Bahaya kenyamanan tempat kerja dalam pengembangan karir (1)

officeAkhir tahun 2004 adalah saat yang terindah dalam karir saya. bukan karena jabatan yang tinggi, sama sekali tidak. gaji yang menggiurkan, enggak juga.naik sih tapi bukan itu pointnya.

Sewaktu kuliah, saya adalah mahasiswa yang pas pas an IPnya. gak terkenal dalam bidang mata kuliah apapun. kalau ada mata kuliah yang agak berat dikit seperti manajemen atau marketing dan ada tugas kelompok, bisanya cuman jadi pengikut. ngiyain teman teman yang lebih pintar.

Sebenarnya menurut pendapat saya,menjadi mahasiswa pintar dengan IP yang bagus itu penting banget. saya yakin yang lainnya juga setuju. Karena dengan IP yang bagus anda bisa diterima di perusahaan yang bagus dengan gaji yang ok pula.

Sayang, mau diapain lagi, ternyata saya bukan mahasiswa seperti itu, terbukti sewaktu ada bukaan lowongan untuk hotel bintang 5 berlian yang terkenal mewah dan tekenal dengan gaji dan service charge yang tinggi. saya gak masuk hitungan. beberapa teman yang memang saya akui lebih pintar dan rajin,  mendapat kesempatan itu. Oya buat yang belum mengerti apa itu service charge bisa buka postingan saya dulu yang judulnya ini.

Singkat cerita akhirnya saya bekerja di hotel bintang 4 di daerah pantai kuta. hotelnya para selebritis Indonesia. hampir semua selebritis indonesia udah pernah nginep di hotel ini (gak usah ditebak yah).

Enak banget sering ketemu artis dan penyanyi ibukota, tapi kerjaan di dalamnya ampun deh. banyak pressure dan tuntutannya lumayan berat. selalu kekurangan staff padahal hotelnya rame banget.maklum murah meriah. banyak teman teman yang gak kuat. sebagai gambaran saja dalam waktu 6 bulan saya jadi staff senior nomor lima dari 12 staff di reception alias ada 7 orang resign dalam waktu 6 bulan.

Waktu berlalu, makin banyak yang datang dan pergi. Ada yang cuma 1 tahun saja bekerja, 6 bulan bahkan 1 bulan gak kuat langsung cabut. tidak hanya staff tetapi level supervisor, assistant manajer sampai departemen head pun silih berganti.

Banyak orang menganggap itu suatu kesalahan manajemen yang buruk.tapi hal buruk tidak selamanya buruk, selalu ada hal baiknya juga. dari situasi tersebut, management mulai mempertimbangkan untuk mempromosikan staff staff yang bertahan/berdedikasi dan berprestasi untuk mengisi beberapa jabatan yang lowong dan sukur saya termasuk diantaranya.

Suatu ketika hotel paling ngetop di bali membuka ekspansi perluasan property nya dan membutukan banyak karyawan, dari staff biasa sampai managerial level. proses interview pun berlangsung ketat. 5 kali proses interview. Dari Human Resources Manager, psycho test, Human Resources Director, Director dari departemen yang anda lamar dan terakhir dengan General Manager.

Dari ribuan pelamar yang tidak hanya dari Bali tetapi juga di daerah lain di Indonesia, syukur banget akhirnya saya keterima disalah satu departemen paling bergengsi di hotel tersebut sebagai assistant departemen head yang mengelola puluhan villa yang di sewakan US$600 per malam. Ini tentunya beda banget dengan kelas hotel di kuta yang harga kamarnya gak sampe sepertiganya. Kerja pun kerja keras banget yang dimana saking kerasnya tuntutan kerja disana sehingga pada waktu saya resign setelah mengabdi disana selama 4 tahun, hotel masih harus membayar sisa libur saya yang 53 hari tersebut. terdiri dari cuti tahunan yang gak bisa diambil selama 3 tahun (jadi 3 tahun gak pernah cuti) serta jatah tanggal merah terhutang, yang setiap tanggalan merah saya selalu masuk untuk bekerja.

Menyambung paragraph pertama tulisan diatas, saya cukup kaget juga bahwa di tempat saya yang baru ini saya bertemu teman kampus saya yang sudah bekerja lebih dulu semenjak lulus kuliah di hotel bergengsi ini dan yang lebih kagetnya teman saya yang terkenal pintar ber IP tinggi ini menjadi anak buah saya dan berbeda 2 level di bawah saya.tidak hanya itu, ada kakak kelas atau senior saya di kampus yang masih menjadi staff juga walaupun tidak di departemen saya.

