Panduan singkat Lulus CHA

CHA1CHA atau singkatan dari Certified Hotel Administrator adalah suatu title bergengsi di Kalangan General Manager di Industry perhotelan. Semua GM di industry perhotelan tidak harus menempuh pendidikan ini tapi trend akhir akhir ini marak menimbulkan antusiasme di kalangan para GM untuk mendapatkan title ini. Sayangnya karena sampai sekarang informasi ini terkesan seperti di sembunyikan bahkan data untuk tingkat kelulusan nya juga banyak yang disembunyikan atau tidak terpublikasi.

Dari hasil kong kow dan melakukan tanya sana sini (bukan tanya jawab) ternyata banyak GM yang sudah melakukan sertifikasi ini dan ternyata banyak juga yang tidak lulus. Walaupun diberi kesempatan melakukan “retake” tetapi justru peluang lulus nya malah semakin kecil.

Untuk itu saya ingin berbagi pengalaman dalam bentuk panduan karena banyak GM yang lulus tidak secara terbuka memberi tahu rahasia bagaimana mereka bisa lulus ditengah banyaknya para GM yang tidak lulus dan bahkan tidak tahu apa apa mengenai proses ujian CHA ini.

Di Indonesia kebanyakan CHA nya lulusan dari AHLEI atau AMERICAN HOTEL & LODGING EDUCATIONAL INSTITUTE yang bermarkas di Orlando, Florida sana. Nah untuk itu mari kita lihat persiapannya sebagai berikut,

Read more »

Makin tinggi makin sepi

Ini cuman buat sharing aja untuk urusan karir di dunia perhotelan..inget lho perhotelan, kalo setuju silakan di cermati, kalo tidak setuju silakan dijadikan sekedar bahan bacaan, jika belum melewatinya ya jadikan saja referensi, siapa tahu saya ngomongnya bener…haaa..

R&F

Jika kita meniti karir dari level bawah anggap aja dari R&F (rank and file) alias staff, kehidupan kebanyakan dihadapi bersama sama, entah cukup dengan 2 orang sahabat saja ataupun banyak teman. Bujangan atau sudah menikah tidak banyak persoalan, jam kerja selesai langsung pulang….tekanan kerja seketika menghilang. Waktu bisa di alokasikan untuk bersama teman, keluarga, hobi dan yang paling sering menyita waktu adalah ngomongin pekerjaan atau atasan, entah kebijakannya, entah tingkah laku nya, ataupun kehidupan prbadinya.

SUPERVISOR/ CREW LEADER

Ketika menjadi Supervisor, tanggung jawab meningkat tapi masih bisa kongkow dengan staff yang notabene masih teman seperjuangan, Jika ada beban kerja tinggal di hand over atau dialihkan ke supervisor yang lainnya dan blass! Kita balik ke kehidupan normal kita lainnya. Yang suka nongkrong bareng teman bisa langsung menghubungi temannya, yang punya bisnis sampingan bisa mengerjakan bisnisnya, yang punya urusan rutin keluarga seperti nganter ortu, anak, istri bisa langsung dilakukan.

MANAGER

Nah yang ini udah mulai banyak yang diurusin, udah mulai sering kena tekanan atasan atas pencapain target pekerjaan dan evaluasi hasilnya. Suka deg deg an apakah akan diperpanjang kontraknya apa nggak, jika dirasa nggak click atau sehati sama atasan maka 6 bulan menjelang kontrak kerja habis, mulai cari cari lowongan di internet atau hubungi teman teman lama. Jika hidupnya baik baik saja masih bisa main bareng sama staff ataupun supervisornya. Nongkrong di cafe, mancing bareng atau sepedaan pas hari OFF.

