Monthly Archives: July 2009

Memperbaiki taraf hidup tanpa meninggalkan kebersamaan

Semakin lama kehidupan para pekerja semakin sulit. Tidak hanya di Indonesia tapi juga dibelahan dunia manapun. Jika pada mulanya kita sebagai pekerja profesional bisa memilih tempat pekerjaan yang kita inginkan, sekarang agaknya harus sedikit mengurangi atau memilih bekerja di manapun tanpa syarat.

Mendapatkan pekerjaan karena koneksi atau mempunyai kenalan yang bisa membantu dalam menentukan keputusan adalah sebuah berkah, tapi nyatanya kalo tidak punya juga bukan akhir sebuah dunia, seperti halnya saya yang rata rata harus melewati lebih dari 60 kali mengirim lamaran dan hanya 2 atau 3 yang merespon dan akhirnya satu yang nembus.

Jaman dulu dengan jaman sekarang namanya mencari pekerjaan tetap sama sama sulit, hanya saja saya perhatikan peluang itu untuk tahun tahun ini semakin sedikit. yang biasanya bisa 3-4 lowongan perhari sekarang mungkin hanya 1-2 per 3 hari. Itu saja sudah tidak dibatasi di daerah tertentu apalagi dibatasi daerah tertentu..walaah.contohnya begini kalo seandainya anda mencari lowongan sebagai chief accountant misalnya, anda buka job postingan malaysia,singapura atau kawasan asia dan hari itu anda mendapatkan 3 lowongan untuk di lamar, bisa di bayangkan kalo target daerahnya anda batasi misalnya hanya jakarta saja.Mungkin bisa saja hanya ada 1 lowongan per 3 harinya dan itupun yang melamar lebih dari 100 orang…heeee

Nah, banyak rekan rekan saya akhirnya yang bertanya,”Lah kalo gak dibatasi daerah lamarannya, trus umpamanya dapet kerja di China misalnya,trus keluarga mau dibawa kemana ?, apalagi keluarga tidak ditanggung, aku cuma dibayar perusahaan dengan single status.”

“Tapi khan,dapatnya 2 sampai 3 kali di Indo,masak mau nganggur terus. sayangkan.”kata saya waktu itu.

Ini sebenarnya dilema klasik dan banyak banget yang mempertanyakannya, sayangnya hanya sedikit yang menganalisisnya lebih dalam. Kendala yang banyak dikemukakan dari kedua belah pihak (pasutri) biasanya anak yang sedang sekolah, istri gak mau hidup pisah, godaan di negeri seberang (selingkuh), mertua gak beri ijin, orang tua yang lagi sakit sakitan, salah satu anggota keluarga yang malas ikut karena tempat tugas sang ayah didaerah terpencil, dan masih banyak lagi.

Sebenarnya pembahasan ini diperuntukkan oleh kalangan pekerja yang sudah berkeluarga karena memang masalah yang cukup kompleks diatas. Sebenarnya kalo mau jujur tanpa pake survey survey an, para pekerja kita saat ini banyak yang hidup berdampingan dengan hutang.Kalo ngomongin hutang KPR, itu sih sangat wajar, tapi kalo udah masuk wilayah hutang kartu kredit misalnya yang sampai punya 8 kartu dan bayarnya selalu minimum payment mulu. Nah itu tuh,mirip negara Amerika nantinya. Tinggal nunggu kata kata gini ke istri “Oh honey,I’m broke.”

Nah,jika kesempatan untuk bekerja di LN terbuka ada baiknya kalo menurut pendapat saya pribadi diambil saja dan jangan lupa usahakan keluarga di ajak juga,minimal anda dulu yang hijrah kesana.Jika 3 bulan sudah lulus probation,sambil cari cari info sewa rumah, sekolah atau kendaraan, nah boleh tuh keluarga diajak.

Banyak sekali yang karena keluarga tidak ditanggung perusahaan, hanya pekerja itu saja yang bekerja di negeri lain sedangkan istri dan anak anak ditinggal.alasannya,uang yang tidak cukup,tabungan nggak bisa lebih banyak,dan lainnya.

Saya mempunyai banyak sekali teman yang bekerja sendiri tanpa mengajak keluarga dan kalo mau tau kenyataannya 60% dari mereka menikmati kesendiriannya yang tidak sendiri. Loh? ya kalo itu saya gak usah jelaskan,yang baca pasti mengerti maksud saya. 40%nya benar benar merasa sendiri dan selalu mencari teman curhat sesama laki laki yang mengatakan tidak betah,kangen banget keluarga dan lain sebagainya.

