Belajar dari Philipino

Semenjak bekerja di luar yang dimana tempatnya tidak terlalu multi kultural seperti di dubai misalnya, pilihan dalam mencari teman tentunya sedikit terbatas. Untuk pertama kali tentu saja kita mencari informasi tentang teman sebangsa terlebih dahulu setelah itu alternatif lainnya yaitu kira kira yang agak nyambung dengan kita kalau diajak ngobrol, memiliki sedikit kesamaan tentang kultur, budaya, serta kebiasaan sehari hari.

Philipino atau orang dari philipina lumayan banyak beredar disini, sebenarnya sudah lama saya mengenal orang philipin ini sejak di kapal pesiar 10 tahun yang lalu. Saking banyaknya mereka itu sampai dari 1200 staff di dalam kapal itu 20% nya adalah mereka dan mempunyai kantin khusus untuk mereka sendiri. Tapi itu di laut bagaimana di darat?

tetap saja peredaran mereka lebih banyak daripada bangsa kita, bagaikan orang Padang yang menguasai restorant nasi padang di Indonesia, Philipino disini menguasai hampir seluruh pub, cafe, casino serta hotel hotel diseluruh Vietnam dan Kamboja, sebagai musisi tentunya. Kondisi ini mirip di Jakarta atau Bali tahun 90-an (sekarang pun masih banyak grup musik dari Philipin di Indonesia). Salah satu alasannya cuman satu, mereka menguasai bahasa inggris.

Bukan faktor bahasa inggris saja yang menjadikan mereka makin banyak di negara negara luar tetapi kebiasaan unik lain adalah  mirip dengan urbanisasi di Indonesia yang dari daerah ke Jakarta. Contohnya satu orang merantau ke luar lalu mereka pun mengajak anggota keluarganya untuk pindah, satu per satu. Kadang proses ini butuh waktu untuk satu keluarga berkumpul atau hijrah semua di negara bersangkutan bisa antara 2 sampai 15 tahun. 15 Tahun? iya anda gak salah baca, 15 tahun.

Teman saya pemain band disini merasa sangat bahagia pada akhirnya bisa berkumpul dengan 2 anaknya yang telah berpisah selama 15 tahun. Suami istri ini berada dalam satu band dan berkeliling dunia dengan grupnya dari satu hotel ke hotel lain, cafe ke cafe lain untuk menghidupi keluarga dan anak mereka di philipina.

Lain lagi seorang sahabat seprofesi yang juga gak pernah bertemu anaknya selama 5 tahun atau cerita lainnya yang berawal dari seorang ibu yang bekerja karena diajak bekerja di salah satu TK Internasional dan enam bulan kemudian anak tertuanya menyusul untuk bekerja dan akhirnya satu persatu sampai 2 tahun komplitlah satu keluarga itu. Saya cukup mengenal keluarga itu karena sering diajak karaoke oleh mereka.

Dari segi marketing, orang philipin ini cukup pintar memanfaatkan peluang. Mereka menyasar negara negara yang belum maju dan mencoba mencari peruntungan disana, tidak perduli jabatan apa untuk pertama kalinya dan berapa gajinya tapi rata rata banyak yang sukses dari usaha itu. Hal ini sebenarnya sama saja seperti mengapa banyak orang orang bule di negara berkembang, selain mereka menguasai teknologinya juga karena persaingan yang demikian ketat di negeri mereka. Sedangkan untuk bangsa kita lebih banyak pindah ke negara yang lebih “downgrade” karena tawaran untuk menjadi manager atau pimpinan perusahaan. selain itu mungkin mikir mikir dulu.

Jujur saja, saya pun tidak pernah bermimpi bisa hidup di negara yang seperti Indonesia ditahun 80-90an yang dimana masih banyak motor butut serta sepeda kumbang berkeliaran. Tetapi dilihat dari segi peluang banyak hal yang bisa didapatkan disini tentunya dengan penghasilan yang lebih dari pada di Indonesia. Mereka banyak membutuhkan tenaga kerja dari sektor sektor seperti telekomunikasi, IT, Factory, serta Pariwisata tentunya.