GENERAL MANAGER (GM)

Menjadi GM di sebuah hotel mirip mengelola kota kecil, minimal ada 7 departemen yang diurusin dari Housekeeping, Front Office, Finance, Human Resources, Sales & Marketing, Enginering, F&B Service yang meliputi GYM & SPA didalamnya dan F&B product / Kitchen. Kalo gak sebesar itu hotelnya ya mumetnya masih beda beda tipis lah. Dalam posisi ini akrab dengan staff bisa disalah artikan, jangan kan staff, dengan Manager aja bisa dianggap satu gank. Penilaian “LIKE” dan “DISLIKE” akan jadi pertimbangan yang sangat subyektif dimata para pegawai apapun jabatannya.

Anda ingin jadi GM yang ideal dan bagus di mata para staff anda? Ingat tidak ada yang bisa anda puaskan. Semua punya penilaian masing masing, makanya banyak GM Bule yang lebih memilih bergaul di luar hotel dan mencari komunitasnya sendiri. Hal ini sekarang sudah menjadi fenomena pula untuk GM Lokal, makanya berdirilah asosiasi asosiasi seperti IHGM, IHGMA, dsb. Tetapi bergaul atau bersosialisasi itu khan nggak bisa setiap hari seperti apa yang staff lakukan di kantin hotel, loker, atau pun di luar hotel.

Lebih dari 14 jam GM habiskan bekerja di hotel. Yang “IN HOUSE” alias tinggal didalam ya artinya stand by 24 jam. Tidak ada pekerjaan yang bisa dilempar, semua harus diselesaikan sendiri bagaimanapun caranya. Mengelola keuangan sangat menentukan apakah karyawan anda bisa gajian bulan ini apa tidak, apakah cukup dana untuk THR misalnya?

Ibarat pohon cemara di pegunungan, anginnya keras dan kesepian di puncak gunung. Komplit lah sudah. Saya tidak tahu apakah perusahaan besar dengan bisnis model yang berbeda mengalami itu, tapi saya yakin tidak terlalu banyak berbeda. perbankan, FMCG, dll akan tetap sama, karena basic nya sama Manajemen.

 

Pentingnya Feasibility Study sebelum membangun Hotel

karikatur hotelSebenarnya semua orang juga tahu kalo gak cuman bisnis hotel tapi semua bisnis juga perlu bikin FS ini atau kepanjangannya Feasibility Study alias Study kelayakan. Tapi boleh ditanya , dilapangan banyak sekali owner atau pemiik perusahaan langsung aja membangun Hotelnya tanpa mikir panjang. Yang mau menggunakan hotel operator atau Hotel Chain langsung menghubungi mereka, tanya tanya harga, komisi atau fee nya jika menggunakan Hotel Chain tersebut ujung ujung nya apa? di Boongin oleh hotel operator tersebut. Di bilang prospeknya bagus lah, menjanjikan lah, dsb dsb.

Yang lebih parah lagi Owner yang mau hotelnya dibangun lokal alias tidak menggunakan Brand dari Hotel Operator tersebut dengan alasan ke pede an bisa mengelola sendiri karena menghindari kewajiban membayar Fee ke Hotel Operator, menghindari pajak dan berpikir..ah gampang tinggal nyogok petugas pajaknya aja untuk menghindari kewajiban pembayaran PB1, PPH21 boro boro PPH23, BPJS tenagakerja, BPJS kesehatan, dll…dll.

Hal hal diatas akhirnya berbuah maut, seperti yang terjadi sekarang ini Di Bali..gimana mau bisnis bagus kalo Hotelnya lebih banyak kamarnya  ketimbang wisatawan nya? Ditenggarai di Bali ini ada lebih dari 72 juta kamar yang tersedia atau bahasa spesifiknya Room Night (RN) dalam setahun sedangkan jumlah wisatawannya hanya 8 Juta? Cara menghitungnya mudah saja, RN dihitung banyaknya kamar tersedia dikali banyaknya hari dalam sebulan? setahun? itulah potential kamar yang bisa dijual. Jika mau dihitung orangnya, rata rata dalam satu kamar itu diisi 2 orang atau disebut double occupancy. Jika ada 8 juta wisatawan ya kira kira mereka hanya butuh 4 juta RN saja.

