Memperbaiki taraf hidup tanpa meninggalkan kebersamaan

Semakin lama kehidupan para pekerja semakin sulit. Tidak hanya di Indonesia tapi juga dibelahan dunia manapun. Jika pada mulanya kita sebagai pekerja profesional bisa memilih tempat pekerjaan yang kita inginkan, sekarang agaknya harus sedikit mengurangi atau memilih bekerja di manapun tanpa syarat.

Mendapatkan pekerjaan karena koneksi atau mempunyai kenalan yang bisa membantu dalam menentukan keputusan adalah sebuah berkah, tapi nyatanya kalo tidak punya juga bukan akhir sebuah dunia, seperti halnya saya yang rata rata harus melewati lebih dari 60 kali mengirim lamaran dan hanya 2 atau 3 yang merespon dan akhirnya satu yang nembus.

Jaman dulu dengan jaman sekarang namanya mencari pekerjaan tetap sama sama sulit, hanya saja saya perhatikan peluang itu untuk tahun tahun ini semakin sedikit. yang biasanya bisa 3-4 lowongan perhari sekarang mungkin hanya 1-2 per 3 hari. Itu saja sudah tidak dibatasi di daerah tertentu apalagi dibatasi daerah tertentu..walaah.contohnya begini kalo seandainya anda mencari lowongan sebagai chief accountant misalnya, anda buka job postingan malaysia,singapura atau kawasan asia dan hari itu anda mendapatkan 3 lowongan untuk di lamar, bisa di bayangkan kalo target daerahnya anda batasi misalnya hanya jakarta saja.Mungkin bisa saja hanya ada 1 lowongan per 3 harinya dan itupun yang melamar lebih dari 100 orang…heeee

Nah, banyak rekan rekan saya akhirnya yang bertanya,”Lah kalo gak dibatasi daerah lamarannya, trus umpamanya dapet kerja di China misalnya,trus keluarga mau dibawa kemana ?, apalagi keluarga tidak ditanggung, aku cuma dibayar perusahaan dengan single status.”

“Tapi khan,dapatnya 2 sampai 3 kali di Indo,masak mau nganggur terus. sayangkan.”kata saya waktu itu.

Ini sebenarnya dilema klasik dan banyak banget yang mempertanyakannya, sayangnya hanya sedikit yang menganalisisnya lebih dalam. Kendala yang banyak dikemukakan dari kedua belah pihak (pasutri) biasanya anak yang sedang sekolah, istri gak mau hidup pisah, godaan di negeri seberang (selingkuh), mertua gak beri ijin, orang tua yang lagi sakit sakitan, salah satu anggota keluarga yang malas ikut karena tempat tugas sang ayah didaerah terpencil, dan masih banyak lagi.

Sebenarnya pembahasan ini diperuntukkan oleh kalangan pekerja yang sudah berkeluarga karena memang masalah yang cukup kompleks diatas. Sebenarnya kalo mau jujur tanpa pake survey survey an, para pekerja kita saat ini banyak yang hidup berdampingan dengan hutang.Kalo ngomongin hutang KPR, itu sih sangat wajar, tapi kalo udah masuk wilayah hutang kartu kredit misalnya yang sampai punya 8 kartu dan bayarnya selalu minimum payment mulu. Nah itu tuh,mirip negara Amerika nantinya. Tinggal nunggu kata kata gini ke istri “Oh honey,I’m broke.”

Nah,jika kesempatan untuk bekerja di LN terbuka ada baiknya kalo menurut pendapat saya pribadi diambil saja dan jangan lupa usahakan keluarga di ajak juga,minimal anda dulu yang hijrah kesana.Jika 3 bulan sudah lulus probation,sambil cari cari info sewa rumah, sekolah atau kendaraan, nah boleh tuh keluarga diajak.

Banyak sekali yang karena keluarga tidak ditanggung perusahaan, hanya pekerja itu saja yang bekerja di negeri lain sedangkan istri dan anak anak ditinggal.alasannya,uang yang tidak cukup,tabungan nggak bisa lebih banyak,dan lainnya.

Saya mempunyai banyak sekali teman yang bekerja sendiri tanpa mengajak keluarga dan kalo mau tau kenyataannya 60% dari mereka menikmati kesendiriannya yang tidak sendiri. Loh? ya kalo itu saya gak usah jelaskan,yang baca pasti mengerti maksud saya. 40%nya benar benar merasa sendiri dan selalu mencari teman curhat sesama laki laki yang mengatakan tidak betah,kangen banget keluarga dan lain sebagainya.