Saran saya,coba kaji lagi berapa penghasilan yang didapat dan ongkos kalo harus membawa dan menyekolahkan anak di negeri seberang ini. Kebanyakan mereka sebenarnya mampu, hanya saja tiba tiba jadi kemaruk untuk menabung lebih banyak dan akhirnya melupakan pentingnya sebuah kebersamaan.Biar bagaimanapaun juga istri dan anak akan lebih memilih bersama daripada hidup terpisah.Disini saya menemui hampir 100% keluarga yang hijrah bersama menghabisakan rata rata tinggal lebih dari 5 tahun. Jauh lebih sedikit dari rata rata pekerja “single status” yang bekerja di luar negeri. Mereka rata rata menghabiskan waktu 1 sampai 2 tahun. Walau mereka sebenarnya “menikmati”, tapi orang rumah yang ada di Indo biasanya merasakan sebaliknya…heee.

Emang Amerika saja yang menancapkan pengaruh

pusbudi1Postingan orang awam. Minggu kemarin saya bertandang ke KBRI Phnom Penh untuk menyaksikan pagelaran budaya yang didatangkan oleh penari dari yogyakarta dan merupakan malam kesenian untuk para pelajar bahasa Indonesia di Phnom Penh ini.

Pagelaran yang bertajuk “Pentas tari tradisional oleh realiska hayati dari yogyakarta dan aktualisasi murid bahasa Indonesia pusbudi Nusantara” merupakan malam kesenian dan terbuka untuk seluruh warga Indonesia yang berada di Kamboja.

Sebagai warga yang baik dan kebetulan ada waktu untuk datang ya tentunya tidak akan menyiakan kesempatan ini, apalagi ada jamuan makan malam  gratis..heee

Disana saya cukup terpukau oleh penampilan dari murid murid bahasa Indonesia yang jumlahnya 200an yang notabene warga negara asli kamboja. Mereka menunjukan kepiawaiannya dalam menari tari tradisional Indonesia, Fashion Show pakaian adat Indonesia, sampai baca puisi seperti puisi Ki Hajar Dewantara dan R.A Kartini..wah wah

Karena penasaran, saya dekati teman saya yang kebetulan salah seorang staff di KBRI itu. Beliau mengatakan bahwa setiap tahunnya mereka memberikan beasiswa untuk murid murid bahasa Indonesia untuk belajar ke Indonesia sesuai dengan minat dan bidang studi masing masing di Universitas Universitas negeri terkenal di Indonesia.

Info lainnya yang cukup mengejutkan saya juga bahwa pasukan pengawal president disini juga dilatih oleh para kopassus kita dan untuk tahun ini akan ada kerjasama melatih para tentara disini dengan ilmu beladiri pencak silat Indonesia.

Beliau mengakui jika negara sekelas Indonesia kalo  menancapkan pengaruhnya langsung ke bidang politik dan ekonomi, banyak biaya yang harus di tanggung, maka dari itu melalui pintu sosial budaya (sosbud) adalah langkah yang paling tepat dan keberhasilan itu terbukti dengan kemampuan murid murid bahasa Indonesia ini.

Hasil dari pengaruh inipun terbukti dari pendataan warga negara yang melapor, bahwa tahun 2009 ini warga Indonesia yang bekerja di Kamboja mengalami kenaikan yang signifikan hingga 532 orang dari sewaktu pertama kali saya datang ke negara ini tahun 2007 yang hanya hampir 300an. Mereka banyak yang bekerja di sektor telekomunikasi, farmasi, tekstil, NGO, dan masih banyak lagi. Restoran Indonesia yang dulu hanya 2 sekarang sudah 5 restoran.

Jadi kalo anda masih berpikir bahwa negara kita ini dilecehkan oleh negara lain, jangan percaya begitu saja. Rumor yang beredar juga mengatakan bahwa negara kamboja ini bekerja sama dengan pengusaha Indonesia untuk dibantu dibuatkan National Airlines seperti yang kita miliki dengan Garuda Indonesia Airways. Tahun 2009 ini mereka belum punya National Airlines, padahal Garuda sudah eksis di tahun 60an.

Kalo berminat mencoba kerja disini, saya kasi link untuk lamarannya di sini. Disini keahlian profesional anda di butuhkan atau kunjungi postingan saya sebelumnya di sini untuk link yang lain di vietnam.

Kalo minimal dapatnya 2 kali lipat di Indo, lumayan khan? krisis krisis gini…heee