Di dalam FS banyak sekali komponen yang bisa terang benderang dijelaskan apakah sang pemilik modal akan menginvestasikan uangnya di industry perhotelan tersebut, karena sifat dari bisnis Hotel yang lebih ke Jangka Panjang, jika owner mencari konsultan FS yang independent (tidak dari Hotel Operator/Chain), trus pakai pesen gini lagi…”Mas…bikinkan FS ya..jelek apa bagus njenengan tetap saya bayar”. Nah itu akan lebih bagus lagi hasilnya…heee..

Komponen FS sendiri terdiri dari macam macam hitungan, dari ilustrasi Rugi Laba, ilustrasi potensial bisnis yang akan dicapai, skema bunga kalo si owner pinjem uang di bank, informasi biaya investasi dan berapa yang kudu dikeluarkan, penetrasi pasar dari hotel hotel pesaing di sekitar hotel yang akan di bangun sampai ke kesimpulan besaran NPV (Net Present Value) dan IRR (Internal Rate of Return).

Bayar orang untuk bikin FS juga nggak mahal mahal amat, tapi tidak membuat si pengusaha menyesal dikemudian hari karena bikin hotel sekarang ini sudah ngomongin ratusan milliar rupiah apakah ini bisa dikategorikan investasi main main?

Ps. Buat yang kenal pengusaha yang mau dibikinkan FS, bisa menghubungi saya ya..heee…

*Gambar diambil dari google di tourism-watch.de

 

Salah satu faktor Hoki untuk Sukses

Di dunia kerja, banyak cara untuk menggapai karir yang diinginkan. Tentunya semua orang ingin karir sampai di puncak, tapi namanya juga puncak, tidak semua orang sampai di puncak.

Di postingan sebelumnya untuk naik dengan cepat biasanya adalah berpindah pindah pekerjaan, cara ini memang efektif tetapi tentunya banyak pengorbanan yang dilakukan, diantaranya terpisah dengan keluarga dan sanak saudara. Ekses negatif nya adalah terancamnya perkawinan karena kurangnya pemenuhan kebutuhan biologis dan lunturnya kesetiaan.

Di era sekarang ini, dalam perekrutan bagian personalia mempunya kriteria yang sangat ketat diantaranya adalah track record anda jika sering berpindah pindah pekerjaan, sesi interview saja tidak cukup walaupun anda sudah memberikan citra yang baik kepada penguji atau interviewer dalam sesi wawancara, segala jurus mulai cara berpakaian, bersikap, product knowledge sampai cara anda spelling bahasa inggris dibuat sekeren mungkin. Hal yang membuat anda gugur adalah preference dari pekerjaan sebelumnya, minimal perusahaan besar meminta 4 nama yang bisa di kontak untuk ditanyai bagaimana kinerja anda di tempat kerja terdahulu. Jika satu saja mencurigakan, nah..bisa dilihat hasilnya, anda pasti masuk kotak alias gugur.

Dari beberapa pengamatan sampai kurang lebih 19 tahun saya mengamati kenapa orang sukses menuju puncak karir sedangkan yang lain tidak, diantaranya yaitu:

1. Fokus

Keliatan fokus dan serius pada saat bekerja menimbulkan citra positif, apalagi kalo anda tidak dikenal sedang bekerja tetapi dikenal oleh teman teman punya bisnis sampingan yang lain misalnya: jualan kartu kredit, asuransi, MLM, dagang online,dsb. Hal ini cepat menjadi gosip dan merusak penilain objektif tentang anda apalagi jika atasan anda lebih miskin daripada anda…ehmm..selamat deh, anda gak akan kemana mana.

2. Nurut

Kalo punya karyawan manut dan nurut, Hoki nya memang besar dibandingkan kritis dan cerdas, ini fakta. Saya gak tau apakah ini berlaku di perusahaan teknologi atau pengembangan sofware.