Saran saya,coba kaji lagi berapa penghasilan yang didapat dan ongkos kalo harus membawa dan menyekolahkan anak di negeri seberang ini. Kebanyakan mereka sebenarnya mampu, hanya saja tiba tiba jadi kemaruk untuk menabung lebih banyak dan akhirnya melupakan pentingnya sebuah kebersamaan.Biar bagaimanapaun juga istri dan anak akan lebih memilih bersama daripada hidup terpisah.Disini saya menemui hampir 100% keluarga yang hijrah bersama menghabisakan rata rata tinggal lebih dari 5 tahun. Jauh lebih sedikit dari rata rata pekerja “single status” yang bekerja di luar negeri. Mereka rata rata menghabiskan waktu 1 sampai 2 tahun. Walau mereka sebenarnya “menikmati”, tapi orang rumah yang ada di Indo biasanya merasakan sebaliknya…heee.

Leave a comment ?

15 Comments.

  1. pernah dengar lagu… demi kau dan sibuah hati aku rela begini. :em32:
    .-= Wempi´s last blog ..Update Online NetBeans IDE =-.

  2. betul banget itu, mas boyin, nilai kebersamaan jangan samapoi luntur hanya karena keasyikan kita memburu tambahahan pengahsilan dan naiknya taraf hidup di negeri orang. hmm .. tulisan yang kayak dijadikan referensi bagi mereka yang punya keinginan bekerja di tanah seberang.

  3. iya setuju… kalo emang harus kerja pindah negara/kota ya lebih baik anak istri ikut lah. yang penting emang kebersamaan kan dalam keluarga itu…

    mana enak sih tinggal jauh2an.. πŸ™‚
    .-= arman´s last blog ..Korea Town =-.

  4. emang dasar laki-laki…
    makanya saya gak mau sama laki-laki… :em23:
    .-= itempoeti´s last blog ..Noordin M Top – Osama bin Laden =-.

  5. Jangankan yang di LN, mas..pindah tugas antar kota aja isteri dan anak selalu saya boyong. Maklum orang rumahan, jadi betahnya kalo ada anak dan isteri…:-) Kata orang Jawa, Mangan Ora Mangan Sing Penting Ngumpul..hehehe

  6. wah tapi dalam angannya si blue nanti jika memiliki anak pengen di sekolahin diseberang biar bisa lebih tahu dunia dibandingkan dengan blue heheh…………..ini rencana lho om
    doakan yah
    salam hangat selalu
    but kebersamaan di indo juga kurang kong om………….ayah dan ibuku bekerja terus kita justru kumpulnya pas saat mau berangkat tidur dan sekolah itu yg blue alami sedari kecil……..
    .-= dobleh yang malang´s last blog ..Dan rencana pernikahan itu pun………….. =-.

  7. Billy Koesoemadinata

    lebih enak lagi kalo misal kerja di perusahaan multinasional, terus semua kebutuhan dibiayain dan dicariin..

    termasuk soal tunjangan keluarga πŸ˜‰

  8. setujuh
    dengan keluarga diajak minimal hanya satu dapur yang dibiayai
    terus kangen juga ngak perlu negok dompet
    kasih sayang ke anak terus dapat tercurahkan
    tapi diriku juga belom bisa kumpul keluarga bos

  9. wah wah…
    apapun profesi kita di mana pun berada, tantangan terbesarnya adalah mendapatkan pekerjaan.
    diriku cuma berpikir tentang orang2 yang bekerja di luar negeri itu karena gaji di sini sangat kecil.
    eh perasaan kok diriku jarang bw ke sini ya πŸ˜€
    .-= ~noe~´s last blog ..Seleksi Delenger =-.

  10. lagi-lagi uang sebagai penyebabnya…
    .-= buJaNG´s last blog ..Maaf, karena Internetnya Super Duper LoLa (Loading Lama) jadinya… =-.

  11. Kesulitan ada disetiap bidang Mas…
    .-= marsudiyanto´s last blog ..Surip vs Gendong =-.

  12. Cari kerja susah. Pengangguran banyak. Tetapi saya buka lowongan marketing via surat kabar, yang melamar satupun kagak ada
    .-= Anthony Harman´s last blog ..Kecanduan MAFIA WARS =-.

  13. Sekarang ada internet dan hp, semuanya jadi serasa serba dekat. Apalagi kalau bisa webcam. Yang penting jika sang suami pulang kampung, bisa memanfaatkan waktunya yang sedikit itu untuk keluarga sepenuhnya. Ingat faktor kualitatif juga tidak kalah pentingnya dengan faktor kuantitatif dalam meniti kebersamaan dalam keluarga… πŸ™‚
    .-= Yari NK´s last blog ..Sipit Itu Jelek? =-.

    boyindra Reply:

    haaa..ini dia yang bakal jadi postingan saya besok mas…

  14. Semboyan orang Jawa: Mangan Nggak Mangan Asal Kumpul, mungkin terdengar naif tapi pada kenyataanya kehadiran keluarga sangat memberikan dukungan bagi orang yang bekerja di luar kota/negeri. Sekaligus juga sebagai kontrol diri karena memang godaanya sangat besar.

    btw salam kenal ya Mas πŸ™‚

Leave a Comment


NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>