Apa yang salah dengan ini? Dari sisi manajemen hotel ini system perekrutannya yang salah atau kebijakannya dalam pengembangan karyawannya yang salah?

Silakan koment dulu dan saya akan bahas lagi di bagian ke dua tentang cerita nyata ini.

Leave a comment ?

37 Comments.

  1. Setuju Bro… IP tinggi di kampus ngga jaminan. Karena IP tinggi merupakan gabungan dari belajar mati-matian, kemampuan memahami dan mengingat materi yang diajarkan dan kemampuan ‘pendekatan’ ke dosen. Kalo di dunia kerja… prestasi merupakan gabungan keahlian bekerja, ‘pendekatan’ yang proporsional dan HOKI…

    anderson’s postingan di blognya..Orang Marketing Tanpa Jiwa Marketing

    Reply

  2. mmg mas, prestasi di bangku sekolah tidak slalu berbanding lurus dengan prestasi di alam nyata..

    Nyante Aza Lae’s postingan di blognya..Ikhlas

    Reply

  3. pertama aku salut ama kamu…..
    walau Ip yang kata kamu paspasan namun di tempatkan diatas teman kamu yang IPKnya lebih dari kamu..kalau menurut saya itulah nasib….kadang kita tak tahu akan kemana sebab kita hanya berencana tapi tuhanlah yang menentukan…
    aq mau nanya emang disana kerjanya apaan katanya berat bangat ampe banyak kali yang kluar….???

    iwan’s postingan di blognya..Bangsaku Terkena Kanker Ketika Sikaya dan Simiskin Mencuri

    Reply

    boyindra Reply:

    garis besarnya sih kerjaan yg harusnya 2 orang dikerjain 1 orang dan lembur bisa 2jam tiap harinya..normal 9 jam kerja jadi 12 jam makanya banyak yang rontok.

    Reply

  4. Tebakan saya pada cerita ke dua..mas Boyin pasti cerita kalo IP tinggi itu tidak menjamin langsung sukses di dunia kerja……yah..boleh dikatakan bahwa IP itu bukan satu-satunya alasan untuk tidak sukses di dunia kerja..
    Betul ga’ neh…. :em63:

    Reply

    boyindra Reply:

    hahha..salah..makanya nantikan bagian ke dua yah…

    Reply

  5. Sabar ya mas !!!

    mas masih beruntung punya pekerjaan,banyak orang diluar sana yang butuh pekerjaan !!! :em48:

    !!!!!!!! TUKERAN LINK !!!!!!!!!

    nelson’s postingan di blognya..TIDAK SAHUR "COBAAN PUASA"

    Reply

    boyindra Reply:

    ntar deh tak pasang yah

    Reply

  6. ga ada yg salah … mungkin karna faktor rejeki dan kinerja :em23:

    Reply

  7. intinya adalah semangat!
    🙂

    Reply

  8. Wah di sini Bocahbancar mendapatkan ilmu baru Maz..
    Yang bisa saya tangkap, meskipun Maz Boyin dulu di kampus ga bisa sampai mendapatkan IP yang wah, namun dalam praktek kerjanya maz Boyin benar benar tekun mulai dari bawah dan menerapkan sistem kerja keras, Mungkin beda lagi dengan mereka, mereka yang merasa pintar pasti berfikir kerjaannya akan enak enak saja, padahal itu tidak bisa melatih kerja keras mereka dan jadi seperti itulah, kariernya lambat,,
    Semoga ajah dech dsi samping IP yang tinggi Bocahbancar dalam prakteknya juga bisa seperti Maz Boyin..

    Salam Maz..Semangat sekali Bocahbancar setelah membaca potingan ini..

    bocahbancar’s postingan di blognya..TAKUT MENJADI PRESIDEN

    Reply

  9. saya kok pernah mendengar pendapat seorang pakar bahwa di tengah situasi yang makin kompetitif dalam lapangan kerja, kecerdasan intelektual semata bukan jadi jaminan utk meraih sukses, mas boyin, termasuk alam melamar kerja. masih ada faktor kecerdasan emosi, spiritual, dan sosial. nah, mas boyin saya yakin memenuhi kriteria itu sehingga akhirnya bisa bekerja dg jabatan dan gaji yang lumayan gedhe. *walah kok jadi sok tahu saya, haks, haks*

    sawali tuhusetya’s postingan di blognya..Politik, Demokrasi, dan Anarki

    Reply

  10. ya faktor IP juga bukan faktor utama sesorang diterima kerja, dan dosen saya seing bilang bahwa IP adalah bukian segala-galanya. yang penting sekarang adalah skill dan kemampuan, walaupun kadang IP juga dijadikan bahan pertimbangan 😉

    arifudin’s postingan di blognya..Adakah blogger instan?