3. Rela di zolimi

Tragis judulnya ya..haaa..nggak maksudnya anak yang suka disuruh sana sini seperti gantiin shift teman yang gak enak, kerjaan extra dibebankan kepada anda, dilimpahkan target sulit dan ditinggal team, itu adalah situasi yang sulit dan menjengkelkan. Tahan…lakukan saja dan berdoa semoga tanpa mereka anda bisa menyelesaikannya. Setelah selesai biasanya karma baik akan menghampiri, entah tawaran pekerjaan lain dengan gaji yang lebih baik, pindah divisi atau keajaiban lainnya tiba tiba datang. Coba saja, buktikan.

Kalo digabung jadi satu intinya hanya satu kata “IKLAS” yah seperti itulah. Tapi iklas juga bisa dibikin dengan sadar akan tulisan ini, mudah mudahan anda bisa tersadarkan. Ini ilmu 19 tahun saya, udah pasti manjur, bukan buat saya aja tapi temen temen saya yang se level gaya nya mirip mirip semua.

Nah buat yang sudah terlanjur punya citra diluar ke tiga ini, saya sarankan memulai kehidupan baru dengan pindah kerja baru dan bentuk citra positif anda mulai sekarang. Belum ada kata terlambat.

 

Gaji Expat di patok di Kurs Rp.12.000

Baru mendapatkan informasi bahwa dalam rangka menolong pihak pengusaha yang kebetulan mempunyai karyawan expat yang digaji dalam mata uang US dollar, maka mulai bulan Oktober ini pemerintah mengeluarkan peraturan yang dimana expat yang bekerja di Indonesia akan mendapatkan gaji dalam bentuk rupiah dengan kurs yang dipatok sebesar Rp.12.000.

Hal ini tentunya merupakan kebijakan pemerintah yang berpihak kepada pengusaha lokal karena speerti yang kita tahu bahwa Gaji adalah komponen terbesar dalam biaya yang harus dibayarkan perusahaan selain biaya energi seperti listrik dan air. Kalau kurs dollarnya gak karuan seperti ini tentunya banyak pengusaha yang mengeluh. Bahkan ada beberapa perusahaan yang menurun produktifitasnya dikarenakan gaji beberapa manager lokal kalah dengan anak buahnya yang expat gara gara selisih kurs yang menggila ini. Kalo awal awal kerja masih dikisaran Rp.10.000 si boss masih tinggi gajinya , nah semenjak kurs sampai RP.14.500 eh malah gajinya dengan anak buahnya yang expat malah sama dan cenderung lebih tinggi…haaa…jelas gak semangat lah kerjanya.

Namanya juga kebijakan banyak yang gak tau, makanya kalo ada rekan rekan yang bekerja dengan menggunakan tenaga expat mudah mudahan bisa terbantu dengan informasi ini. Terus terang saya sendiri juga belum lihat secara langsung surat dari Permen(peraturan menteri) tenaga kerja ini. Tetapi daripada nungguin Permen nya mendingan rekan rekan cari tau sendiri karena memang belum ada yang mengunggahnya di internet.

 

Jaman anak Millenials atau Gen Y

Mengelola sebuah hotel dan bertanggung jawab penuh atas operasional serta hidup mati gajiannya para karyawan ternyata sangat menyita waktu,  sehingga kegemaran akan menulis sudah hampir terlupakan. Hanya saja sarana menulis ini sedikit membantu sebagai sarana curcol alias curhat colongan.

Booming nya industri perhotelan memaksa pihak human resources sulit dan kelimpungan untuk mencari pegawai pegawai yang handal tentunya karena supply tidak sebanding dengan demand atau permintaan, sehingga banyak sekali hotelier karbitan yang dimana banyak yang bukan merupakan lulusan pariwisata maupun perhotelan. Dengan sedikit polesan training yang intensive maka diharapkan hotelier ini bisa mengikuti ritme kerja di hotel. Soal mentalitas menjadi seorang Hotelier yang baik…wah ini takes time!