Kenapa gak kita mulai merubah paradigma berpikir kita bahwa bangsa kita bisa maju dan menguasai sektor sektor yang memerlukan tenaga ahli dengan bekerja di negara yang belum semaju Indonesia. Karena kebanyakan, kalo enggak bersaing habis habisan di negeri sendiri untuk memperebutkan lapangan kerja yang sedikit kita juga sering mendambakan bekerja di negara yang lebih maju seperti Amerika, Eropa dan lain sebagainya.

“Biarin karyawan biasa, gak apa apa deh!, yang penting judulnya Amerika”  begitu yang saya sering dengar.

Jika berminat untuk mencari peluang di tengah kerasnya persaingan di negeri kita ada baiknya mencoba alamat ini untuk yang di Kamboja dan yang ini untuk yang di vietnam. Karena masih sesama ASEAN jadi tidak terlalu sulit untuk mengurus VISA dan keperluan lainnya.

Seperti halnya pemikiran saya mengenai es tebu, semoga ide sederhana ini bisa merubah sedikit jalan keluar untuk rekan rekan dalam mencari lapangan pekerjaan yang lebih baik tentunya.

Leave a comment ?

12 Comments.

  1. gak sanggupnya merantau itu, karena di negeri sendiri terlalu banyak tukang parut kelapa. sewaktu mudik, bagi dong hasil rantauan nya.

    kita gak kepingin perantau indonesia seperti orang china merantau, bawa semua keluarga, gak pulang-pulang dan akhirnya lupa ma kampung halaman.

    Para guru dan dosen di indonesia perlu ditatar ulang, supaya jangan mengajar anak didiknya mencari kerja, tapi mengajarkan berwirausaha, kurang lebih begitu curhat saya kali ini :em20:

    Wempi’s postingan di blognya..Frame Photo tuk Logo & FootNote

    Reply

  2. Seo Indonesia Review Kontes

    Halo Sore… Numpang lewat dulu… Saya mengundang Anda untuk mengikuti Review Kontes…. Maaf kalau komentar tidak sesuai dengan postingan…
    Salam.

    Reply

  3. Kenapa kita belajar dari Budaya Sendiri budaya dulu 😀 enggak kala juga kok

    Reply

    boyindra Reply:

    Inti dari cerita ini sebenarnya untuk menyadarkan profesional profesional bangsa kita bahwa di negara lain banyak yang siap menampung keahlian yang kita miliki dan sanggup membayar serta memberi jabatan lebih di banding di negara kita sendiri.Tentunya resiko ini kadang harus di bayar dengan berpisah sementara dengan keluarga, dsb.

    Reply

  4. Thanks mas ceritanya, bisa menjadi inspirasi bagi saya…

    anton’s postingan di blognya..Validate Blog in Google Webmaster Tools

    Reply

  5. dai sisi sumber daya, bangsa kita sebenarnya bisa bersaing, bahkan setingkat lebih maju dengan negeri jiran kita, mas boyin. namun, entah kenapa juga hingga saat ini bangsa kita makin tersaruk-saruk di berbagai sektor, padahal negeri jiran kita sudah melunucr mulus di atas jalaon teol peradaban dunia. semoga saja beberapa tahun lagi bangsa kita menjaid bangsa yang maju dan disegani.

    sawali tuhusetya’s postingan di blognya..Temu Forum Komunikasi Fasilitator PUG Bidang Pendidikan

    Reply

    boyindra Reply:

    Itulah pak, bangsa kita terutama para profesional muda harus berani merantau/menyebar agar dunia minimal di asean dulu lah tahu kemampuan bangsa kita.sehingga dari sana kita bisa lebih menyebar dan bersaing di negara maju. memang sekali lagi harus dibayar dengan mengorbankan kenyamanan di negeri sendiri.

    Reply

  6. Mungkin memang perlu digalakkan bahwa bekerja bisa dimana saja…

    edratna’s postingan di blognya..“Akrobat”

    Reply

    boyin Reply:

    Ngumpul gak ngumpul mangan/makan. Lagian khan untuk sementara aja.

    Reply

  7. saya pernah di philipina sana.. emang hebat… banya kdirekrut sama asing gara2 mereka lebih menguasai english.. yah bahasa pengantarnya..
    kalo yg lain2 sih, bagi saya relatif sama lah.. memang ada pekerja keras, tapi yah sama aja 😀

    aRuL’s postingan di blognya..Tour de Sulawesi (4) : Keindahan alam Tinombo

    Reply

Leave a Comment


NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>