Sang Perintis

Minggu kemarin adalah King’s Birthday di Kamboja dan masyarakat setempat libur 3 hari dengan hari libur yang lain total libur 4 hari. Kamboja memang terkenal dengan banyak liburnya. 25 public holiday dalam setahun! Sewaktu berkunjung ke tempat seorang teman yang mempunyai warung makanan Indonesia sambil makan siang, beliau  mengajak saya untuk keluar jalan jalan sore dengan mengajak istri dan anak di suatu tempat taman bermain anak anak. Ajakan ini saya iyakan dan jam serta tempat sudah kami sepakati.

Akhirnya sore itu kamipun bertemu dan ternyata tidak hanya satu keluarga saja yang berkumpul tetapi ada keluarga Indonesia lain juga yang turut serta. Saat di perkenalkan, ternyata teman keluarga baru ini pindah dari jakarta ke kamboja baru 2 bulan. Setelah ngobrol ngobrol ternyata beliau tidak dalam ikatan kontrak dengan perusahaan lain melainkan mereka bermaksud untuk membuka usaha warung di negeri kamboja ini. Dalam kesempatan itu juga mereka membawa banyak makanan yang disediakan untuk dicoba.Dalam rangka promosi katanya. Ada rendang sapi, ayam sambal balado, terong sambal,dan masih banyak yang lain. Lumayan nih, tak terduga ada makanmakan gratis.

Sambil makan, saya lumayan kaget juga mendengar kisah singkat mereka bahwa mereka baru 2 bulan disini, tidak bisa bahasa setempat serta minggu pertama mereka pindah,istri teman baru saya ini terserang Demam Berdarah dan membutuhkan 3 minggu untuk perawatan. Untuk sekedar informasi saja, tidak disarankan untuk sakit berat disini karena keterbatasan bahasa dan kualitas pelayanan yang sangat kurang. Biasanya kalo orang Indonesia sakit berat,dokter lebih suka menyarankan mencari pengobatan di Vietnam atau Thailand sebagai negara terdekat dengan kualitas yang jauh lebih baik.

Mendengar penuturannya yang lumayan nekat, hijrah di negara asing dengan segala keterbatasan dana dan informasi membuat saya lumayan kagum dengan tekadnya. Saat berkunjung ke rumah kontrakannya, semuanya masih kosong, belum ada furniture yang berarti dan TV. (lumayan yah 2 bulan gak nonton TV). Teman baru ini juga mempunyai rencana pula untuk membangun perekonomian penduduk setempat untuk mandiri dengan membuka pelatihan seperti cara membuat mie tek tek yang sering kita jumpai di Indonesia lengkap dengan nasi gorengnya yang dijajakan keliling. Wow! Ide yang sederhana tapi amazing bagi saya.

Setelah berkenalan dengan teman baru ini, cakrawala pengetahuan saya malah di perluas lagi dengan fakta bahwa ada juga beberapa pengusaha Indonesia yang membantu menciptakan usaha mandiri bagi rakyat terbelakang Kamboja ini, salah satu contoh misalnya dengan mengajarkan mereka cara membuat tikar yang baik dengan bahan bahan alam yang bisa mereka didapat di sekitar mereka dan akhirnya di jual untuk dinikmati warga setempat. Penciptaan sarana air bersih untuk 3000 warga di kampung kampung pedesaan (kalau yang ini dananya dari Luar negeri melalui organisasi non laba/ NGO),  serta usaha yang lainnya.

Saya hanya bisa kagum saja dengan pengalaman yang saya alami minggu minggu ini dengan mendapati bahwa ada juga orang Indonesia yang ternyata cukup berani dan mampu dengan segala keahlian yang mereka miliki di bidang yang mereka pahami untuk merintis hal hal baru bahkan bisa menciptakan lapangan kerja di negeri orang.

Satu lagi yang saya suka dengan teman baru ini, ternyata masakannya yang akan di jual adalah salah satu masakan favorit saya yang belum ada di kamboja ini yakni masakan padang!

27 Comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *