil..heee bandel yah..Tapi kalo saya turuti suara dari dalam ini, saya pasti selamat…pas belok, polisi tidak lagi bertugas di jalan itu

Cerita kedua yang tak kalah seru sampai sampai istri saya pernah mencoba untuk membuktikan perkataan saya adalah sewaktu di Jakarta. Waktu bekerja di Jakarta saya bekerja di kawasan bundaran HI, dikarenakan selalu macet, saya selalu menggunakan Busway dari Sudirman ke stasiun Blok M dan dari sana istri sudah menunggu di pasar raya grande dengan mobil untuk balik ke rumah di Cipete.

Saya cerita kalo seramai ramainya Busway saya selalu bisa mendapatkan tempat duduk 3 sampai 5 stasiun sesudahnya. kalo saya naik dari bundaran HI nah, sampai Benhill atau Ratu Plaza saya pasti dapet tempat duduk, padahal begitu bersesaknya orang berdiri sampai stasiun Blok M.

Istri saya gak percaya, akhirnya di suatu kesempatan, dia janjian dengan saya di sudirman di jam sibuk sekitar jam 7 malam. Kami naik Busway dari Sudirman dan benar di stasiun ke 5 saya sudah mendapatkan tempat duduk yang akhirnya saya berikan untuknya, sayangnya tidak bisa dua duanya karena saya tetap harus berdiri sampai Blok M.

Kalo ditanya bagaimana caranya, nah jawabanya sudah ada di paragraf sebelumnya, nah kalo ditanya lagi bagaimana melatihnya ya sudah juga di ceritakan di paragraf sebelumnya..hee..cuman kalo lebih afdol adalah dengan rajin rajin sembahyang, tapi yang khusuk yah..kalo mau baca buku tentang itu juga boleh, tapi kalo ikut pelatihan, saya sendiri juga gak pernah, kasian uangnya, mending di pake buat kebutuhan anak istri.

Leave a comment ?

23 Comments.

  1. ijin mengamankan pertamax disni bulehkan
    terimakasih untuk artikel yang sangat bermanfaat ini
    salam
    :D

    Reply

    darahbiroe Reply:

    sekalian mengamankan
    psoisi keduax biolehkan
    makasih
    :D
    .-= darahbiroe´s last blog ..Say No To Krisdayanti Facebook Group =-.

    Reply

  2. Budi Hermanto

    wow..
    bisa sampai sperti itu ya mas.. :em51:
    .-= Budi Hermanto´s last blog ..The most popular Korean celebrities in Hong Kong =-.

    Reply

  3. Wempi kirain ada ilmu berjalan di atas angin ato berjalan di sela-sela hujan biar gak basah :em20:
    .-= Wempi´s last blog ..Bayar Pajak Ranmor di Samsat Padang =-.

    Reply

  4. woi, kalau jalan di jalur yang biasa saya lalui, biasanya saya hanya menggunakan feeling, mas boyin, hehe …. ini termasuk sadar apa ndak, yah?
    .-= sawali tuhusetya´s last blog ..Menuju Kendal Mandiri- Refleksi Hari Jadi Ke-405 =-.

    Reply

    boyindra Reply:

    itu kayaknya bawah sadarnya yang sudah mengambil alih pak..mungkin karena setiap hari melalui jalur yang sama.

    Reply

  5. Hmmm…. mungkin ini hampir sama dengan yang namanya “naluri” kali ya?? Tapi “naluri” biasanya didapat setelah beberapa kali mengalami atau beberapa kali menganalisa. Memang sih… busway Jakarta apalagi jam pulang kerja yang ke arah Blok M, sungguh nggak nyaman karena desak2annya itu lho. Namun mungkin kalau kita jeli dan agak beruntung (“naluri” bisa jadi juga dikalahkan oleh kesialan dan dimenangkan oleh keberuntungan) mungkin bisa mendapatkan kursi lebih awal lagi.

    Mungkin sama kayak orang masak, pertama kali nggak yakin sebagaimana banyaknya garam, gula dsb sehingga harus diukur tepat, tapi lama-lama “naluri” bicara juga dengan sendirinya sehingga pada akhirnya kita bisa menakar tanpa alat bantu dan hasilnya pas dan nggak salah jalan! Mungkin seperti itu kali ya?? Hehehe….
    .-= Yari NK´s last blog ..Insterstellar Battleship over Kemang =-.

    Reply

    boyindra Reply:

    naluri dalam contoh memasak lebih ke keadaan tak sadar, dikarenakan seringnya memasak sehingga terjadi repetisi yang mengakibatkan dalam pemberian bumbu, otomatis dikerjakan oleh pikiran bawah sadar dengan menggunakan pengalaman masa lampau, ini sama dengan waktu kita turun dari mobil otomatis tangan kita melakukan perintah untuk menutup pintu mobil. Dalam cerita diatas, semuanya dilakukan dengan sadar.

    Reply

  6. sebenernya itu faktor kesadaran atau keberuntungan ya? :D
    .-= arman´s last blog ..Setahun Yang Lalu =-.

    Reply

    boyindra Reply:

    probabilitas keberuntungan gak mungkin hampir setiap hari donk bang…heee

    Reply

  7. Berjalan dengan kesadaran, berarti berjalan dijalan yang benar :em41:

    Reply

  8. Komen yang pertama kemana? ditangkep tentara ato aku salah pencet :em41:

    Reply

    boyindra Reply:

    ketangkep satpam..hee

    Reply

  9. keren juga pengalamannya…
    saya sudah 5 tahun ini nggak punya SIM C, padahal sering banget bepergian ke luar kota naik motor… pasang muka mantep aja! paling2 setahun kena tilang sekali, kadang malah dua tahun baru kena. Itung2 dibanding bikin SIM, pengeluarannya kira-kira sama…
    ini termasuk berjalan dengan kesadaran gak ya?
    :em62:
    .-= Andy MSE´s last blog ..Uang Baru Rp1000 =-.

    Reply

    boyindra Reply:

    polisine seng sadar kalo muka mas..serem..heee

    Reply

  10. Menarik tulisannya Bung. Agak2 berbau klenik hehehe..
    Orang jaman sekarang lebih seneng menganggap hal2 seperti itu sebagai bantuan semesta… Dikit2 dibilang “Oh, semesta membantumu” atau “Oh, semesta mendengar permintaanmu” kalau saya sih tetep lebih percaya Tuhan hehehe
    .-= DV´s last blog ..Beginikah cara mereka memprioritaskan masalah =-.

    Reply

    boyindra Reply:

    Semesta…ehhmm kayak lagunya Chrisye aje..tapi semesta punyanya Tuhan juga khan..?

    Reply

  11. Saya sepakat dengan kang Yari…dan naluri dapat dilatih.
    Justru dalam beberapa bidang pekerjaan yang risikonya tinggi, melatih naluri ini sangat penting karena bisa menghindarkan diri dari risiko kejahatan, ataupun risiko lainnya
    .-= edratna´s last blog ..Hotel untuk para “Backpacker” di Jakarta Selatan =-.

    Reply

  12. kita memang terlahir dengan insting sepertinya juga mahluk yang lain. Sayangnya seiring waktu kita melupakan fungsi ini dan gak pernah melatihnya lagi
    .-= bukan detikcom´s last blog ..Aksi Pong Diikuti Orang Lain =-.

    Reply

  13. setuju banget dengan insting, filing, naluri, dan mata batin…kesadaran bahwa hal tersebut kita semua miliki dan mampu melatihnya sajalah yang diperlukan…
    mantabsss masbrow artikelmu… :em69: LIKE THIS! :em64:
    .-= weka´s last blog ..Pensil yang berkualitas adalah seperti ini… =-.

    Reply

  14. kok kayak klenik mas. hehehe
    .-= endar´s last blog ..Engineering blog =-.

    Reply

    boyindra Reply:

    tapi gak serem khan..?

    Reply

Leave a Comment


NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>