Monthly Archives: February 2010

Nyuri kreditnya orang

Didalam dunia internet copas mencopas itu biasa, walaupun banyak blog memberikan disclaimer tentang “boleh copas tapi harus menyertakan sumbernya” pada kenyataannya tetep aja masih banyak yang copas. Buat saya kalo digituin sebenarnya agak keki juga tapi mengingat saya juga suka copas gambar, jadi saya relain aja.

Suatu ketika saya pernah iseng ngecek tulisan saya yang berbau tips di website copy scape itu dan kelihatan ada anak muda ganteng dengan pose lagi petenteng (basa indonesianya apaan yah) menceritakan tips bagaimana cara kuat minum alkohol tanpa mabuk yang notabene copasan dari blog ini. Saya mah cuman geleng geleng keki aja, tapi dalam hati saya ketawa juga, ntar kalo beneran diajakin minum trus gak sesuai dengan teorinya, bukannya malah diketawain..haaa.

Tapi bukan itu yang saya mau sharing, kali ini masih berkisar tentang kehidupan yang “katanya”profesional tetapi ternyata hanya bikin malu dunia profesional aja. Sharing aja agar berhati hati buat rekan rekan atau rekan saudara, atau teman yang akan bekerja di luar negeri.

Di suatu perusahan ada seorang teman manager yang jaim banget, kelihatan pinter dan berpengalaman. Kalo ngomong gak lepas dari kata-kata seperti ini “sewaktu saya di sana…caranya begini..”, “sewaktu di perusahaan A,B,C, saya biasanya..begini..begina..beginul..begindang…hahaha” pernah denger yang kayak gitu?

Suatu waktu, ada proyek baru dari big boss yang harus dilakukan oleh kita para bawahannya, teman ini dapat bagian ini, saya bagian yang lain. Suatu ketika sang teman berkunjung ke kantor saya dan menanyakan soal pekerjaan itu, dia sempet ngelihat kerjaan dan proposal yang saya buat dilayar komputer dan memberikan pendapatnya.

Besoknya di inbox saya, saya melihat emailnya yang ditujukan kepada big boss kami dengan tak lupa cc ke saya lengkap dengan attachmentnya. Saya lumayan kaget juga sewaktu melihat proposalnya, lha kok proposal yang notabene persis punya saya disertakan juga dalam laporannya lengkap dengan namanya yang mengklaim sebagai “prepared by”.

Semua orang pasti keki dan sangat gondok kalo di kerjain seperti itu, apalagi kalo beda kebangsaan, wuiih mungkin itu emosi bisa sampai di ubun ubun. Makanya, saya cuman mau cerita aja, kalo bekerja di luar negeri kudu siap siap dengan hal hal semacam itu agar nggak kaget trus gak bisa nahan emosi trus patah semangat dan ujung ujungnya nanti stress ingin pulang ke tanah air. Mau diajak berantem itu orang juga nggak ngaruh, kadang kita sebagai bangsa Indonesia lumayan minoritas dan suka gak ada power untuk itu. Mau debat debatan dalam bahasa inggrispun bisa bisa anda yang kalah cepat..haaaa. Makanya kudu belajar ngelmu boyin disini.

Akhirnya dalam kasus ini, si teman yang akhirnya malu(gak tau beneran malu nggak dia) setelah mendapat telpon dari saya yang mengatakan begini “Oii bro! the one that you’ve just sent it, I’ve send it to him earlier yesterday. Anyway you’ve got to be fast a little bit lah, if you want to copy mine..heee” dan telponpun saya tutup tanpa peduli suara diseberang sana.

Udah selesai? belon. Langkah selanjutnya anda kudu datang ke boss dan jelaskan tentang apa yang terjadi, kadang sang boss juga nggak ngeh siapa yang nyuri duluan, apalagi kalo si boss berbeda kebangsaan dengan anda dan malah satu kampung (ras maksudnya) dengan teman anda ini. Gunakan communication skill anda agar gak terkesan ngadu kayak anak kecil.

Gimana kalo nggak berani untuk klarifikasi? ya udah terserah anda. Tanggung sendiri akibat selanjutnya.

Life is not fair, get used to it

Itu salah satu kata kata om bill gates yang terkenal. Kalo saya sih secara surgawi gak percaya, karena hidup ini selalu menjaga balancenya/ keseimbangannya, buktinya abis malam ada siang, habis kenyang lapar lagi, dan berbagai macam contoh dualisme kehidupan yang lainnya.

Tapi kalo secara duniawi, kenyataannya memang yang kita lihat banyak terjadi secara terang terangan, dan ini pula yang saya dapatkan dari cerita teman. Teman ini mengeluh karena dia baru tahu kalo anak buahnya yang notabene orang baru yang masih dibawah depatemennya, gaji si anak ini lebih besar dari gajinya…., waahhh saya cukup kaget mendengarnya, lha kok bisa didunia expat yang menjunjung profesionalisme kok bisa bisanya kejadian kayak gitu? batin saya.

“lucu banget neh, gue yang ngawasin kerjanya die, dan beberapa departemen lain, eh ini anak bisa dapet segitu!”ujarnya. Pertama kali yang saya tanyakan adalah, darimana dia mendapat informasi valid seperti ini, dan ternyata memang informasi ini kemungkinan besar bisa dipercaya.

Akhirnya saya hanya menyarankan bahwa dia harus mulai mencari pekerjaan yang lain selain di perusahaan ini, karena bau bau politik sudah terasa, alias sebentar lagi dirinya akan kena korban PHK setelah kontrak abis, sambil menceritakan beberapa kejadian kejadian lain yang pernah terjadi sewaktu kita pernah bekerja di waktu sebelumnya, dan teman ini mengangguk mengerti. Cara dan trik politik kantor sudah pernah saya bahas sebelumnya disini.