Jaman Millenials ini atau lebih gampangnya anak anak yang lahir kurang dari 30 tahun yang lalu atau yang baru kuliah di awal awal tahun 2000-an memang memerlukan perlakuan yang berbeda. Jika banyak mempunyai karyawan dengan tipe ini alias berumur 30 kebawah maka karateristik dari model anak macam ini yang patut kita ketahui adalah;

1. Mereka hidup berdampingan dengan teknology alias rata rata anak anak ini jauh dari gaptek lah, diajarin system hotel apalagi memodifikasi photo sederhana rata rata pada bisa. Social media, cari tiket murah barang bagus mereka banget lah.

2. Suka gaya yang berbeda atau membuat differensiasi dalam pekerjaannya, bagus sih kita bisa dapat staff yang kreatif.

3. Percaya diri, punya kriteria karir yang tinggi, pingin cepet naik karir gaji tinggi makanya anak anak ini banyak pingin tau nya dan banyak belajar.

4. Kekuranganya mereka ini saking banyak yang di mau sehingga kurang fokus walau banyak juga yang serius, pondasi knowledge apalagi mental belum siap sudah suka resign atau berhenti pekerjaan cari kerja yang lain atau loncat loncat perusahaan.

5. Sangat susah untuk puas untuk anak anak yang lahir di jaman ini. Alias banyak keinginannya.

6. Yang terakhir adalah yang menonjol adalah “it’s all about me” ya gitu deh, pokoke gue

Kudu pinter pinter untuk mengatur dan mengarahkan anak anak jaman sekarang agar produktifitas perusahaan bisa terus maju karena mereka sebenarnya bisa mewujudkannya, salah salah anda yang lemot alias lambat bisa jadi pemilik perusahaaan bisa memberikan peluang untuk menggantikan anda. Kasian padahal anda jauh berpengalaman dibanding anak anak ini yang memberikan impresi di depan dan sifatnya sesaat doank apalagi jika itu berkaitan dengan leadership management. Lain halnya kalo teknologi ya, mereka jago nya.

Banyak banyaklah untuk melemparkan ide dan menerima masukan masukan mereka, jika itu sesuai, berikan kebebasan berkreasi dengan controling system yang anda kuasai tentunya akan sangat efektif untuk perusahaan.

Siap siap balapan pulang malam ama mereka, khan mereka gak ada yang nungguin di rumah…haaa…

 

 

Terobsesi setiap hari

wavesPernahkan anda mempunyai keinginan akan sesuatu dan memikirkannya setiap hari? berapa lama secara konsisten anda memikirkannya? misalnya anda putus dengan pacar yang anda sayangi dan memikirkan sakit hatinya setiap hari….tetapi sampai berapa lama hal itu selalu mengganggu pikiran anda? 30 hari…90 hari..? atau sebagai MLMers yang biasanya sangat terobsesi dengan kekayaan dan peningkatan pendapatan dari peringkatnya saat ini…apakah anda memikirkannya setiap hari? hari demi hari? berapa lama?

Dari keterbatasan pengetahuan yang saya tahu, terobsesi bisa menjadi baik atau malah menjadi buruk…seluruh pemuka agama maupun pakar motivasi pun selalu menyarankan jika kita sudah berusaha maka rasa pasrah dan syukur harus menjadi pendamping atas apa yang sudah kita upayakan.

Tetapi kenyataannya tidak semudah teori diatas. Membuat diri kita pasrah atau memasrahkan diri dari apa yang kita upayakan tidaklah mudah, apalagi dilakukan secara sadar. Pasrah buat saya adalah kondisi bila kita tidak lagi punya kekuatan atau bargaining position lagi atas upaya kita….dan jrengg…tiba tiba pintu itu terbuka, semua tiba tiba menjadi mudah, apa yang kita prediksi jauh dari kenyataannya dan kita disadarkan atas kejadian kejadian yang dasyat yang diluar pikiran kita.

Pada awalnya terobsesi adalah awal untuk menentukan LOA atau bahasa kerennya Law of Attraction atas apa yang kita pikirkan/inginkan. Pikiran mengirimkan sinyal ke alam semesta agar kita bisa menarik apa yang kita inginkan tersebut sebagai contohnya mencari pekerjaan baru. Tetapi jika sampai terobsesi dan memikirkannya hari demi hari, itu sama saja jauh dari sikap pasrah karena besar kemungkinan pikiran mengelana kemana mana, liar tak terkendali untuk memikirkan berbagai kemungkinan kemungkinan di masa depan……padahal kita bukan dukun…heee…

Jika anda pernah mengalami hal tersebut diatas maka saya sebagai orang yang juga pernah merasakan hal tersebut diatas hanya bisa memberikan saran bahwa apa yang terjadi dan apapun hasilnya sudah menjadi “Takdir” kita…kita tidak bisa berpura pura menjadi si A yang easy going atau si B yang cuek atau juga si C yang selalu bersyukur dan beruntung…kita adalah kita dan apapun teori yang kita dapatkan untuk menjadi pribadi yang ideal seperti yang ada di buku tetap faktor “X” sangat menentukan. Faktor X ini saya percayai sebagai suratan takdir.

Pasti banyak yang pro kontra mengenai pendapat ini…terlepas dari apapun pendapat rekan rekan…kebahagiaan merupakan hal yang utama dan akan lebih bijak jika kita mencarinya kedalam diri…

Remodeling Business dalam dunia TV (New Economy)

Minggu lalu di hari yang saya lupa, saya kebetulan bisa pulang cepat dari kantor sehingga waktu senggang tersebut tentu saja dilakukan dengan bercengkrama bersama keluarga. Sehabis makan bersama, kami pun menonton TV, istri saya senang sekali dengan acara campur campur di antv demikian juga YKS di trans karena menurutnya acara tersebut lucu dan sangat menghibur.

Read more »

Ikut roadshow ke China dengan Dinas Budpar DKI

Harbin Beer

Beberapa waktu yang lalu, saya sempet bersyukur bahwa akhirnya hotel kami dapat jatah untuk ikut roadshow ke negara China dengan gratis ke 3 kota. Maklum perhelatan ini adalah perhelatan tahunan untuk memperkenalkan Jakarta di Negara China. Dari ratusan hotel di Jakarta, hanya 9 hotel yang ikut serta, selebihnya adalah kebanyakan dari rombongan musikal dan penari betawi.

Tujuan dari roadshow ini tentu saja tidak lain dan tidak bukan untuk memperkenalkan budaya betawi dan mengundang turis China untuk ke Jakarta, tak kurang dari 150 buyers dalam setiap kota yang datang disuguhi tari tarian dan budaya betawi serta lagu dan musikalnya.

Kota yang di singgahi untuk tahun ini adalah kota Guangzhou yang terkenal dengan pusat perdagangannya, kalo mau shopping dengan harga murah terutama tas ada disini, karena ada gedung sekelas ITC yang dari lantai 1 sampai lantai 4 isinya jual tas aja…heee…puyeng milihnya.

Kota yang kedua adalah Harbin. Harbin ini letaknya diatas banget, hampir berbatasan dengan Rusia, jaraknya kurang dari 600km dari Rusia, jadi musim panas aja sejuk kayak di puncak kalo musim dingin bulan Desember keatas bisa mencapai -37C…lebih dingin dari freeser kulkas.

Makanya selalu ada festival pahatan es tahunan pada musim tersebut dan di sepanjang jalan orang orang meletakkannya di jalanan tanpa takut es mereka mencair…..duh pinginnya kesana musim dingin tapi apa kuat ya?? Barang barang souvenir didominasi oleh barang Rusia, dari Vodka (ehmm….), coklat sampai boneka matouschka….murah murah dan pasti kalap mborong deh. Minum beer disana juga super seger…bisa merem melek..heee karena alkoholnya rendah juga..hanya 3,7%.

Kota ketiga adalah Hanzhou. Sayang terus terang saya tidak mengikuti di kota ke tiga itu karena panggilan tugas membuat saya harus pulang lebih dulu dari rombongan. Tapi kesan yang didapat dari berkunjung beberapa hari di China adalah pembangunan kota yang luar biasa, masterplannya hebat dan orang orangnya juga hebat.

Kalo kebanyakan nonton TV di Indonesia, jadi miris, kapan kita bisa bangkit seperti mereka ya..? Atau kita migrasi aja deh…heee…seperti yang dilakukan saudara saudara kita di perbatasan Malaysia…Ayo teman teman belajar bahasa inggris yang giat ya…maap..guyon ya…

 

Wedding di Australia

Juni lalu saya dan sekeluarga menghadiri adik ipar ke sydney, Australia karena adik ipar menikah dengan orang sana (Australia citizen). Tentunya ini menjadi alasan yang baik sekalian berlibur. Tetapi karena jadwal saya yang lumayan padat karena di minggu yang sama saya harus berangkat tugas ke China menjadikan liburan ini menjadi yang tersingkat sepanjang sejarah kami. 4 malam saja…ya 4 malam saja…hiks…

Saking seringnya saya menghandle perhelatan wedding di Indonesia, baik berkebangsaan Indonesia atau Luar negeri maupun campuran, wedding ceremony dan celebrationnya a la Australia tergolong menarik dan mengaggumkan. Menarik karena proses ceremony yang a la gereja itu diselenggarakan di tempat pernikahan khusus yang berbentuk rumah, sudah termasuk wedding chappel didalamnya dan tempat untuk jamuan makan malam sekala besar hingga 200pax dengan suasana rumah.

Mengagumkannya karena baru ini kali pertama saya menghadiri acara pernikahan dari mulai pukul 16.30 sore dan berakhir hingga pukul 22.00 malam dengan jumlah hadirin yang protol alias pulang duluan kurang dari 3%..ck..ck mengagumkan bagaimana mereka mengapresiasi sebuah pernikahan.

 

Beda dengan di Indonesia, dari ratusan wedding yang saya amati karena saya bekerja di sebuah hotel yang mempunyai wedding chapel dan ballroom, orang indonesia paling tahan datang ke acara perkawinan paling lama 2 jam….kalo di rata rata mungkin hanya 1 jam saja…itu pun jika sistem gaya weddingnya adalah Chinese Wedding alias makan meja dengan lazy susan atau meja putar yang menghidangkan makanan course per course. Walaupun makanan yang dihidangkan bisa sampai 12 macam jenis makanan tetapi banyak sekali orang Indonesia yang pulang lebih awal, entah karena kekenyangan atau memang budaya tidak betah menghadiri acara wedding yang lama. Jika model wedding yang disajikan adalah prasmanan atau model buffet, makan sambil berdiri maka rata rata yang menghadiri paling lama hanya 1 jam.

 

Dari analisa yang saya dapat rasanya kita sebagai orang Indonesia terlalu banyak mengirim undangan perkawinan, sehingga yang diundang bukan benar benar teman dekat atau keluarga dekat, malah ada yang hanya kenalan bapak, ibu, mertua yang tidak mempunyai kekerabatan/ hubungan yang tinggi sehingga bisa menghadiri acara sampai selesai. Budaya tidak tepat waktu alias jam karet karena alasan macet yang juga menjadikan alasan tersebut.

Mungkin bisa menjadi perrtimbangan buat rekan rekan blogger ya kalo banyaknya undangan tidak berkorelasi terhadap banyaknya angpao yang anda terima kecuali bapak anda seorang pejabat yang sedang menjabat saat itu unless gaya wedding kita dirubah seperti gaya wedding Vietnam….kapan kapan saya bahas…heee…