    Reply

  11. Hmmm memang betul sekali IP tinggi belum tentu menjamin karir lebih lancar. Karena memang IP belum tentu mencerminkan kemampuan riil seseorang apalagi jika mereka berasal dari universitas yang gurem. Namun belum tentu juga, orang yang jabatannya lebih tinggi di pekerjaan kini berarti ia lebih cakap atau cerdas dari mereka yang berada di level yang lebih bawah.

    Jadinya bagaimana dong?? Yang jelas masing2 orang punya kelebihan dan kelemahan. Mungkin mereka dulu yang ber-IP lebih tinggi ataupun yang kini jabatannya berada di level yang lebih atas lebih dapat memanfaatkan kelebihannya pada sistem atau lingkungannya masing2 yang berbeda-beda. Yang lebih penting adalah bagaimana kita bisa memanfaatkan kelebihan kita masing2 di setiap sistem dan lingkungan serta jangan lupa dapat bersinergi dengan orang2 lain termasuk mereka yang berada di level2 lain guna menghasilkan kerjasama yang dapat menghasilkan hasil yang maksimal bagi organisasi tempat kerjanya tersebut…..

    Yari NK’s postingan di blognya..Ambil Coklatnya Buang Valentinenya!

    Reply

  12. Memang hrs seimbang antara IQ dan EQ. Biasanya yg EQ nya tinggi dlm karir lbh menonjol dibandingkan IQ nya tinggi. (tul ga sih) 🙂

    waw’s postingan di blognya..Selamat Hari Valentine

    Reply

  13. bung,, itu namanya cerdas.. 😉
    *lah, kamsudnya? 😛

    Billy K.’s postingan di blognya..comblang

    Reply

  14. blue datang,boz
    met valentine yap :em70: :em34: :em64:

    Reply

  15. <<merasa terhibur, karna ip ku dikit 🙁

    hamka’s postingan di blognya..Strategi Sukses Beraffiliasi Internet Marketing

    Reply

  16. saya ga pandai berspekulasi menebak2, kalau saya harus menakar kenapa bisa demikian Mungkin Faktor Kedekatan dengan PIhak Manajemen Hotel, dan Professionalitas individu yang tidak bisa ditakar dengan IP, tapi dengan tindakan alias Sikap.

    “hotel masih harus membayar sisa libur saya yang 53 hari tersebut” Ya ampun, ga kebayang deh! pengorbanan mereka-mereka yg kerja di HOtel, ckckck….

    Reply

  17. IP tinggi hanya merupakan modal…sedangkan kemampuan kerja dan pengalaman serta nasib kayaknya yang menjadi penentu.

    Dilihat dari tulisan, mas boyin tak hanya pandai, tapi bersahabat dan ramah, ini juga merupakan salah satu keahlianmu yang mungkin tak dimiliki orang lain.

    Semoga, Mas Boyin sukses dan makin sukses!

    Aling’s postingan di blognya..Manusia Pohon

    Reply

  18. Manajemen tidak hanya mempertimbangkan “long time loyality” tapi lebih pada dedikasi karyawan. Apa gunanya lamanya kerja jika tidak diimbangi dengan sumbangsih berarti selama bekerja. (anda bekerja keras, saat libur tetep masuk, hak cuti tak pernah diambil). Itu nilai plus anda dibanding temen ber-IP tinggi atau kakak angkatan anda.

    Dalam dunia kerja, apalagi bidang jasa pelayanan yang menyangkut manusia sebagai direct costumer (bengkel->bidang jasa dengan direct costumernya adl kendaraan), di mana direct interaction tidak dapat dihindari, kemampuan akademis (IP) doank gak akan berkutik. Kemampuan berkomunikasi, baik dengan bawahan-atasan-rekan dan konsumen (yang saya yakin anda memilikinya) menjadi kunci penting…!!!

    Manajemen menggunakan penilaian ini sebagai pertimbangan jenjang karier, sebagai motivasi bagi karyawan agar berdedikasi tinggi dan menunjukkan prestasi, karena lama waktu bekerja bukan jaminan aman bagi karier mereka….

    Ini ulasanku ajah bro…, tak tunggu postingan selanjutnya…
    Penasaran apakah ulasanmu sejalan/tidak….