Ditengah perjalanan cerita, sang teman banyak sekali mengeluhkan tentang kehidupan yang tidak adil seperti ini, semua bisa didasarkan oleh warna kulit, asal negara, kemampuan berbahasa lain selain inggris, dan banyak faktor lainnya. Ditengah tengah curhatnya yang cukup melelahkan untuk didengar akhirnya saya menyela dengan mengatakan kata seperti judul diatas “Hidup emang tidak adil, jadi biasakanlah” sang teman terhenti sejenak mendengar kata kata saya dan tetep aja ngelanjutin curhatnya (wadooohh).

Andaikata sang teman ini tidak larut dalam emosinya dan mendominaasi percakapan, saya ingin sekali menyadarkannya bahwa banyak sekali rekan seprofesi yang bekerja dalam posisi yang sama di tanah air harus rela bermacet macet ria, menghadapi kerasnya hidup di ibu kota, dipalak, kerja kudu berangkat 3 jam sebelumnya dan nyampai rumah 3 jam sesudahnya ditambah lagi kudu mendapatkan kurang dari setengah gajinya sekarang. Ditambah lagi masalah hidup yang lain seperti listrik mati, genteng bocor, mobil rusak kerendem banjir, ditelponin debt collector dan masih banyak yang lainnya.

Intinya kudu bersyukurlah. Kalo dia bisa berkata life is not fair, lha yang di tanah air juga bisa berkata seperti itu pula khan?

Semua TKI memang pahlawan devisa

Suatu siang di kantin kantor, kami dari berbagai bangsa ada Indonesia, Philipina, Singapura dan India ngobrol ngobrol ringan sambil makan siang. Ngobrol yang ngalur ngidul dengan bermacam macam topik itu sungguh mengasikkan. Selain untuk menambah wawasan juga pengetahuan baru juga tentang tabiat masing masing negara.

Teman saya yang orang philipina itu bercerita bahwa dia sedang berusaha mencari mobil bekas untuk keperluan mobilitasnya, bahkan menurut ceritanya, karena saking ngilernya dengan type mobil tertentu, dia rela meminjam uang kepada teman temannya sesama komunitinya (sesama philipino maksudnya) agar tercapai cita citanya memiliki jenis mobil tersebut.

Lain lagi dengan yang India, dia berencana untuk mengajak kakak iparnya dan anggota saudara yang lain untuk hijrah ke kamboja dalam rangka mendirikan restaurant masakan India yang dinilai belum cukup banyak itu. Saya sempet kasi masukan karena saya lebih lama tinggal di kamboja sini, bahwa banyak resto masakan India yang sudah bangkrut karena kenyataanya mana ada masakan India yang murah? dan sang teman ini cuman angguk angguk aja.

Nah kalo yang orang Singapore ini sedikit beda, karena boss, dia ingin menyalurkan hobbynya dengan membeli motor trail untuk hobby barunya yang tercipta dengan tiba tiba. kok tiba tiba? ya iyalah, kalo di Singapore mana ada duit main yang beginian, nah karena disini dirasa mampu, makanya terciptalah hobby dadakan itu.

Nah yang terakhir kita orang Indonesia ada dua orang, yang satu kemana mana masih naik ojek atau taxi sedangkan saya cukup membeli sepeda motor yang dimana pada waktu itu juga sepeda motor bekas , ada seorang teman yang kepepet sekali perlu uang dan menjualnya dengan harga jauh dari harga pasaran. Pikir pikir merawat motor jauh lebih murah dibanding merawat mobil dan lebih irit dibanding naik ojek secara keseluruhan.

Percakapan diatas memang percakapan sebagian kecil kelompok saja, tetapi kalo di generalisasikan sesuai kebangsaannya, kebanyakan orang Indonesia yang bekerja sementara disini memang hidup yang paling sederhana. Alasanya sudah pasti karena masing masing memanfaatkan kesempatan baik ini untuk menabung dan membawa tabungannya ke daerah/ kampung masing masing. Hal ini tentunya agak sedikit berbeda dengan orang Indonesia yang memutuskan tinggal lama atau yang hidup dengan punya usaha disini. Kalo yang itu malah saya tidak tahu.

Sewaktu bekerja di Singapura negara mana yang staffnya suka overtime buat tambahan gaji, fakta yang saya lihat orang Indo. Dan sewaktu di pelayaran, banyak teman teman yang hanya mengalokasikan sebagian gajinya hanya membeli kartu telepon. Buat telpon orang tua di kampung. Sementara pekerja yang lain banyak menghabiskan gajinya dengan membeli baju/fashion, stereo set, dsb. Malah sesama orang Indo kita malah saling pamer dan lomba berapa banyak kita bisa ngirit dan bawa uang pulang, karena kontrak pulangnya kadang bersamaan.

Makanya dengan mayoritas sifat pekerja kita yang seperti itu, hendaknya pemerintah lebih mendukung pekerja indonesia untuk bekerja di luar negeri tentunya dengan perundang undangan yang lebih berpihak kepada pekerja, minimal memberikan rasa aman, karena rasa aman merupakan kebutuhan utama setiap manusia. Mereka para pekerja Indonesia pulang membawa devisa bagi negara.

Terkadang saya kangen juga untuk ngetes mobil dan ngebut di jalan tol, kalo udah gitu biasanya saya suka SKSD sama teman yang punya mobil dan hang out bersamanya tentunya dengan meminta persetujuannya kalo bisa nyetirin mobilnya..haaa…sayangnya disini juga gak ada jalan tol dan sistem jalan disini semuanya serba blok per blok yang jaraknya hanya per 100 meter saja
udah ketemu pengkolan. Mau ngebut dimana?