    Prof.’s postingan di blognya..The New Single HIT "Boogie&Sherly"

    Reply

    boyindra Reply:

    bro sorry banget gak bisa comment di blog mu karena tampilan di kompi ku gelap banget dan pas dapet gak ada name/url buat pasang koment. tapi aku udah maen kesana kok.

    Reply

  19. Wekkk…..Avatarku buruak bana Bro….!!! he..he…

    Prof.’s postingan di blognya..The New Single HIT "Boogie&Sherly"

    Reply

  20. Sepertinya tergantung pada pengalaman dan prestasi kita ditempat sebelumnya. Temen2 lama itu mungkin tidak punya value added kalau masih berada di tempat itu, I think.. :em28:

    p u a k’s postingan di blognya..Kau salah puak.., dia bukan pengemis..

    Reply

  21. Lilih Prilian Ari Pranowo

    salam kenal. mampir ke blog aku ya. :em63:

    Reply

  22. bener, benget mas meskipun punya ipk tinggi, itu tidak selalu menjamin mendapatkan pekerjaan yang pas!
    kalo menurut saya yang menentukan seseorang itu punya karier yang bagus nanti pada saat bekerja adalah komunikasi dan kedisiplinan.
    salam kenal, mas.

    Reply

  23. Katanya, no.1 itu Attitude disusul no.2 Knowledge dan terakhir no.3 Skill. Knowledge bisa dipelajari, skill bisa dilatih, Attitude?

    Reply

  24. Yah itulah namanya sekolah cari nilai tinggi, tapi tak tahu cara menerapkannya.

    Coba bayangin aja ilmu management: “Doing thing through the other people” khan. Jadi penarapkanku sekarang di pacuan kuda: Mas Kris (kakak sekaligus dukun kudaku) kasih nomor, Zo kasih modal tiket, sedangkan aku manager yang tinggal telpon, “Mas kuda nomor piro?” … “Tks” (cukup telpon singkat, budget= 15cent de€), lalu telpon Zo (kalo ini telpon gratis) utk taruh nomer; Menang aku yang ngeruk hasilnya semua …

    Tapi semua bahagia karna jika aku telpon Mas Kris berarti aku masih hidup … Zo cukup ngasih aku 3€ untuk bisa beli parfum sendiri….

    Juliach’s postingan di blognya..KAWIN…ngak … Kawin … ngak …TOKEEEKKK!!!!

    Reply

  25. kerja dan sekolah memang beda mas, tapi kuncinya memang sama keikhlasan untuk selalu mengikuti jalannya program dan pekerjaan… dan kalo kerja lebih positip jika di tambahi dengan dedikasi dan kompetensi yang selalu bisa dikembangkan…

    suryaden’s postingan di blognya..NLP – Neuro Linguistic Programming

    Reply

  26. apes apes udah ip waktu kuliah jelek, kerja karirnya nggak naik naik..

    endar’s postingan di blognya..Kesibukan baru

    Reply

  27. hai bang boy, wah kalu aku dulu ipnya bagus, diatas 2.75 semua…IPK teakhir nyaris sempurna cma 2.98. tapi aku bangga, walai ipk ga 3 tp semua ga nyontek loh kalau ujian.. tp sekarang ipk segitu gada artinya, coz gw hanya jadi ibu rmh tngga saat ini

    Reply

    boyindra Reply:

    nomal kok. kalo perempuan di indo banyak banget yg berakhir jadi ibu RT. kakakku juga sama.

    Reply

  28. hehehe… saya jg kuliah dng IP pas2an…skrg juga punya ilmu pas2an jg hehehe…

    Lyla’s postingan di blognya..How to Apply Makeup for the Office

    Reply

  29. tiap orang rejekinya beda2 kali ya? ada yg rejekinya bagus di sekolahan (dapat nilai bagus terus), ada yg rejekinya bagus di pekerjaan (posisi bagus, gaji bagus…)

    krismariana’s postingan di blognya..

    Reply

  30. Perkembangan Klasifikasi hotel berbintang | Boyindra's Weblog - pingback on June 2, 2009 at 10:08 am
  31. :em55: selain IQ kita memang harus selalu senantiasa melatih EQ dan SQ, softskill dan yang terakhirf faktor X. semoga yang sudah berbagi di si bisa mengembangkan keempat-empatnya 🙂 salam! :em33:
    .-= nengratna´s last blog ..Muda Bicara =-.

    Reply

  32. terimakasih atas infonya gan

    Reply

Leave a Comment


NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

Trackbacks and Pingbacks: